SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 28: JALAN HIDUP


__ADS_3

"Sayang, Gimana sama kuliah kamu?" Tanya Safira sembari duduk disebelah anak bungsunya.


"Baik-baik aja, Ma! Masih ada sedikit tugas sih, Nanti aku kerjain disini" Jawab Gerhana.


Tanpa permisi, Gerhana pun merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya dipangkuan Safira.


"Maaf ya, Sayang. Gara-gara Mama kamu terpaksa pulang dan ngerjain tugas nggak sesuai jadwal" Ucap Safira sendu sembari mengelus surai Gerhana.


"Mama ngomong apa, sih? Justru Hana seneng banget bisa kumpul lagi sama kalian. Disela kepadatan tugas Hana"


Safira diam, Tangannya masih sibuk mengelus surai sang anak dengan sayang.


"Ma, Kakak belum turun?" Tanya Gerhana lalu kembali ke posisi semula.


"Belum, Sayang. Mama nggak berani masuk ke kamar Abang. Setiap Kakak kamu liat Mama atau Papa, Kakak kamu pasti menangis histeris" Ucap Safira pelan.


"Boleh nggak kalau Hana temuin Kak Aurora?" Tanya Gerhana.


Safira berpikir sejenak. Bukan dia yang mengambil keputusan, Namun sang putra.


"Mending Hana panggil Abang, Bilang sama Abang" Putus Safira. Gerhana mengangguk, Dia pun bangkit dan menaiki tangga untuk ke kamar Angkasa.


Gerhana memantapkan hati untuk mengetuk pintu kamar Angkasa. Biarlah apapun nanti yang terjadi.


Tok tok tok


"Bang, Kak? Ini Hana" Panggil Gerhana pelan.


Ceklek


"Hana? Ngapain?" Ucap Angkasa setelah membuka pintu.


"Boleh Hana masuk?" Dengan ragu Angkasa menganggukkan kepalanya.


Angkasa membuka lebar pintu kamarnya.


Lirih terdengar isakan tangis Aurora dibawah selimut tebalnya.


Gerhana menatap sang Abang lalu berganti menatap Aurora.


"Mengenaskan bukan? Bahkan di sela tidurnya, Tak lepas dari beban. Ini sungguh menyiksa" Lirih Angkasa.


Gerhana memegang pundak Angkasa berharap bisa menyalurkan kekuatan.


"Abang jangan patah semangat. Hana bakal bantu sebisa Hana. Hana yakin Kakak akan sembuh seperti semula. Hana janji akan mengembalikan keceriaan Kakak yang sempat hilang" Ujar Gerhana. Angkasa mengangguk tanpa seutas senyum.


Gerhana berjalan pelan mendekati ranjang dan duduk disamping Aurora.


"Kakak....." Panggil Gerhana.


Angkasa yang menyaksikan Gerhana dan Aurora pun memilih pergi. Mungkin mereka butuh waktu untuk saling terbuka. Pikir Angkasa.


Kembali ke Gerhana dan Aurora.


"Kakak....." Panggil Gerhana sekali lagi. Dengan hati-hati Gerhana menyentuh pundak Aurora sehingga sabg empu berbalik.

__ADS_1


"Kakak okay?" Tanya Gerhana menatap manik mata yang sudah basah itu.


Aurora diam. Dia pun bangun dan duduk dengan tatapan kosong.


"Mama Papa telah pergi. Ini semua gara-gara aku. Aku emang pembawa masalah" Gumam Aurora. Kini posisinya berubah dengan lutut ditekuk dan tangannya dilipat diatasnya.


"Kakak lihat Hana!" Perintah Gerhana.


Aurora pun mengangkat kepalanya dan menatap Gerhana dengan intens.


"Kamu siapa?! Kamu pasti orang jahat? Kamu pasti mau nyalahin aku juga, Kan? Aku emang pantas buat disalahin!" Teriak Aurora.


"Kakak! Kakak tenang, Ya? Ini Hana, Gerhana! Hana adik ipar Kakak" Jelas Gerhana lembut.


Aurora bergeming. Tangannya bergetar dan lelehan airmata kembali turun membasahi pipi.


"Kak? Boleh Kakak cerita sama Hana? Apa yang mengganggu pikiran Kakak?" Tanya Gerhana hati-hati.


Aurora menangis, Tak mau cerita. Tatapannya kembali kosong. Hanya isak tangis yang keluar.


"Mungkin gue terlalu cepat. Sabar, Han! Pelan-pelan kita coba" Batin Gerhana.


"Yaudah, Kakak istirahat aja. Jangan pikirin apapun. Hana ngerti kok kalau Kakak belum mau cerita. Maaf ya, Kak?" Ujar Gerhana.


Gerhana pun membalikkan badan hendak keluar dari kamar Angkasa tersebut. Namun, gerakannya berhenti saat suara lirih Aurora menyapu telinganya.


"Buat apa gue hidup? Gue seorang pembunuh!" Lirih Aurora.


Entah apa yang ada dipikiran Aurora. Dia selalu mengatakan jika dia adalah pembunuh kedua orang tuanya.


"Kakak jangan ngomong gitu! Kakak bukan pembunuh" Ujar Gerhana. Aurora masih menangis dipelukan Gerhana. Isak tangisnya terdengar memilukan sehingga membuat hati Gerhana mencelos.


"Kakak harus luasin pikiran Kakak. Ini semua takdir, Kakak tau apa itu jalan hidup? Seperti Kakak ini, Kakak punya jalan hidup. Setiap manusia juga punya jalab hidup masing-masing. Kakak harus yakin ini adalah jalan hidup yang harus Kakak jalani" Jelas Gerhana.


"Kak? Kakak harus sadar, Ini semua bukan kemauan Kakak. Ini juga bukan kemauan kita semua. Yang harus Kakak lakuin adalah doain mereka. Mereka bakal sedih kalau Kakak kayak gini"


Lagi-lagi tak ada sahutan dari Aurora.


"Yaudah, Kakak istirahat aja. Hana keluar dulu" Ucap Gerhana sembari melepas pelukannya.


Gerhana membantu Aurora merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh Aurora.


Sedangkan Aurora masih menatap dengan pandangan kosong dengan airmata yang masih meleleh.


"Kakak tidur, Ya?"


Gerhana pun keluar dan berniat mencari Angkasa.


Saat menuruni tangga, Gerhana melihat Angkasa yang sedang berbincang dengan Safira. Disusulnya Mama dan Abangnya tersebut dan duduk disebelah Angkasa.


"Abang!" Panggil Gerhana.


Angkasa menoleh sejenak.


"Kunci kesembuhan Kak Rora ada di dirinya sendiri. Abang harus sabar ngeyakinin Kak Rora bahwa kematian kedua orang tuanya bukan salah dia. Terus bisikin kata semangat dan bilang kalau ini semua sudah takdir dan jalan hidup dia. Aku bakal bantu terus sampai Kakak benar-benar sembuh"

__ADS_1


"Makasih, Han! Abang berterima kasih sekali sama kamu. Saat ini Abang hanya butuh dukungan" Ucap Angkasa.


Gerhana mematung. Seumur hidupnya, baru kali ini Angkasa mengucapkan kata keramat itu.


"I-iya. Udah sepantasnya Hana bantu kalian"


***


Aurora bangkit. Dia merasakan perih dikelopak matanya.


"Kamu udah bangun?" Tanya Angkasa sembari berlari kecil menghampiri.


Aurora tak menjawab. Dia hanya menatap sekilas Angkasa dan berjalan sempoyongan kearah kamar mandi.


"Kayaknya gue harus ekstra sabar ngadepin dia" Keluh Angkasa. Dia pun kembali duduk disofa dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


Semenjak Aurora sakit, Pekerjaannya dikampus menjadi terbengkalai. Dia pun belum masuk mengajar sampai detik ini.


Aurora tengah berdiri mematut dirinya dipantulan cermin.


"Lebih cantik lagi kalau kamu senyum" Ucap Angkasa yang sudah berdiri dibelakangnya dan menarik kedua ujung pipinya.


Tak ada pergerakan, Sama seperti biasanya. Aurora tak menyanggah, Tidak pula menanggapi.


***


Sementara itu, Gerhana tengah berbicara lewat sambungan telfon dengan sang kekasih. Bahagia yang dirasakan saat ini, Bisa bertemu kapanpun dia mau.


"Sayang? Kapan kita ketemu? Kenapa tadi kamu pulang?" Tanya Gerhana manja diseberang telfon.


"Aku ada urusan dirumah sakit, Yang. Ini baru pulang. Lagian, Aku nggak mau ganggu kebersamaan kalian. Biarin deh aku ngalah dulu, Puasin dulu lepas rindunya sama Mama Papa" Ucap Shaka pengertian.


"Emang deh, Aku nggak salah pilih pasangan. Kamu emang the best, Pengertian banget" Puji Gerhana.


"Iya deh yang paling the best" Ucap Shaka disertai tawa.


"Aku juga ngasih ruang buat kamu sama Kakak ipar. Kasihan dia" Ucap Shaka.


"Aku juga kasihan sama Kak Rora. Berat banget bebannya. Mungkin kalau aku diposisi dia, aku bakal bunuh diri"


"Huss..... Nggak boleh gitu. Yang terpenting sekarang, Kasih dia support, Ciptain peluang buat dia sembuh"


"Yaudah, Kamu istirahat, gih! Besok pagi aku jemput. Kamu harus nemenin aku ke rumah sakit" Sambung Shaka.


"Siap My King. Queen akan menemani King Shaka seharian penuh besok, hihihi....." Ucap Gerhana.


"Bisa aja kamu. Oke, Good night sayang" Ucap Shaka.


"Night too, Sayangku" Jawab Gerhana.


Setelah itu, Sambungan mereka pun terputus.


"Capek banget emang, Tapi lebih capek Abang pasti" Gumam Gerhana.


Setelah itu, Matanya pun terpejam. Rasa kantuk menyerang tak ter elakkan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2