
"Mas gimana?" Tanya Aurora.
"Dia baik-baik aja" Jawab Angkasa sembari tersenyum.
"Kasihan deh, Tega banget Ayah Ibunya" Ucap Aurora sedih.
"Mereka nggak mikir apa ya? Gimana rasanya kehilangan orang yang paling mereka sayang?" Sambung Aurora.
"Udahlah, Jangan terlalu dipikirin" Ucap Angkasa.
"Kamu kenapa, sih? Siapa coba yang nggak kepikiran? Kamu emang nggak ngerti gimana rasanya jadi bayi itu! Nggak pernah ngerasain ditinggal orang yang kamu sayang, kan?" Ucap Aurora emosi.
"Ra! Stop!......"
"Eh..... Kalian ini kenapa, sih? Bisa nggak jangan bertengkar dulu? Kalian jangan berantem disini" Ucap Safira menengahi.
"Dia tuh Ma! Emang dari dulu nggak punya perasaan tuh orang!" Kesal Aurora.
Angkasa yang mendengar penuturan istrinya sontak kaget dan hendak menimpali perkataan Aurora.
"Bang, Tahan emosi kamu! Ini rumah sakit" Cegah Aditya ikut menengahi.
"Kalian nggak seharusnya berantem disaat situasi seperti ini. Rora sayang, Mama ngerti banget perasaan kamu. Jangan sedih sayang, Mama, Papa, Angkasa akan selalu dukung kamu" Ucap Safira memeluk Aurora.
Memang, Seperti kisah lama yang terulang kembali, Namun dalam situasi yang berbeda. Sangat sulit menerima dan membayangkan bagaimana perasaan bayi itu. Sama seperti perasaannya saat Arkhan dan Elena meninggalkan dia.
"Maaf ya, Ma. Aku kebawa emosi" Lirih Aurora.
"It's okay, Sayang. Kamu yang tenang, Ya?"
Aurora mengangguk. Berkat pelukan hangat Safira, Rasa emosi yang menyeruak perlahan mereda.
"Bang, Gimana keputusan akhirnya?" Tanya Aditya pada Angkasa.
"Belum tahu, Pa. Yang pasti pihak kepolisian bakal nyari siapa yang tega buang bayi nggak berdosa itu" Jawab Angkasa.
"Berdo'a saja. Semoga bayi itu mendapatkan keadilan" Ucap Aditya.
***
Hari berganti, Bayi laki-laki itu masih dirawat di rumah sakit. Aurora dengan telaten pulang pergi dari rumah sakit hanya untuk mengurusi bayi malang tersebut.
Kemarin putusan akhir dari pihak kepolisian sang bayi harus diserahkan ke pihak kepolisian sampai pengusutan kasus selesai. Aurora maupun Angkasa tak bisa berbuat apa-apa, Karena memang itu keputusan bersama.
"Ra, Kamu jadi ke rumah sakit?" Tanya Safira saat mereka berada di ruang tamu.
"Jadi, Ma. Rora berangkat kuliah dulu, Nanti siang Rora langsung kesana" Jawab Aurora.
"Boleh nggak Mama ikut?"
"Boleh dong. Malah Rora seneng kalau ada temennya"
"Yaudah, Ma. Nanti Rora jemput Mama terus kita ke sana barengan"
Setelah sama-sama menyetujui, Mereka pun memanggil suami mereka masing-masing dan memulai sarapan pagi.
"Kamu beneran mau bawa mobil sendiri?" Tanya Angkasa saat mereka selesai sarapan.
__ADS_1
"Yakin, Mas. Lagian nanti siang aku langsung pulang. Mau ke rumah sakit juga" Jawab Aurora.
"Sama aku aja. Nanti kita pulang setelah kamu selesai kelas" Ucap Angkasa seakan tak rela Aurora membawa mobil sendiri.
"Kamu kan ngajar sampai sore. Kamu mau izin? Nggak ada! Kamu ngajar aja, Aku ke rumah sakit sama Mama" Ucap Aurora.
Angkasa mengalihkan pandangan kepada sang Mama. Safira yang mendapat tatapan dari Angkasa pun mengangguk pertanda mengiyakan.
"Mama aja yang nemenin istri kamu. Mama nggak ada kegiatan dirumah, Mending ikut Rora ke rumah sakit. Sekalian mau lihat perkembangan si kecil" Ucap Safira.
Dengan terpaksa, Angkasa pun mengiyakan, Dengan syarat, selama Aurora membawa mobil sendiri, Mereka harus video call walau mobil mereka berjalan beriringan.
"Kamu ada-ada aja sih Mas, Ngapain coba kita video call?" Ucap Aurora sembari mengangkat handphone nya tinggi.
"Buat mastiin kalau kamu aman aja. Ayo berangkat, Ntar telat lagi" Ucap Angkasa dengan memegang handphone yang sedang menyala itu.
"Emang kelakuan Dosen Killer satu ini. Nggak masuk di otak gue" Gumam Aurora sembari menggelengkan kepala.
"Apa kamu bilang? Aku denger, Ya?" Ucap Angkasa di sebrang telfon.
"Kamu tuh aneh"
"Demi keselamatan, Rora! Saya nggak mau kamu kenapa-kenapa dijalan" Ucap Angkasa datar.
"Kumat lagi deh. Di rumah aja manggil sayang, Aku-Kamu, Giliran berangkat ke kampus mode kulkas seribu pintu!" Gerutu Aurora.
"Ini namanya pembawaan karakter, Beruntung dong kamu jadi istri saya, Kamu nggak bakal khawatir saya kegoda cewek lain"
"Dihh.... Sok cool banget kamu! Risih telinga aku dengernya"
"Oh iya, Nanti kalau pulang jangan lupa vidcall saya. Sekalipun saya ngajar, Kamu wajib vidcall saya!"
"Nggak pa-pa dong. Ini namanya jaga-jaga"
"Bukan jaga-jaga, Tapi kesannya kamu nggak percaya sama aku"
"Please, Ini masih pagi. Kamu jangan pancing emosi saya, Rora!"
"Pancing-pancing. Dikira empang" Kesal Aurora.
Perdebatan pun tak terhindar, Selama perjalanan di mobil yang berbeda, Mereka melakukan panggilan video. Angkasa tak mau sedetikpun melepas jangkauan dari Aurora. Walaupun mobil Aurora berjalan di depan mobil Angkasa, Namun berasa mereka menaiki mobil yang sama.
Setelah mereka sampai, Aurora memarkirkan mobilnya dideretan mobil para mahasiswa lainnya.
Sedangkan Angkasa memarkirkan mobilnya dideretan para Dosen.
"Ingat! Jangan macam-macam. Saya akan terus pantau kamu. Jangan pernah deketan sama laki-laki manapun! Terutama si Ransell yang selalu deket sama kamu itu!" Ucap Angkasa posesif.
"Ransell? Siapa? Tas?" Tanya Aurora bingung.
"Ransell yang selalu sama kamu itu! Cowok apaan? Nggak ada macho-macho nya. Bagusan juga saya kemana-mana"
"Ransell siapa, sih! Sumpah nih orang pagi-pagi bikin mikir aja!" Kesal Aurora sembari mengambil tas dikursi sebelahnya.
"Oh, Ansell? Namanya Ansell, Mas! Bukan Ransell" Ucap Aurora tertawa.
"Mau Ansell, Ancol, Cancel, Ransell, Apalah bodo amat, Yang penting jangan deket-deket!" Peringat Angkasa.
__ADS_1
"Uluh-uluh..... Cemburu nih ceritanya?" Goda Aurora.
"Nggak! Siapa juga yang cemburu? Kayak anak kecil aja" Elak Angkasa.
"Hmmm.... Nggak mau ngaku" Ucap Aurora masih menggoda sang suami.
"Udah sih, Sana masuk ke kelas"
"Iya, Sabar dong"
Aurora pun turun dari mobil dengan menenteng tas kecil, dan beberapa buku.
Saat Aurora hendak melangkah, Tiba-tiba bunyi klakson sebuah mobil BMW silver berhenti tepat disamping mobilnya.
"Hai, Ra! Akhirnya gue ketemu lo juga!" Pekik seorang laki-laki dari dalam mobil tersebut.
"Ansell?" Gumam Aurora. Sementara, Angkasa yang mendengar pun merasa panas dan segera mematikan sambungan telfonnya.
Menyadari sambungan telfon terputus, Aurora pun berdecak sebal, Pasti Singa Jantannya itu marah. Pikirnya.
"Ck! Kenapa sih dia datang nggak tepat waktu banget? Ngerusak momen aja!" Lirih Aurora.
"Hei, Ra?" Sapa Ansell yang tengah berdiri entah kapan di depan Aurora.
"H-hai, Sell?" Jawab Aurora kikuk.
"Akhirnya aku nemuin kamu. Kamu kemana aja selam ini? Aku khawatir banget sama kamu tau, nggak?" Cemas Ansell.
"G-gue? Gue disini aja. Ngapain lo khawatirin gue? Gue baik-baik aja kali, Sell"
"Kamu mau ke kelas?" Tanya Ansell.
"I-iya" Jawab Aurora.
"Kamu kenapa jawabnya gitu? Kayak gugup" Ucap Ansell sembari tersenyum.
"Gugup karena ketemu aku, Ya? Santai aja kali, Ra"
Aurora tahu jika Ansell menaruh perasaan padanya, Namun Aurora sama sekali tak memiliki perasaan pada Ansell, Aurora menganggap mereka hanyalah teman kuliah, tidak lebih. Meskipun Ansell salah satu most wanted kampus karena ketampanannya.
"Ayo Ra, Ke kelas bareng" Ajak Ansell.
Mau tak mau Aurora harus berjalan beriringan dengan Ansell. Jika dia menolak, Dia takut dicurigai yang tidak-tidak.
"Mati gue kalau singa jantan lihat!" Batin Aurora.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Ansell.
"No! Gue nggak kenapa-napa" Jawab Aurora cepat.
Matanya berkeliling mencari keberadaan Angkasa.
Saat Aurora mengedarkan pandangannya, Netranya bertemu pandang dengan Angkasa yang tengah memandang kearahnya dengan tatapan horor.
"Mampus gue! Bakal ada perang dunia keberapa lagi nih?" Batin Aurora.
Perasaannya campur aduk, ada rasa takut jika nanti Angkasa marah, Alasan apa yang akan dia berikan nanti?
__ADS_1
Bersambung......