SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 26: TAK ADA PERTEMUAN TERAKHIR


__ADS_3

Sejak bagun dari tidur panjangnya, Aurora hanya menikmati hari-harinya dengan menangis. Setelah sadar dan tahu jika kedua orang tuanya telah tiada, Aurora memaksa untuk datang ke makam Arkhan dan Elena walau dengan keadaan sangat lemah.


Mau tak mau Angkasa dan yang lainnya pun mengikuti permintaan Aurora. Dengan syarat Aurora tidak boleh lama-lama dan tidak boleh sampai kecapekan.


Aurora menyetujuinya. Apapun yang penting saat ini adalah orang tuanya.


Disepanjang perjalanan ditemani Serena yang selalu disampingnya, Aurora tak henti-hentinya menangis.


Dadanya terasa sesak hingga hanya airmata dan isakan yang keluar.


"Rora! Lo harus kuat. Om dan Tante pasti sedih liat lo kayak gini" Bisik Serena yang sedari tadi memeluk tubuh mungilnya.


"Rora! Apapun yang terjadi, Ada gue disamping lo! Gue janji nggak akan pergi lagi, Gue janji bakal nemenin lo disini" Sambungnya.


30 Menit mereka menempuh perjalanan menggunakan mobil Aditya.


Dada Aurora bergemuruh saat menapaki tanah kuburan tersebut. Otot-ototnya seakan lemas tak berfungsi, Tangisannya mendadak menggema.


Dengan sigap Angkasa menangkap tubuh Aurora dan mendekapnya dengan hangat.


"Kita balik ke rumah sakit aja, Ya?" Tawar Angkasa.


Aurora menggeleng. Dia memaksa melangkah ke dalam.


Angkasa memapah Aurora dan menuntunnya ke makam sang mertua. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menuruti apa yang Aurora inginkan.


"Mama..... Papa......" Lirih Aurora saat melihat dua gundukan tanah bernamakan Mama dan Papa nya.


Tubuhnya bergetar, Tangisnya pecah.


Aurora merosot kebawah dan menubruk makam sang Papa.


"Kenapa Papa tega ninggalin Rora? Rora sendirian disini, Pa! Rora udah nggak punya siapa-siapa! Papa jahat!" Tangis Aurora memilukan.


Semua yang berada disana tak dapat menahan tangis, Malang sekali nasib Aurora.


Angkasa berjongkok, Mendekap tubuh mungil sang istri.


"Sayang! Kamu nggak sendiri, Masih ada aku, Mama, Papa, Serena dan semua! Kamu ngga sendirian" Ucap Angkasa berusaha tegar.


"Kenapa Papa tega? Bahkan kita nggak ada pertemuan terakhir, Kenapa Papa ninggalin Rora saat Rora nggak bisa bangun? Kenapa Pa?"

__ADS_1


"Mama! Kenapa Mama ikut-ikutan sama Papa? Kenapa Mama juga pergi dari hidup Rora? Kalian nggak sayang Rora! Kalian nggak sayang Rora...." Aurora beralih ketengah-tengah makam kedua orang tuanya.


Safira sudah tidak kuat nelihat menantunya menangis. Beliau membenamkan wajahnya kedada sang suami.


"Papa! Mama! Jawab Rora! Bilang kalau ini semua cuma mimpi! Ayo bangunin Rora, Ma! Pa!"


"Rora! Udah! Kamu jangan kayak gini, Mereka udah tenang di surga, Sayang!" Ucap Angkasa kembali mendekap tubuh Aurora.


"Diam! Kalian diam! Permainan ini nggak lucu! Kalian bersekongkol sama Mama dan Papa, Kan?"


"Om, Tante! Katakan dengan jujur! Jujur sama Rora, Semua ini mimpi, kan?" Ucap Aurora terdengar memilukan.


Tubuh Safira meluruh kebawah. Dia nendekap Aurora dan mengelus kepala Aurora dengan sayang.


"Sayang, Tenangkan dirimu! Sekarang Mama Elena dan Papa Arkhan sudah bahagia berdua disurga nya Allah, Nak. Istighfar, Sayang!" Ucap Safira lembut.


Tangisnya pecah tersedu-sedu beriringan dengan suara tangis Aurora.


"Aurora menuruti apa yang diucapkan Safira, berulang kali dia mengucapkan istighfar.


"Nak, Mulai sekarang Mama Safira dan Papa Adit yang akan menjadi orang tua Aurora. Aurora anak kita, Istri Angkasa. Meski sampai kapanpun Mama Elena dan Papa Arkhan tak akan terganti dihati Aurora. Tapi kita adalah orang tua kamu juga. Kita akan menjaga kamu dan menyayangi kamu melebihi apapun" Ucap Safira.


"Rora jangan gitu, Doakan saja Mama dan Papa tenang disana, Sayang!" Ucap Safira.


***


Setelah datang ke makam Mama dan Papa nya, Aurora pun dibawa pulang ke rumah Angkasa.


"Selamat datang, Sayang. Mulai sekarang dan selamanya ini adalah rumah kamu" Ucap Safira.


"Ma, Angkasa bawa Aurora ke kamar dulu, Ya? Biar dia istirahat" Ucap Angkasa mengambil alih rangkulan dipundak Aurora.


"Iya, Nak! Istirahat, Ya? Kamu harus bedrest biar cepat pulih"


Angkasa pun menuntun Aurora menuju kamar Angkasa. Aurora hanya diam mengikuti langkah Angkasa.


Saat ini dia tak memikirkan apapun. Yang ada dipikirannya hanyalah kematian Mama dan Papanya.


Airmatanya tak berhenti menetes. Hal itu membuat Angkasa khawatir. Kesehatan Aurora belum sepenuhnya pulih, Apalagi Aurora memaksa pulang karena mau datang ke makam Elena dan Arkhan.


Angkasa membaringkan Aurora di bed king size di kamarnya. Dengan telaten Angkasa membuka sendal Aurora dan menyelimuti sebatas dada.

__ADS_1


Angkasa duduk bersandar ditepian ranjang. Pikirannya berkelana kemana-mana, Namun tangannya masih setia mengelus pucuk kepala sang istri. Berharap bisa menyalurkan ketenangan dan kekuatan pada sang istri.


"Sayang, Aku janji bakal jagain kamu dan belajar mencintai kamu dengan sepenuh hati" Lirih Angkasa.


"Kenapa Mama sama Papa tega ninggalin aku, Mas?" Tanya Aurora lemah.


"Sayang, Semua ini sudah ada digaris takdir. Apa yang sudah diberikannya, Pasti akan kembali kepadanya. Allah lebih sayang Mama dan Papa dari pada kita. Ikhlas, Sayang"


"Tapi kenapa saat kita ada masalah? Semua salah aku, Mas! Mungkin kalau aku nggak marah sama Mama dan Papa, Kejadian ini nggak akan pernah ada. Hiks..... Hiks......"


"Mama dan Papa pergi tanpa pamit, Nggak ada pertemuan terakhir diantara kita. Kenapa ini semua terjadi sama aku? Dosa apa yang udah aku perbuat, Mas?"


"Ra, Stop nyalahin diri kamu sendiri! Kamu nggak salah, Percaya takdir!"


"Hiks.... Hiks......"


Aurora tak menanggapi. Dia kembali menangis terisak. Kali ini dia sangat rapuh, Seakan separuh kehidupannya telah hilang. Pikirannya kosong dan tak mampu beroperasi lagi.


"Tuhan emang nggak adil! Kenapa kebahagiaanku direnggut paksa? Apa salahku?" Teriak Aurora tercekat.


"Stop, Rora! Jangan menyalahkan apapun! Percaya takdir!" Sentak Angkasa. Mendengar Angkasa sedikit menaikkan volume suaranya, Aurora pun kembali terisak.


"Maaf" Lirih Angkasa.


Kali ini Angkasa benar-benar dibuat bingung dengan keadaan. Dia memeluk tubuh Aurora dengan erat. Seerat mungkin, Menyalurkan kekuatan berharap Aurora sadar dan berhenti menyalahkan keadaan.


"Sekarang, Kamu tidur, Ya? Istirahat. Dokter bilang kamu harus bedrest, Kamu nggak boleh banyak pikiran. Biar cepat sembuh, Okay?"


"Mas, Terima kasih karena mau menemani duka ku"


"Ini adalah tugasku, Menemanimu. Kamu harus berpikir jernih dan belajar mengikhlaskan. Ikhlaskan dan relakan kepergian Mama dan Papa. Jangan sampai tangisanmu menghambat jalan mereka. Kamu tau, kan? Papa dan Mama sayang banget sama kamu. Mereka akan bahagia dan tersenyum kalau kamu juga tersenyum dan bisa mengikhlaskan"


"Doakan saja mereka, Sayang" Sambung Angkasa.


Lelehan airmata masih tak bisa dihentikan, Sangat sulit untuk menerima kenyataan. Apalagi yang harus dilakukan untuk menguatkan hati? Apa lagi yang harus dilakukan agar keikhlasan itu datang?


Angkasa mengecup lembut kening Aurora dengan sayang.


"Jangan larut dalam kesedihanmu, Sayang. Jujur, Hatiku sakit melihatmu" Batin Angkasa.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2