SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 8: PENJELASAN DAN KEJELASAN


__ADS_3

Setelah bertemu dan berbicara dengan Miss Adriana, Aurora pun bergegas menuju ruangan Angkasa.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Titah Angkasa dari dalam.


Aurora menarik handle pintu hingga pintu tersebut terbuka. Di dalam ruangan tersebut menampilkan laki-laki yang beberapa hari ini menjadi musuh bebuyutan Aurora.


Dengan langkah malas dan pandangan malas, Aurora berjalan mendekat.


"Pagi, Mr! Apa yang harus saya kerjakan?" Ucap Aurora tanpa basa-basi.


"Bawa buku itu. Bagikan kepada teman-temanmu. Semua sudah saya koreksi. Dan, setelah kelas selesai kamu kembali kesini. Ada yang harus saya bicarakan sama kamu" Jelas Angkasa tanpa menoleh.


Aurora mendengus kesal namun tertahan. Sial! Batinnya.


"Ada lagi?" Tanya Aurora.


"Tidak! Mungkin nanti jika ada lagi saya akan panggil kamu" Jawab Angkasa.


Aurora menyahut tumpukan buku dengan kesal tertahan. Melihat itu, Angkasa pun menghentikan aktivitasnya dan menegur Aurora.


"Nggak ikhlas? Kesal? Jujur aja, kali!" Ujar Angkasa.


Aurora pun segera mengubah ekspresinya dan tersenyum paksa.


"Nggak, Mr Angkasa Elzidane Ausky!" Jawab Aurora dengan penuh penekanan.


"Yasudah! Silahkan keluar!"


Aurora pun menatap sengit kearah Angkasa tanpa sepengetahuan sang empu.


"Lihat aja! Suatu saat lo pasti bakal tunduk saa gue!" Batin Aurora.


Aurora pun keluar dari ruangan Angkasa dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai.


"Apaan tuh DosKill! Dasar Singa Jantan! Seenaknya aja dia ngebabuin gue! Mana berat lagi!" Gerutu Aurora.


"Gue kira mau ngapain, eh taunya disuruh nganterin nih buku ke kelas. Bilang aja kalau mau ketemu si cantik Princess Aurora!"


"Ih, kesannya kok gue gatel gini, Sih!" Sambung Aurora sembari bergidik.

__ADS_1


***


Sesampainya di kelas, Aurora pun meletakkan buku-buku tersebut diatas meja. Di dalam kelas baru ada beberapa Mahasiswa.


"Tuh kan, anak-anak belum pada nongol. Gue kepagian! Harusnya gue dateng setengah sembilan nanti" Kesal Aurora. Mau tidak mau dia harus menunggu 1 jam lagi. Karena ini masih jam 8 pagi.


Aurora membuka handphone-nya. Dia mwmbuka aplikasi hijau untuk sekedar mengecek.


Tak ada apapun, hanya satu notifikasi dari Serena dan beberapa panggilan dari Angkasa.


Aurora mengotak-atik nomor kontak Angkasa dan menamai dengan sebutan "Singa Jantan" plus emoticon batu.


"Mulai sekarang lo musuh bebuyutan gue!" Gumam Aurora.


Dia pun beralih membuka room chat dengan Serena.


"Si Anying satu ini! Nggak ada kapok-kapoknya bikin ulah. Awas lo kalau ketahuan bokap nyokap lo dan lo berani ngelibatin gue!" Kesal Aurora.


"Ketahuan apa?" Ujar seseorang yang membuat Aurora berjingkat kaget.


Rupanya Angkasa yang sudah berdiri disampingnya entah sedari kapan itu.


"M-Mr?! Sejak kapan anda disini?" Tanya Aurora panik.


"Ih, Mr kepo banget jadi orang! Menye-menye lagi!" Ujar Aurora yang sukses membuat Angkasa mendelik kesal.


"Udah! Ayo ikut aku! Aku mau ngomong penting sama kamu!" Ucap Angkasa lalu keluar dari kelas tersebut.


"Kok gue merinding sih dia nyebut dirinya sendiri 'Aku'?" Gumam Aurora. Dia pun mengikuti Angkasa.


***


Sesampainya di ruangan, Angkasa sudah menunggu Aurora di sebuah sofa panjang yang terletak di sudut ruangan.


"Duduk, Rora!" Titah Angkasa.


Aurora pun menurut saja, dia tahu bahwa kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk berdebat. Apalagi raut wajah Angkasa sangat serius, berbeds dengan raut wajah biasanya.


"Maaf, ada apa ya, Mr?" Aurora harap-harap cemas.


"Ra, kamu bisa jujur kan sama aku? Ini tentang kebiasaan kamu akhir-akhir ini!"


Aurora tak merespon, jujur dia sangat risih karena Angkasa selalu menyebut kata 'Aku'.


"Oh sorry. Saya bisa membantu kamu jika kamu ada masalah. Barangkali saya mampu untuk membantu. Saya mendapat laporan dari beberapa Dosen, bahwa sahabat kamu, Serena Devia Allinskie, anak fakultas ilmu hukum tidak masuk tanpa keterangan yang jelas"

__ADS_1


"Barangkali kamu mengetahui kebenarannya, tolong Aurora! Tolong kerjasamanya. Kenyamanan kalian adalah tanggung jawab kita sebagai Dosen" Sambung Angkasa.


Angkasa menghela nafas panjang.


Angkasa membuka handphone nya dan membuka salah satu chat dari sahabatnya.


"Saya nggak buta, Aurora! Saya juga masih bisa melihat dengan jelas. Ini sahabat kamu, Kan? Serena Devia Allinskie?" Ucap Angkasa sembari memperlihatkan foto Serena dan Awan di sebuah kamar Apartmen.


Mata Aurora membulat sempurna. Dia tak bisa berkutik lagi.


"Mampus! Gue harus ngomong apa?" Batin Aurora.


"Aurora! Saya hanya minta penjelasan dan kejelasan. Hanya itu, Aurora!" Sentak Angkasa.


Angkasa tak habis pikir, kenapa di kampusnya yang ellite itu bisa memiliki ayam kampus seperti Serena.


Berkali-kali Angkasa meraup wajahnya kasar. Dia juga kaget saat mendapat notifikasi dari sahabatnya.


Flashback On


Ting!


Sebuah notifikasi berhasil membuyarkan lamunan Angkasa.


Awan


"What's up, Bro! Gila sih, gue baru beli apartmen di kawasan Mawar. Lo kapan kesini?"


Tak hanya teks saja, Awan juga memberi beberapa foto dan tak sengaja salah satu foto tersebut secara tidak sadar menangkap wajah Serena, Full face.


Betapa terkejutnya Angkasa kala melihat ana didiknya disana. Tentu Angkasa mengenali wajah Serena. Meskipun mereka jarang berinteraksi, namun Angkasa kerap melihat Serena saat sedang bersama Aurora.


Sedikit penjelasan, Angkasa adalah sahabat Hendra Priawan sejak mereka duduk di bangku SMP. Namun, sikap dan sifat Awan jauh berbeda dengan Angkasa, Awan lebih suka bermain perempuan.


Flashback Off


"Aurora?" Panggil Angkasa lembut. Nada bicara yang sarkas itu kini berubah menjadi lembut kala melihat reaksi gadis tersebut.


Aurora tak merespon, dia terlalu kaget dengan pernyataan Angkasa.


Aurora bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dengan cepat tanpa memerdulikan Angkasa.


Kini tujuannya hanya satu, menghubungi Serena.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2