SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 21: KEPERGIAN PAPA DAN MAMA 2


__ADS_3

Hati Aurora berdesir saat menapaki Bandara Internasional tersebut. Airmatanya tak junjung berhenti dan pikirannya terpusat pada sang Papa.


Angkasa menuntun langkah Aurora menuju ruang informasi. Disana sudah ada beberapa orang yang sedang menangis di ruang tunggu.


Sekuat tenaga Aurora melangkahkan kakinya mengekori sang suami.


"Sayang, Kamu duduk aja dulu. Biar aku yang tanya ke mereka" Ucap Angkasa sembari menunjuk ke arah announcer.


"Nggak! Aku ikut kamu" Angkasa menghela nafas. Pasrah dengan Aurora.


"Selamat siang, Saya Angkasa dan ini istri saya. Saya ingin bertanya tentang jatuhnya pesawat menuju Jerman" Jelas Angkasa datar nan dingin.


"Siang, Pak! Bu! Kami masih menunggu klarifikasi dari tim. Untuk mementara, Silahkan tunggu di Lounge. Kami akan menyampaikan kabar secepatnya. Mohon bersabar" Ucap salah satu announcer dengan tegas.


Tak ingin mengganggu kinerja para awak bandara, Angkasa pun menuntun Aurora untuk duduk di salah satu kursi.


Aurora menatap sendu ke beberapa arah. Disana terdapat beberapa orang, Mungkin keluarga dari salah satu penumpang pesawat tersebut. Ada yang menangis histeris, Ada juga yang pingsan.


"Mas, Gimana kalau Mama dan Papa....." Aurora tak melanjutkan kata-katanya. Dia menangis di dada bidang sang suami.


Menyesal, Kenapa dia bersikap acuh pada kedua orang tuanya. Kecewa lebih mendominasi dirinya.


"Pa, Ma, Maafin Rora! Rora lebih egois daripada kalian!" Batin Aurora.


***


Sekian lama menunggu, announcer tersebut tak kunjung memberi kabar. Aurora sudah geram ingin cepat-cepat mendengar kabar tentang Arkhan dan Elena.


Tak berselang lama, Safira dan Aditya datang tergopoh-gopoh dan langsung memeluk Aurora.


"Sayang! Kamu yang sabar. Ada Mama dan Papa disini!" Ucap Safira. Tangis keduanya pecah.


Aurora menangis, Tak membalas pelukan, Juga tak melakukan perlawanan. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Mendengar ucapang sang mertua, Hatinya hancur. Hal ini tak menutup kemungkinan bahwa Arkhan dan Elena telah tiada.


"Angkasa! Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Aditya tak kalah kagetnya kepada Angkasa.


"Aku nggak tau, Pa! Tadi Papa Arkhan hanya memberi pesan padaku lewat chat. Beliau berpesan pada Angkasa untuk selalu menjaga dan mencintai putri nya dengan setulus hati. Angkasa bingung sama maksud pesan itu, Tapi sekarang Angkasa tau" Jawab Angkasa sendu.


"Tenanglah, Nak. Kamu harus kuat demi istrimu! Saat ini yang dibutuhkan istrimu hanyalah semangat!" Ucap Aditya seraya menepuk pelan punggung sang anak.


Aurora masih menangis, Bagaimana jika semua yang dipikirkan itu benar?


"Rora mau Mama, Rora mau Papa!" Lirih Aurora.


Kepalanya pusing, Pandangannya mengabur dan.....


Brukk!!


Aurora terjatuh tak sadarkan diri. Safira yang duduk di sampingnya seraya memeluk bahunya ikut ambruk.


"Papa! Angkasa!" Teriak Safira kaget.

__ADS_1


"Rora!" Pekik Angkasa.


Angkasa pun segera berlari mendekati istri dan Mama nya.


Aurora tak sadarkan diri, Efek dari terlalu banyak berpikir dan juga perut kosong membuat Aurora tumbang.


Dengan cepat Angkasa mengangkat tubuh mungil Aurora dan membawanya ke rumah sakit.


***


Aurora sedang di tangani di dalam ruang IGD. Keadaannya melemah, Tiba-tiba suhu badannya melonjak dan terus bergumam lirih.


"Mama.... Papa.... Jangan tinggalin aku!" Lirih Aurora dengan mata terpejam.


Dokter yang menanganinya pun keluar dan menemui Angkasa yang masih berdiri di depan pintu.


"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?!" Tanya Angkasa setengah berteriak.


"Tenanglah, Nak! Jaga sikap kamu! Ini rumah sakit!" Ucap Safira mengingatkan.


Namun Angkasa tak peduli, Yang terpenting hanyalah keadaan Aurora.


Apakah Angkasa mencintai istrinya itu? Entahlah, Beberapa hari hidup dengan Aurora membuatnya nyaman.


"Begini, Nona Aurora hanya kelelahan. Perutnya kosong sehingga maag dilambungnya kumat. Saya sudah memberi obat penenang supaya Nona Aurora bisa istirahat. Dan, Apakah orang tua istri anda ada disini? Lebih baik pertemukan mereka. Karena sedari tadi Nona Aurora terus bergumam memanggil Mama dan Papa nya" Jelas Dokter tersebut.


Angkasa diam, Bagaimana lagi dia harus menyikapi?


"Ah, Baiklah Dokter! Terima kasih" Ucap Safira.


"Angkasa! Kamu tenang aja, Papa udah kerahkan semua anak buah Papa buat nyari Arkhan dan Elena. Semoga segera mendapat informasi" Ucap Aditya.


Angkasa hanya diam, Tak menjawab. Mereka memutuskan untuk menuju ruang VVIP dimana Aurora dirawat.


Saat Angkasa, Aditya dan Safira tengah berjalan menuju lift, Seorang Dokter muda nan tampan menghentikan langkah mereka.


"Om! Tante! Abang!" Teriak Dokter Muda tersebut.


Ketiganya menoleh, Mendapati Shaka. Shaka adalah Dokter Muda sekaligus masih kerabat keluarga Angkasa.


"Shaka?" Gumam Aditya dan Safira bersamaan. Sementara Angkasa hanya diam sembari menatap Shaka datar.


"Siapa yang sakit? Gerhana? Kenapa dia sakit?" Ucap Shaka dengan rentetan pertanyaan.


"Bukan. Itu....." Safira bingung.


"Ngapain lo kesini? Bukan urusan lo siapa yang sakit. Mending lo pergi!" Usir Angkasa.


Memang, Angkasa sedikit tidak suka dengan Shaka, Karena Shaka secara terang-terangan berkata bahwa dia mencintai Gerhana. Shaka pernah melamar Gerhana pada orang tuanya, Namun mendapat penolakan tegas dari Angkasa. Bagaimana tidak, Mereka masih bersaudara, Walaupun sudah sangat jauh. Sementara Aditya dan Safira tak mengiyakan juga tak menolak. Biarlah Gerhana dan Shaka yang menentukan. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik dan memberi restu.


"Bang, Jangan ketus-ketus, lah! Beneran Gerhana yang sakit? Aku dikasih tau sama Dokter Irham tadi. Katanya dia menangani pasien dari keluarga kalian" Cerocos Shaka nampak sangat khawatir.

__ADS_1


"Bukan Gerhana, Tapi Aurora. Istriku!" Jawab Angkasa yang sukses membuat laki-laki berusia 25 tahun itu ternganga.


"I-istri?" Ucapnya.


"Sudahlah, Ayo Ma, Pa! Nggak penting ngeladenin dia" Ucap Angkasa malas.


Dia pun segera masuk ke dalan lift tanpa memerdulikan Mama dan Papa nya.


"Shaka, Om dan Tante pamit. Maafkan sikap Angkasa" Ucap Safira. Safira dan Aditya pun ikut masuk ke dalam lift meninggalkan Shaka yang dilanda kebingungan.


"I-istri? Balok es punya istri? Sejak kapan? Apa dia menghamili anak orang? Bener-bener tuh setan asia!" Gumam Shaka bingung.


Shaka lebih memilih kembali keruangannya. Beruntunglah bukan Gerhana yang dirawat. Pikirnya.


***


Angkasa duduk di bangku samping brankar. Tangannya menaut pada jemari Aurora. Dia mengelus dan sesekali mengecup punggung tangan cantik itu.


"Cepat bangun, Sayang. Aku nggak mau kamu sakit" Gumam Angkasa sembari memandang nanar kearah sang istri.


Aurora masih betah memejamkan matanya. Infus yang terpasang di tangan kirinya itu mengalir dengan ritme cepat.


Dalam 2 jam terakhir, Aurora sudah menghabiskan 3 botol infus. Cepat sekali, Bukan?.


Badannya sangat panas dan wajahnya sangat pucat.


"Pa, Kasihan anak kita. Pasti dia sangat terpukul" Ucap Safira pada sang suami.


Aditya hendak menjawab, Namun dering handphone nya mengurungkan niatnya untuk menjawab ucapan sang istri.


"Papa angkat telfon dulu!" Ucap Aditya. Safira pun mengangguk.


"Bagaimana?" Ucap Aditya to the point pada orang diseberang sana.


"....."


"Cari sampai ketemu! Kalian harus menemukan Arkhan dan Elena dengan atau tanpa nyawa" Ucap Aditya terasa berat. Sekuat tenaga dia menahan tangis.


Aditya mengakhiri sambungan telfonnya.


"Ar, Secepat itukah kamu pergi? Aku bahkan belum sempat merasakan jadi besanmu sesungguhnya. Jangan khawatir, Ar. Aku akan memperlakukan Aurora layaknya putriku sendiri. Aku janji!" Lirih Aditya sembari mengusap airmatanya.


"Papa tau kamu sangat terpukul, Rora! Papa aja sangat terpukul, Apalagi kamu!"


Setelah menerima telfon tersebut, Aditya pun balik ke ruangan Aurora dan kembali duduk di samping sang istri.


"Papa sama Mama pulang aja, Kalian harus istirahat. Besok kerja, Kan?" Ucap Angkasa datar.


"Nggak! Mama mau disini nemenin kamu. Papa aja yang pulang. Papa pulang, Ya?" Ucap Safira sembari memandang sang suami.


"Yasudah, Papa pulang sekalian ada urusan. Nanti Papa suruh Mbok Siti kesini antar baju kalian" Ucap Aditya.

__ADS_1


Aditya pun pulang untuk mengurus masalah ini, Bagaimana pun juga, Dia harus turun tangan.


Bersambung......


__ADS_2