
Sudah 3 hari Aurora di rawat di rumah sakit dan sudah 3 hari pula dia belum sadarkan diri. Akibat kaget dan juga banyak pikiran, Membuat Aurora sulit membuka mata dan beberapa organ ditubuhnya tidak berfungsi secara normal.
"Sayang, Kapan kamu bangun? Papa dan Mama udah ditemuin. Mereka udah tenang di surga nya yang maha kuasa" Lirih Angkasa menatap Aurora sedih.
Safira yang memperhatikan anak dan menantunya itu menitikkan airmata. Begitu berat cobaan yang dihadapi mereka. Bisakah ada sedikit kebahagiaan untuk mereka? Kasihan mereka.
Benar, Aditya berhasil menemukan Arkhan dan Elena dalam keadaan tak bernyawa. Mereka berhasil dievakuasi tim sar dalam jangka waktu 2X24 jam.
Flashback On
Aditya meminta izin pada Safira untuk pergi ke tempat evakuasi. Setelah mendapat telfon mendadak di rumah sakit tadi, Aditya langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk turun langsung ke tempat kecelakaan. Syukurlah Aditya berhasil mengenali identitas Arkhan dan Elena. Namun sayang, Mereka sudah lebih dulu kembali kepada sang pencipta.
"Ar, El! Kalian membuatku salut. Bahkan dalam keadaan sudah tak bernyawa pun kalian tetap bersama. Cinta kalian memang sehidup semati!" Lirih Aditya sembari menangis memandang jasad Arkhan dan Elena.
Aditya meminta izin kepada petugas evakuasi dan tentunya polisi yang sedang menangani kasus tersebut untuk membawa jasad sepasang suami istri itu kembali.
Dengan tangis yang sudah pecah, Melihat jasad sang sahabat terbujur kaku. Sekuat tenaga Aditya menegarkan dirinya.
"Mama, Papa sudah menemukan mereka. Tapi, Mereka sudah tiada..." Ucap Aditya yang sedang menelfon Safira. Tangisnya pecah diakhir kalimatnya.
"......"
"Papa langsung pulang. Tolong Mama beritahu Angkasa dan suruh dia mengurus keperluan Arkhan dan Elena. Mama yang kuat, Ya? Terus pantau putri kita. Jangan biarkan dia down mendengar Mama dan Papa nya sudah tiada"
Aditya pun langsung mematikan sambungan telfonnya saat Safira mengiyakan ucapannya.
Tak percaya? Iya, Safira dan Angkasa tak percaya dengan kenyataan ini. Ingin rasanya mereka menyangkal dan mengatakan ini mimpi. Namun, Ini semua nyata. Safira dan Angkasa memandang Aurora yang masih belum sadarkan diri itu dengan sendu.
Mata mereka memanas, Bulir demi bulir bening jatuh membasahi pipi mereka. Safira menangis histeris disofa ruangan VVIP tersebut. Sedangkan Angkasa berusaha sekuat tenaga menahan agar tangisnya tidak pecah.
"Ya Tuhan, Mengapa engkau ambil nyawa orang tersayangnya disaat dia terbaring lemah seperti ini? Hatiku sakit melihat keadaannya, Tuhan! Tabahkan hatinya, Kuatkan hatinya, Tuhan! Aku percaya atas kehendakmu. Semoga engkau terbitkan kebahagiaan kepada istriku!" Batin Angkasa.
"Mama, Mama tenang dulu, Ya? Mama jangan nangis, Mama harus kuat! Lihatlah Aurora, Dia butuh semangat dan dukungan dari kita sekarang! Angkasa akan urus kepulangan Mama dan Papa dulu, Angkasa minta tolong jagain Aurora ya, Ma?" Ucap Angkasa seraya memeluk Safira erat.
"Iya, Nak! Mama akan jagain Aurora. Pergilah, Urus pemakaman mertua kamu" Ucap Safira masih dalam keadaan menangis tersedu-sedu.
Setelah Angkasa keluar, Safira pun berlari kecil menghampiri Aurora yang masih terbaring lemah dan memeluknya erat.
"Sayang, Anak Mama! Kamu harus kuat! Mama Elena dan Papa Arkhan sudah bahagia di surga. Kamu gadis kuat! Kamu gadis kuat!" Safira menangis sembari memeluk Aurora sayang.
__ADS_1
Betapa hancurnya hati Aurora jika mendengar kabar ini? Apalagi saat ini dia tak sadarkan diri.
Flashback Off
Satu hari yang lalu, acara pemakaman yang begitu mengharukan. Bagaimana tidak, Arkhan dan Elena sudah berpulang ke yang maha kuasa. Tanpa Aurora disana, Aurora masih belum sadarkan diri dari pingsannya. Entah kenapa Dokter memvonis Aurora mengalami perlambatan fungsi organ. Akibat dari kelelahan dan mempunyai beban pikiran terlalu berat.
Angkasa, Aditya dan ketua RT setempat secara bergantian menurunkan jenazah Arkhan dan Elena. Dengan sekuat tenaga dan berusaha tegar, Aditya dan Angkasa menahan airmatanya agar tidak jatuh.
Safira yang keukeuh ingin ikut mengantarkan peristirahatan terakhir sang besan pun lunglai tak berdaya disamping liang lahat.
Sementara Sri, Asisten rumah tangga Arkhan dan Elena sedang menangis histeris dicekal oleh beberapa tetangga. Dia tak menyangka jika sang majikan telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Bapak! Ibu! Kenapa kalian tinggalin Sri sendiri? Sri mau ikut kalian!" Teriak Sri histeris.
Memang, Sri adalah pembantu keluarga Aurora yang sudah turun temurun. Awalnya Ibu Sri, Mbok Junah yang menjadi pembantu di rumah besar Aurora. Namun, Saat Sri berumur 10 tahun, Mbok Junah terkena serangan jantung dan meninggal. Akibatnya, Sri kecillah yang harus menggantikan sang Ibu. Sri kecil di rawat oleh Elena dan Arkhan, Mereka pun menyekolahkan Sri hingga jenjang SMA. Berniat meneruskan pendidikan Sri, Namun Sri menolak. Sudah cukup kebaikan keluarga itu kepadanya. Dan kini, Saatnya dia membalas budi mereka. Dengan cara menggantikan posisi ibunya dulu.
Sri menangis melihat kedua orang yang amat dia sayangi itu dibopong untuk dimakamkan. Hatinya hancur berkeping-keping.
"Bagaimana dengan Sri? Bagaimana dengan Non Rora, Bu! Pak! Non masih butuh kalian!" Teriak Sri.
Angkasa mematung, Dia harus cepat menyelesaikan pemakaman ini dan segera kembali ke rumah sakit. Ada Aurora yang tengah berjuang untuk sadar di rumah sakit.
***
Sri menangis diatas pusara majikannya itu. Ini terlaku cepat. Sri masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Kemarin sebelum sang majikan berangkat, Mereka masih bercengkrama dan terlihat sangat bahagia. Tak disangka itu adalah kebahagiaan terakhir mereka.
Kini, Sri harus menerima kenyataan bahwa Arkhan dan Elena sudah tiada.
***
Mendengar kabar kematian Arkhan dan Elena, Serena buru-buru menghampiri Awan yang tengah berkutat dengan pekerjaannya itu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa lari-larian? Ucap Awan panik.
"Dad! Ayo kita pulang!" Ucap Serena sembari menangis.
"Kenapa? Apa ada masalah dengan keluargamu?" Awan bertambah panik.
"Aurora! Om Arkhan dan Tante Elena kecelakaan dan meninggal! Ayo, Dad! Aku harus ada disamping Aurora!"
__ADS_1
Awan berusaha menenangkan Serena dan menjanjikan besok akan pulang. Serena sedikit lebih tenang mendengar penuturan sang Daddy. Bodohnya dia, Saat seperti ini saja dia tidak ada disamping sang sahabat. Sahabat macam apa dia ini? Pikirnya.
***
Setelah beberapa part, Nih Queen spill Visual Tokohnya. Semoga kalian suka sama Visual yang Queen kasih, Ya! Atau kalian punya imajinasi sendiri? Boleh sharing di kolom komentar loh😁
Angkasa Elzidane Ausky.
Mas Dosen si Singa Jantan😂 Outfit kalau lagi ngajar nih❤
Aresha Chandrika Aurora
Si cantik kesayangan Singa Jantan😁Mahasiswi segudang perestasi tapi nakalnya minta ampun. Pengen dihukum terus sama Mas Dosen, Hehe.
Serena Devia Allienskie
Seksi, Putih, Tinggi semampai, Kesayangan Daddy Awan😁
Hendra Priawan
Atm berjalan Serena dan juga sahabat dekat Angkasa
Gerhana Elzada Ausky
Adik kandung Angkasa yang tengah menempuh pendidikan dinegeri Inggris. Gadis yang sedang terjerat cinta sepupunya sendiri.
Arshaka Danzell Adelard
__ADS_1
Dokter tampan nan mapan. Kekasih Gerhana yang rada somplak tapi ngangenin.
Bersambung.....