
Mendengar kabar dari Angkasa, Safira pun menyelesaikan sarapannya dan mengekori sang putra untuk menjenguk sang menantu.
"Mama mohon, Mama ikut masuk, Ya?" Pinta Safira yang sudah menangis pada Angkasa.
Sejenak Angkasa diam. "Iya, Ma. Mama masuk aja" Ucap Angkasa.
Setelah mendapat izin dari Angkasa, Safira pun segera masuk dan mendapati Aurora yang tengah menangis tersedu dibawah selimut.
"Lihatlah, El. Betapa tersiksanya aku melihat anak yang kamu titipkan ke kami terpuruk seperti ini. Ayo, El! Bantu kami menyembuhkan luka Aurora!" Batin Safira.
Bulir-bulir airmata yang sempat berhenti itu turun kembali. Beberapa hari ini, Safira memang tak melihat Aurora. Terakhir Aurora bertemu dengannya dan juga Aditya malah berakhir histeris. Aurora menangis histeris sampai pingsan.
"Nak? Ini Mama, Sayang" Lirih Safira takut-takut.
Aurora menghentikan tangisnya, Dia menoleh dan mendapati Safira yang tengah berdiri menatapnya sendu.
Tangisnya pun tak terelakkan, Bayang-bayang Arkhan dan Elena menari-nari dipikirannya lagi.
"Mama! Papa!" Sentak Aurora yang membuat Safira dan Angkasa terkejut.
"Sayang, Ini Mama! Mama Safira" Tukas Safira pelan.
Aurora bangun dan menekuk lututnya. Terpampang jelas raut ketakutan diwajah Aurora.
"Angkasa! Cepat panggil Papa dan Hana!" Sentak Safira.
Angkasa hendak melangkah, Namun pintu keburu dibuka dengan kasar oleh Aditya.
"Mama! Angkasa! Ada apa?" Tanya Aditya sembari berjalan masuk dan diikuti Gerhana dibelakangnya.
Gerhana yang mengetahui pokok permasalahannya pun segera meminta ketiga orang tersebut untuk keluar.
"Abang, Mama, Papa! Kalian keluarlah dulu. Kakak biar Hana yang tenangin" Ucap Gerhana.
Dia yakin dan bertekat akan membantu Aurora sembuh. Apa gunanya dia kuliah Psikologi jika tidak dimanfaatkan?
__ADS_1
Dengan terpaksa Angkasa pun ikut keluar bersama kedua orang tuanya.
"Kamu harus sembuh!" Batin Angkasa.
Setelah mereka keluar, Gerhana pun mulai mendekati Aurora yang bergumam terus menerus itu.
Diraihnya pundak Aurora dengan hati-hati.
"Gue harus mulai dari mana?" Gumam Gerhana.
Pelan tapi pasti, Gerhana duduk dan memeluk sang Kakak Ipar yang berusaha berontak.
"Lepas! Lepas!" Berontak Aurora.
"Kakak! Ini Hana, Kakak tenang" Ucap Gerhana.
"Kak?" Panggil Gerhana.
Aurora melemah, Dia menangis dipelukan Gerhana sangat memilukan.
***
Entah apa yang dilakukan Gerhana, Yang pasti saat ini Aurora sudah tenang. Dirinya pun sudah berhenti menangis dan mulai bercerita kepada Gerhana.
"Jangan dipaksa, Kak! Aku tau gimana rasanya" Ucap Gerhana.
"Enggak, Han. Gue nggak tau lagi gimana caranya supaya rasa trauma gue hilang. Berkali-kali gue coba buat tepis semua, Tapi tetep aja gue nggak kuat"
"Lo harus mantap dan yakin kalau semua pasti ada hikmahnya. Semua udah jalan takdir"
"Gue bisa terima itu, Tapi entah kenapa setiap gue liat muka Mama Safira dan Papa Aditya, Ingatan itu kembali muncul"
"Yang terpenting, Kakak harus mau terapi. Ah, Maaf, Bukan maksud Hana....."
"Nggak apa-apa. Gue paham maksud lo"
__ADS_1
"Yaudah, Kakak istirahat aja. Kakak nggak usah mikir aneh-aneh. Kakak harus lupain masalalu pahit. Kakak jangan sedih terus, Kasihan Mama dan Papa Kakak kalau Kakak sedih terus. Mereka pasti ikut sedih"
"Iya, Han. Gue bakal coba"
"Yaudah, Aku keluar dulu"
Gerhana pun keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Diluar tampak Angkasa, Safira dan Aditya yang sedang menunggu dengan perasaan khawatir.
"Hana! Gimana?" Tanya Safira.
"Kakak udah tenang. Kalian jangan khawatir"
"Nggak khawatir gimana maksud kamu?" Ucap Angkasa dengan nada sedikit tinggi.
"Angkasa!" Sentak Aditya.
Angkasa hanya menatap datar kearah Aditya.
"Bang? Abang nggak ada niat bawa Kakak ke psikolog?" Ucap Gerhana hati-hati. Dia takut ucapannya akan menyinggung perasaan Angkasa.
"Lalu? Apa gunanya kamu pulang?"
Sudahlah, Berbicara dengan Angkasa memang susah, Pasti dia bisa membuat lawan bicaranya kalah telak.
Tak mau berdebat lagi, Angkasa pun masuk meninggalkan Gerhana, Safira dan Aditya.
"Ini semua salah Mama. Coba kalau Mama nggak masuk" Lirih Safira menangis.
"Mama? Udah! Nggak ada yang salah. Orang tua mana yang nggak khawatir dengan kondisi anaknya?" Ucap Aditya.
"Papa bener, Ma. Sekarang, Mending kita kebawah. Kasih Abang sama Kakak waktu" Ucap Gerhana.
Mereka pun turun dan meninggalkan kamar Angkasa.
Bersambung......
__ADS_1