
Ting!
Handphone Aurora bergetar diatas nakas. Rasanya malas sekali untuk sekedar turun dan mandi. Hari ini dia memang sengaja tidak masuk kuliah. Angkasa juga sudah mengizinkan untuk tidak masuk sehari.
"Sayang, Kamu jaga diri baik-baik, Ya! Sekali lagi maafkan Papa! Bukan maksud Papa buat Aurora sengsara. Suatu saat Aurora pasti bakal ngerti apa maksud Papa. Yang jelas sekarang Papa bisa lebih tenang buat ninggalin Aurora. Papa sayang Aurora banyak-banyak! Aurora harus ingat! Meskipun nggak ada Papa dan Mama disamping kamu, Kamu harus tetap semangat jalanin hari, Ya? Jangan sedih, Harus senyum. Belajar nurut sama Angkasa, Sekarang bukan Papa lagi yang bertanggung jawab penuh terhadap kamu, Tapi Angkasa. Angkasa suami kamu! Oh iya, Sekalian Papa mau pamit, Papa ada perjalanan bisnis ke Jerman. Mungkin beberapa bulan ke depan, Mama juga ikut kok. Jadi, Jangan nyusahin Angkasa, Ya? Sekalo lagi, Papa sayang princess Aurora! Love you~"
Aurora meneteskan airmata saat membaca pesan dari Arkhan.
"Seharusnya Rora masih bahagia dan tersenyum ditengah-tengah kalian. Harusnya kalian yang jadi penyemangat Rora saat Rora terpuruk seperti ini. Rora nggak nyesel sama apa yang terjadi, Cuma Rora kecewa atas sikap Papa! Rora juga sayang banget sama Papa dan Mama. Doa Rora selalu menyertai kalian. Maaf Rora belum bisa balas chat Papa ataupun Mama. Rora pengen nenangin diri dulu! Seenggaknya butuh waktu beberapa hari sampai Rora bener-bener kuat!" Gumam Aurora tanpa berniat membalas pesan sang Papa.
Aurora beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi. Oh iya, Angkasa sudah berangkat sejak 30 menit yang lalu. Dengan berat hati Angkasa meninggalkan sang istri di apartmen sendiri. Itupun karena permintaan Aurora. Dia meminta untuk ditinggalkan dulu sendiri.
***
Hari semakin siang, Pikiran Aurora berkecamuk. Entah apa yang dia rasakan, Rasanya resah dan gelisah. Pikirannya tertuju pada Arkhan dan Elena yang akan pergi ke Jerman. Ingin sekali Aurora menanyakan kabar Arkhan dan Elena, Apakah mereka sudah berangkat atau belum? Jam berapa mereka take off? Disana berapa bulan? Namun, Rasa kecewa lebih mendominasi sehingga malas untuk bertanya.
"Ntar juga Papa atau Mama ngechat kalau udah sampai. Tapi, Kenapa perasaan gue nggak enak, Ya?"
"Nonton TV aja kali, Ya?" Gumam Aurora.
Dia pun menyalakan TV berukuran besar di ruang tamu apartmen Angkasa tersebut. Aurora duduk di sofa panjang sembari melipat kedua kakinya.
__ADS_1
Plap
TV pun menyala, menampilkan sebuah berita kecelakaan pesawat yang terjadi dari Ibukota Jakarta menuju Kota Berlin, Jerman. Remote TV yang di pegang oleh Aurora tiba-tiba jatuh. Tangan serta badannya mendadak lemas tak bertulang.
Airmata perlahan turun membasahi pipi mulusnya.
"Papa! Mama!" Gumam Aurora tercekat.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin!" Teriak Aurora.
"Papa, Mama, Kalian pasti naik pesawat yang lain. Nggak mungkin kalian di pesawat itu!" Aurora masih berekspetasi bahwa Mama dan Papa nya bukan salah satu penumpang pesawat tersebut.
Ditengah kegusarannya, Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Angkasa yang tengah berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Mas, Itu nggak mungkin pesawat yang ditumpangi Papa dan Mama, Kan?" Tanya Aurora keukeuh.
"Sayang, Kamu tenang dulu" Ucap Angkasa menenangkan.
"Tenang kamu bilang? Gimana caranya aku bisa tenang? Gimana!" Aurora malah berteriak histeris.
Angkasa memang tahu mengenai keberangkatan sang mertua. Bersamaan dengan pesan Aurora, Angkasa ternyata juga diberi kabar oleh Arkhan dan Elena bahwa dia dimintai tolong untuk menjaga Aurora.
__ADS_1
Flashback On
"Angkasa, Ini Papa Arkhan. Papa minta tolong sama kamu. Jaga putri kecil Papa dengan sepenuh hati, Cintai dan sayangi dia sebagaimana kamu mencintai dan menyayangi dirimu sendiri! Papa tahu kalau semua ini sulit kalian terima. Tapi percayalah, Papa melakukan ini karena Papa sayang sama Aurora! Papa mau kamu yang menjaga Aurora. Dengan begini, Papa akan tenag meninggalkan putri kecil Papa. Terima kasih banyak karena kamu tidak menolak pernikahan ini. Papa mohon dengan sangat, Sayangi Aurora. Papa pamit, Ya? Semoga kalian bahagia. Oh iya, Papa dan Mama akan ke Jerman melakukan perjalanan bisnis. Kalaupun Papa dan Mama pergi, Tolong kuatkan Aurora! Bust dia terus tersenyum dan bahagiakan dia. Terima kasih"
"Tanpa Papa minta pun Angkasa akan membahagiakan dan akan bertanggung jawab penuh terhadap Aurora. Aurora adalah istri Angkasa, Pa! Papa dan Mama hati-hatu dijalan, Angkasa doakan selamat sampai tujuan dan bisnis Papa semakin maju. Angkasa akan memenuhi permintaan Papa, Papa tenang aja"
Balas Angkasa.
"Kenapa chat Papa Arkhan kayak pesan terakhir?" Gumam Angkasa.
"Ah, Ngomong apa sih, Lo!" Angkasa merutuki dirinya sendiri.
Angkasa membuka laman google berniat mencari materi untuk bahan ajarnya. Namun, Betapa kagetnya saat dia mendapati sebuah berita hot news tranding topic. Kecelakaan Pesawat yang menewaskan semua penumpang.
"Aurora!" Pekik Angkasa. Tanpa lama lagi, Angkasa pun meraih kunci mobil sport nya dan beegegas pulang.
Flashback Off
"Sayang, Kita kebandara! Kita cari tau kebenarannya, Ya?"
Aurora mengangguk, Mereka pun bergegas ke bandara untuk mencari tahu kebenaran mengenai informasi pesawat tersebut.
__ADS_1
Bersambung......