SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 11: TERJEBAK PERNIKAHAN


__ADS_3

Para Dosen dan Rektor sedang merapatkan kejadian Angkasa dan Aurora tadi. Sebenarnya tidak ada kesalahpahaman diantara keduanya. Mereka memang jujur jika Aurora pingsan dan Angkasa menolongnya. Namun, Keputusan sudah bulat. Mereka harus menikah atas permintaan Arkhan dan Aditya. Iya, Mereka turut hadir dalam rapat tersebut.


"Papa! Rora nggak mau! Rora nggak mau menikah!" Tangis Aurora pecah sembari memegang kaki sang Papa.


"Rora! Papa tidak yakin kalian tidak melakukan hal yang tidak diinginkan. Mana mungkin kalian remaja normal tidak memiliki hasrat. Maaf, Sayang. Papa lebih memilih jalan ini" Ucap Arkhan.


Bak disambar petir, Aurora menangis sejadi-jadinya. Dia tak menyangka jika Arkhan memiliki pemikiran seperti itu, Aurora kecewa kepada Arkhan. Karena Arkhan tidak percaya dengan kejujurannya.


Angkasa hanya diam mematung menyaksikan interaksi tersebut. Malu, Tentu saja malu. Heran, Dia heran dengan kejadian ini, Kenapa sang Papa dan Arkhan seakan mendesaknya untuk menikahi Aurora. Padahal, Cctv sudah membuktikan jika mereka tidak melakukan apa-apa.


"Angkasa, Papa kecewa sama kamu. Tapi, Papa harap dengan keputusan ini kamu bisa bersikap layaknya seorang laki-laki!" Ucap Aditya. Angkasa hanya diam, Dia menatap sendu kearah Aurora yang masih berjongkok memegangi kaki Arkhan.


Sementara itu, Elena dan Safira tengah berdiri berdampingan di belakang sang suami. Ekspresi mereka sangat sulit di tebak. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun untuk mencampuri urusan itu.


***


Kini, Aurora dan Angkasa tengah duduk bersebelahan di depan penghulu. Dengan Rektor dan para Dosen yang menjadi saksi, Inilah pernikahan dadakan mereka.


Aurora menangis sembari memandang sang Mama. Elena sekuat hati menahan supaya airmatanya tidak jatuh.

__ADS_1


"Maafkan Mama dan Papa, Sayang. Ini semua demi kebaikan kamu!" Batin Elena menangis dalam hati.


Angkasa sudah menjabat tangan Arkhan dan penghulu pun melantunkan kalimat suci janji pernikahan tersebut. Dengan satu tarikan nafas, Angkasa lancar menyebutkan tanpa latihan terlebih dahulu.


Degg.....


Dunia Aurora runtuh seketika saat mendengar Angkasa melantunkan ijab dan qabul. Apalagi saat semua saksi berkata "Sah".


Sang penghulu pun melantunkan doa seusai pernikahan dengan khidmat.


Tak dipungkiri, Ada gelenyar aneh menyelimuti tubuh Angkasa.


"Kalian tega! Kenapa kalian diam saja? Mama, Kenapa Mama diam aja liat aku tersiksa?" Batin Aurora sembari menatap sang Mama.


Menyadari tatapan sang anak, Elena buru-buru mengedarkan tatapannya supaya tidak bertemu pandang dengan netra Aurora.


"Maafkan Mama, Sayang!" Batin Elena.


***

__ADS_1


Seusai pernikahan dadakan di kampus tersebut, Tinggallah dua keluarga itu. Keluarga Angkasa dan keluarga Aurora.


Elena menubruk tubuh mungil sang anak dan menangis sejadi-jadinya. Seorang ibu mana yang tega melihat sang anak menderita? Apalagi menderita karena sebuah jebakan.


"Maafin Mama..... Maafin Mama....." Tangis Elena. Aurora membalas pelukan sang Mama tak kalah erat.


"Maa...... Rora berani bersumpah, Ma! Rora nggak ada apa-apa sama Mr Angkasa, Rora bukan sugar baby, Ma! Rora bukan pelacur!" Ucap Aurora.


"Enggak, Sayang. Kenapa kamu bicara seperti itu? Mama nggak ada pikiran seperti itu, Maafkan Mama, Nak!"


"Kenapa kalian setuju, Kenapa kalian malah menikahkan kami?" Aurora tak henti-hentinya menangis. Jujur, Hatinya sangat perih dan pikirannya sangat kacau.


Sebenarnya, Pernikahan ini adalah bagian rencana dari dua keluarga tersebut. Dari awal, mereka memang berniat menjodohkan Aurora dan Angkasa. Namun, Melihat penolakan keras dari Aurora, Arkhan pun menyusun rencana dan melancarkan aksi.


***


Aurora telah kembali bersama Angkasa, Dia tidak menyangka jika dia akan menikah dengan Dosen dengan cara seperti ini. Beban pikirannya bertambah, Masalah Serena belum terselesaikan, Bahkan belum sempat di luruskan, Dan kini sudah bertambah dengan adanya pernikahan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2