
Hari ini Serena benar-benar pulang dan berniat menemui sang sahabat.
"Udah siap? Ayo kita ke bandara. Bentar lagi take off" Ucap Awan diambang pintu.
Kali ini Awan tidak ikut, Bisnisnya sedang ada masalah. Jadi, Serena terpaksa pulang sendiri tanpa Awan.
"Beneran Daddy nggak ikut? Masa aku disuruh pergi sendiri?" Ucap Serena manja.
"Maaf, Baby! Daddy bener-bener nggak bisa nemenin kamu. Perusahaan sedang membutuhkan Daddy!"
"Kan ada asisten Daddy? Ayolah Dad!"
"Ren, Daddy benar-benar nggak bisa! Kalau kamu nggak mau, Yaudah! Nggak usah pulang" Tukas Awan. Lembut namun menekan.
Serena pun pasrah, Jika Awan sudah memanggilnya dengan sebutan nama, Maka tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menurut.
"Okay! Aku pulang sendiri! Tapi awas, Awas kalau Daddy berani jajan diluar!" Tegas Serena.
Awan hanya menyunggingkan senyumnya dan mengangkat jari membentuk peace.
Serena pun diantar oleh Awan menuju bandara. Pikirannya resah, Akankah sang sahabat menerimanya jika dia kembali? Cukup lama dia bersembunyi dari dunia. Keberaniannya tak cukup banyak untuk sekedar menampakkan diri pada orang lain.
"What are you doing, Hun?" Tanya Awan disela-sela menyetir.
"No, Daddy! Aku cuma kepikiran sama Aurora. Pasti dia terpukul banget. Selama ini aku berpikir bahwa kehidupan Aurora sangatlah sempurna. Bahagia dengan kedua orang tua, Dan dikelilingi orang tersayangnya. Apapun akan orang tuanya lakukan jika Aurora meminta. Terlebih Papanya, Om Arkhan sangat memanjakan Aurora. Berbeda denganku! Walaupun Mami dan Papi masih ada, Keluargaku masih lengkap dan utuh, Namun aku tidak pernah merasakan kebahagiaan dan kehangatan diantara mereka. Yang ada malah sakit hati!"
Bulir-bulir bening yang menggumpal dipelupuk mata itu lolos terjatuh tanpa bisa ditahan. Serena menangis, Meratapi kehidupannya yang tak semanis Aurora.
"Don't cry, Baby! Masih ada aku! Aku yang akan menjadi pelengkap hidupmu! Aku yang akan menciptakan kebahagiaan dan kehangatan seperti yang kamu katakan! Aku berjanji akan membuatmu bahagia" Ucap Awan sembari mengusap airmata Serena menggunakan sebelah tangannya.
"Hubungan kita ini semu, Dad! Daddy dan aku hanya sebatas Daddy dan Baby! Hahaha....." Ucap Serena diselingi tawa diakhir kalimatnya.
"Dan asal kamu tau, Sayang. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Awalnya memang berniat singgah, Namun rasa ini muncul begitu saja hingga membuatku sungguh-sungguh. Tunggulah aku, Akan ku buktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu! Dan akan aku buat kebahagiaan yang tak pernah kamu dapatkan dari kedua orangtuamu!" Janji Awan dalam hatinya.
***
"Sayang, Kalau udah sampai disana kabarin aku, Ya?" Ucap Awan manja. Sejujurnya dia ingin sekali ikut bersama Serena. Namun, Pekerjaannya menghalang.
"Iya Dad! Aku pasti kabarin Daddy kalau udah sampai. Pasti aku bakal kangen banget sama Daddy" Ucap Serena seraya memeluk Awan.
"Aku bakal lebih kangen sentuhan kamu" Bisik Awan nakal.
"Ih! Apaan sih!" Wajah Serena bersemu. "Daddy janji ya jangan jajan diluar!" Ucap Serena menekan kata-katanya.
"Iya, Sayang! Bawel banget sih sayang aku ini! Lagian, Sejak ada kamu, Aku udah nggak selera lagi sama wanita lain diluar sana. Trust me baby!" Ucap Awan meyakinkan.
Serena tersenyum. "Iya, Aku percaya kok"
__ADS_1
"Yaudah, Bentar lagi mau take off aku pamit" Serena melambaikan tangannya setelah mengecup bib*r Awan sekilas.
Awan tersenyum memandang sang kekasih.
"Cuma beberapa hari, Awan! Lo harus cepet-cepet selesaiin pekerjaan disini. Abis itu susul gadis lo!" Gumam Awan menyemangati diri sendiri.
***
Serena sudah sampai dibandara Internasional Jakarta. Sejenak dia memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.
"Gue kangen udara disini. Gue kangen semua yang ada disini. Dan, Gue lebih kangen Aurora! Iya, Gue harus kerumah Aurorasekarang juga!" Serena melangkahkan kakinya keluar dari bandara tersebut.
Dia menstop taksi online yang sedang berlalu lalang didepan bandara tersebut.
"Mau kemana, Bu?" Tanya supir taksi tersebut.
"Jalan Menara Gading No 3 Blok A, Pak" Jawab Serena menyebutkan kawasan elite tersebut.
"Baik" Jawab supir tersebut.
Tanpa berbicara lagi, Sang supir pun melajukan mobil taksi tersebut dengan kecepatan sedang.
Sembari menunggu sampai, Serena mencoba menghubungi Aurora. Berharap panggilannya diangkat, Namun hanya nada sambung yang muncul.
"Kenapa nggak diangkat? Oh iya, Pasti dia terpukul banget, Sampai nggak ngeh gue telfon" Gumam Serena.
Sebenarnya, Serena belum tahu kalau Aurora sedang terbaring diranjang rumah sakit.
Secara tidak langsung, Serena menyemangati dirinya sendiri. Iya, Akan ada pelangi setelah hujan, Dan semoga hal itu juga terjadi padanya.
Setelah hampir 30 menit Serena melakukan perjalanan, kini sampai sudah di perumahan kelas ellite di jalan Menara Gading tersebut. Rumah-rumah mewah berjejeran dan terakhir rumah Aurora yang berada di paling ujung. Rumah mewah berlantai 2 itu sangat menonjol diantara rumah-rumah yang lain.
"Kok sepi?" Gumam Serena memandang rumah Aurora dari jarak beberapa meter.
"Yang mana Bu rumahnya?" Tanya supir taksi bingung.
"Ah, Yang paling ujung, Pak! Itu yang warna putih" Tunjuk Serena.
Supir taksi tersebut pun melaju dengan perlahan dan meminggirkan mobilnya tepat di depan gerbang tinggi menjulang.
"Bayarnya pakai aplikasi ya, Pak! Dan, Ini tips buat Bapak!" Ucap Serena ramah sembari memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Aduh, Bu! Ini kebanyakan. Nominalnya sesuai aplikasi aja, Bu! Saya nggak enak" Tolak sang supir sopan.
"Udah nggak apa-apa! Ini murni tips untuk Bapak. Yang diaplikasi itu uang bayarnya. Diterima aja, Pak!" Serena memaksa. Sang supir pun menerimanya dan mengucapkan banyak terima kasih.
Setelah itu, Serena dan sang supir pun turun. Sang supir taksi tersebut menurunkan koper Serena dan pamit.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan, Pak! Terima kasih" Ucap Serena tersenyum.
"Sama-sama, Bu! Saya pamit" Setelah itu dia pun melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan tersebut.
Serena memandang kearah rumah tersebut dengan heran. Kenapa tampak sepi sekali? Pikirnya.
Serena memencet bel dan tak lama pagar otomatis itu terbuka. Satpam yang sedang berjaga pun menghampiri Serena dan menyapanya.
"Non Serena?!" Sapa Pak Gani dengan nada kaget.
"Iya, Pak Gani. Bapak apa kabar? Oh iya, Saya boleh bertemu Aurora?" Ucap Serena.
"Alhamdulillah kabar saya baik. Non kemana aja? Dan, Kenapa Non kesini? Non Rora masih dirawat dirumah sakit. Sri baru aja kesana" Ucap Pak Gani.
"Apa? Rora sakit apa?" Airmata Serena luruh seketika. Serena kaget mendengar kabar sang sahabat terbaring dirumah sakit. Pasti karena kaget, Pikirnya.
"Pak, Saya nitip koper disini. Saya mau susul Mbak Sri ke rumah sakit" Ucap Serena. Dia pun kembali memesan taksi online untuk mengantarkan ke rumah sakit.
"Rora! Lo kenapa bisa sampai kayak gini? Yang kuat, Bestie!" Gumam Serena.
10 menit Serena menanti datangnya taksi online tersebut, Dan kini dia sudah melaju.
"Cepat sedikit, Pak! Saya buru-buru!" Ucap Serena sembari menangis. Sang supir tak menjawab, Dia hanya melakukan apa yang diperintah customernya itu.
***
Tulisan RS. Citra Medika bertengger sempurna di atap rumah sakit mewah tersebut. Iya, Pak Gani sudah memberitahu Serena bahwa Aurora sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
Aurora membayar taksi tersebut dan segera berlari kedalam rumah sakit. Dia bertanya pada resepsionis dimana letak ruangan Aurora. Setelah menemukan letak ruangan tersebut, Serena berlari menuju lift dan menekan tombolnya.
"Rora! Gue kembali. Gue kembali buat lo!" Ucap Serena. Airmatanya masih berjatuhan tanpa mau berhenti.
Setelah pintu lift terbuka, Menampilkan sebuah ruangan yang hanya ada satu pintu.
Di depan pintu tersebut bertuliskan VVIP kelas 1. Dengan cepat Serena membuka pintu tersebut.
Ceklek
Semua mata tertuju pada pintu, Tak terkecuali Angkasa.
Angkasa membulatkan matanya mendapati Serena yang tengah berdiri diambang pintu dengan mata penuh airmata.
Pun dengan Serena, Dia terkejut melihat sang Dosen Killer berada disamping brankar Aurora dan memegang tangan gadis yang sedang menutup matanya tersebut.
"Mr Angkasa?"
"Serena?!"
__ADS_1
Gumam mereka bersamaan dengan mata melotot sempurna.
Bersambung.......