
Keadaan kampus sudah kacau. Berita simpang siur tersebar kemana-mana. Entah darimana berita tentang Serena itu, yang jelas saat ini sudah menyebar sampai ke penjuru kampus.
Angkasa panik mencari Aurora. Bukan ini yang dia harapkan. Dia hanya berharap Aurora mau memberi celah untuknya agar bisa membantu masalah ini.
Bukan apa-apa, Angkasa juga dilema dengan masalah ini. Di satu sisi, dia tidak mungkin membiarkan anak didiknya rusak akibat salah pergaulan, citra kanpusnya pun akan menurun. Di sisi lain, Awan adalah sahabat yang selalu ada untuknya.
***
Aurora terus menelfon Serena, dia bingung harus melakukan apa. Yang ada dipikirannya hanya Serena.
"Angkat Anjing! Gue takut lo down!" Gumam Aurora sembari terus mendial nomor Aurora.
Aurora bergegas pulang dan berniat mencari Serena.
Ketika Aurora hendak membuka pintu mobil, terdengar teriakan Angkasa yang berhasil menghentikan kegiatannya.
"Tunggu! Kamu mau kemana?" Teriak Angkasa.
Angkasa menyusul Aurora dengan langkah cepat.
"Mr ngapain ikutin saya?" Bentak Aurora.
"Rora, kamu mau kemana? Kelas akan dimulai!" Tegas Angkasa.
"Gue nggak peduli! Yang gue peduli cuma Serena! Gimana keadaan dia sekarang" Cicit Aurora.
"Kita cari mereka sama-sama. Mumpung yang lain belum tahu" Yang dimaksud 'yang lain' adalah teman-teman kampus Aurora.
"Mr gila? Nggak mau! Saya mau cari sahabat saya sendiri!" Bentak Aurora lagi.
Namun, hal itu tak diindahkan Angkasa, Dia lebih memilih menarik pergelangan tangan Aurora dan membawanya masuk ke dalam mobil Aurora.
"Biar aku yang nyetir" Tukas Angkasa tak ada penolakan.
Aurora hanya pasrah, ada benarnya jika Angkasa ikut, pikirannya sedang kacau. Entah apa yang terjadi jika dia ngotot menyetir dan melamun di jalan raya.
"Kita ke apartmen Awan aja" Pungkas Angkasa. Dia akan mencari Awan dan Serena, masalah foto-foto yang tersebar di akun para dosen, dia sudah meminta rektor untuk menangani.
Flashback On
Ting!
Angkasa membulatkan matanya saat melihat beberapa foto tersemat di grup Dosen Universitas Dharma Bakti.
Foto-foto tersebut berisi tentang Serena yang dengan jelas terlihat bersama seorang pria. Foto Serena yang sedang berciuman dengan Awan tentunya, namun posisi Awan membelakangi kamera.
"Saya menerima pesan dari nomor tidak di kenal. Ini Mahasiswi fakultas Ilmu Hukum di kampus kita. Saya tidak habis pikir, kenapa ada anak seperti ini di kampus kita?"
~Rektor.
__ADS_1
Angkasa memijat pelipisnya. Dia mengira foto tersebut hanya dimilikinya, namun semua Dosen sudah mengetahui hal tersebut. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan sahabat dan juga mahasiswinya itu. Apa alasan Serena sehingga dia rela mengorbankan tubuhnya?.
Angkasa tersentak, dia segera berlari mencari Aurora. Untuk menangani masalah ini, tidak mungkin dia membiarkan Aurora sendiri.
Flashback Off
"Mr, anda kan ada jadwal mengajar? Sebaiknya anda mengajar saja, kasihan anak-anak"
"Nggak! Aku udah izin sama rektor" Jawab Angkasa singkat.
Angkasa melajukan mobil Aurora membelah jalanan padat tersebut. Ini pertama kalinya dia berdua di dalam mobil bersama perempuan setelah sekian lamanya.
Ada perasaan aneh menyelimuti hatinya, mengapa dia keukeuh ingin mendampingi Aurora? Entahlah, rasanya lega jika Aurora aman.
Tak perlu waktu lama, Mobil yang mereka tumpangi pun tiba di basement apartmen Awan.
Aurora bergegas turun dan berlari menuju lift. Angkasa sejenak tersentak, mungkinkah Aurora tau berapa nomor kamar Awan? Pikirnya. Namun, sejurus kemudian dia pun menyusul Aurora.
Sembari lift berjalan, Aurora terus mendial kontak Serena. Namun tetap saja nihil.
Tiba-tiba handphone nya berdering, terlihat nama kontak 'Mama' dihandphone nya.
Aurora segera menggeser tombol hijau di layarnya.
"Halo, Ada apa, Ma?" Sapa Aurora.
Aurora bersikap setenang mungkin berharap Elena tidak curiga.
Tanpa menanti jawaban Aurora, Elena pun memutuskan sambungannya.
Aurora mengernyit bingung. Ada apa lagi dengannya? Kenapa masalah selalu datang silih berganti. Pikirnya.
"Ada apa, Ra?" Tanya Angkasa cemas.
"Mama saya nyuruh pulang sekarang, Mr!"
"Yaudah, aku antar kamu pulang"
"Jangan! Mr lanjutin aja, aku pulang sendiri" Tolak Aurora.
"Nggak! Keadaan kamu nggak stabil. Aku takuf kamu kenapa-kenapa dijalan"
"Maksudnya, kamu kan harus nemuin Serena. Gimana jadinya nanti kalau kamu kenapa-kenapa?" Kilah Angkasa gugup.
Aurora mengangguk. Dia bingung dengan sikapnya sendiri. Kenapa menurut saja, maksud hati ingin menolak keras, Namun badan dan pikirannya tidak sinkron.
***
Sesampainya di rumah, Elena dan Arkhan sudah menunggunya di teras.
__ADS_1
"Kenapa lama?" Tanya Arkhan dengan pandangan tajam.
"Ada apa, Ma? Pa?" Tanya Aurora bingung. Sementara Angkasa hanya diam menyaksikan.
"Darimana kamu? Cari ****** kecil itu? Mama nggak habis pikir sama Serena. Kenapa dia kayak gitu? Mulai sekarang Mama dan Papa melarang keras kamu berdekatan dengan dia!" Tukas Elena.
Aurora tercengang. Darimana Mamanya bisa tahu mengenai hal ini? Pikirnya. Tak terkecuali Angkasa. Dia pun tersentak mendengar ucapan Elena.
"Mama! Apa-apaan Mama ngomong kayak gitu?" Sentak Aurora.
Angkasa yang melihat Aurora melawan sang Mama pun segera menarik pergelangan tangannya pelan.
"Jaga bicaramu! Beliau Mama kamu!" Bisik Angkasa.
Dengan cepat Aurora melepas cekalan Angkasa dan mendegus kasar.
"Mama salah paham....."
"Salah paham apanya, Rora! Jelas-jelas anak itu pembawa pengaruh buruk!" Tegas Elena.
"Mama nggak ngerti gimana Serena selama ini!"
"Emang gimana? Berapa laki-laki yang sudah meniduri dia? Berapa? Kamu juga, apa kamu juga pernah? Kalian bersahabat! Mama takut kamu terjebak ke dalam lubang dosa itu!" Kini mata Elena sudah dipenuhi air. Perlahan airmatanya terjatuh dengan emosi menyelimuti.
"Mama kenapa ngomong gitu? Mama bener-bener berpikir kalau aku ikut jejak Serena? Mama jahat!" Teriak Aurora.
"Tante, Aurora bukan gadis seperti itu!" Tukas Angkasa. Yang sedari tadi diam.
Elena dan Arkhan menyadari adanya Angkasa. Mereka menajamkan pandangan.
"Angkasa! Kenapa kamu kesini bersama putri saya? Kalian juga sama seperti Serena dan Sugar Daddy-nya itu?! Mama benar-benar kecewa sama kamu!" Teriak Elena.
Elena berbalik badan dan berlari memasuki rumah. Dia mengira jika Aurora mengikuti jejak Serena bersama Angkasa. Karena akhir-akhir ini Angkasa sering datang ke rumahnya tanpa tujuan. Bisa saja kan jika mereka ada hubungan secara diam-diam.
Arkhan yang sedari tadi diam mematung pun mengikuti langkah sang istri. Sejenak dia menatap kearah Aurora dan Angkasa.
"Papa.... Papa pasti percaya sama Rora?" Ucap Aurora, Namun Arkhan hanya diam dan berlalu.
"Arghhh......" Teriak Aurora.
"Rora, sebaiknya kamu istirahat dulu, Masalah Awan dan Serena biar saya yang atur" Ucap Angkasa.
"Dari awal saya udah nolak kalau Mr ikut, Mr juga pembawa bencana bagi saya!" Ucap Aurora menekan kata-katanya.
"Maaf...." Lirih Angkasa.
Aurora tak mengindahkan, dia segera berlari masuk dan menuju kamarnya.
Angkasa menatap kepergian Aurora dengan perasaan aneh. Ada apa dengan dirinya sebenarnya? Pikirnya.
__ADS_1
Bersambung........