
Aurora sedang dalam perjalanan pulang bersama Angkasa. Keduanya sama-sama bungkam tanpa mau menyapa satu sama lain. Pikiran mereka melayang entah kemana.
Angkasa melajukan mobil sport nya dengan kecepatan sedang. Dia masih memikirkan pernikahan dadakannya dengan sang Mahasiswi.
Tak terasa, Saat ini mereka sudah sampai di apartmen milik Angkasa. Memang, Angkasa memiliki Apartmen mewah yang jarang di tempati. Dia akan menempati Apartmen tersebut jika sedang ada msalah dirumah.
Angkasa memarkirkan mobilnya di basement dan turun tanpa mengajak Aurora.
Semntara Aurora hanya diam tanpa berniat untuk turun. Dia bingung harus melakukan apa, Tadi saat kedua orang tuanya pulang, Elena berpesan jika Aurora harus ikut dengan Angkasa.
Tok tok tok
Ketukan pada kaca mobil menyadarkan Aurora. Dengan malas Aurora membuka pintu mobil dan turun.
"Mulai sekarang kita satu atap! Kamu tanggung jawab aku. Dan, Ingat! Sekarang aku adalah suamimu!" Ucap Angkasa dingin.
Aurora kaget, Sikap Angkasa berubah berkali-kali lipat. Jika biasanya Angkasa bersikap dingin pada umumnya, Tapi tidak dengan sekarang, Sikap dingin itu bertambah ribuan persen.
Angkasa berjalan menuju kamarnya dengan Aurora yang mengekor di belakang.
Angkasa membuka akses pintu tersebut dengan kartu akses dan pintu pun langsung terbuka.
Kesan pertama saat memasuki ruangan tersebut sangat menarik. Aurora berdecak kagum melihat desain interior ruangan tersebut. Ruangan yang di dominasi warna hitam dan putih, Dengan beberapa lukisan dinding terkenal yang harganya sangat fantastis.
Satu lukisan yang menarik perhatian Aurora. Lukisan yang menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan sedang menatap satu sama lain dengan senyum merekah bahagia.
"Itu 'kan dia? Tapi sama siapa?" Batin Aurora.
__ADS_1
Aurora menggedikkan bahunya tak perduli. Toh bukan urusan dia. Pikirnya.
"Ini baju buat kamu. Maaf menunggu lama. Tadi ada kurir yang mengantar baju pesananku" Jelas Angkasa.
"Baju apa? Baju yang saya pakai ini masih bersih. Saya tidak mau menerima!" Tegas Aurora.
"Di dalam paper bag ini berisi baju rumahan. Saya yakin kamu tidak akan nyaman memakai baju seperti itu" Jelas Angkasa sembari melirik baju Aurora dari atas hingga kebawah.
Jujur memang iya, Karena Aurora memakai dress selutut tanpa lengan dan juga sepatu heels.
Aurora menyambar paper bag tersebut dengan wajah kesal.
"Saya gerah, Mau mandi. Dimana kamar saya?" Tanya Aurora ketus.
"Kamar kita ada diatas. Silahkan kalau mau mandi duluan. Aku tunggu disini" Ucap Angkasa.
"Apartmen ini hanya punya satu kamar. Terserah kamu kalau tidak mau. Saya tidak memaksa"
"Mr sengaja, Ya? Saya benci dengan anda!" Teriak Aurora lalu berjalan kearah tangga.
Angkasa hanya mengelus dadanya dan mengontrol emosi. Jangan sampai dia kelewatan.
"Sabar! Ini baru satu jam, Angkasa! Belum ada satu hari" Gumam Angkasa pada diri sendiri.
Sepeninggal Aurora, Angkasa pun mendudukkan diri di sofa ruangan tersebut. Sejenak dia memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sangat pusing seakan hampir pecah.
***
__ADS_1
Di bawah guyuran shower, Aurora menangis dan berteriak meluapkan emosinya. Dia marah, kesal, dan kecewa dengan kedua orang tuanya. Kenapa mereka begitu tega membuangnya? Bahkan terikat pernikahan dengan cara menjijikkan seperti itu.
"Mama, Papa, Rora mau pulang!" Teriak Aurora.
Setelah menyelesaikan acara mandinya, Aurora pun memakai stelan rumahan yang didapat dari Angkasa tadi.
Celana hotpants dan kaos oblong sederhana namun terkesan cantik ditubuh mungil Aurora.
"Males banget keluar. Dia ada disini, nggak ya?" Gumam Aurora.
Ceklek
Aurora membuka pintu kamsr mandi. Dilihatnya Angkasa yang sedang merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Enak banget kayak nggak ada beban. Jangan-jangan dia seneng lagi nikah sama gue?" Gumam Aurora. Namub, sangat jelas terdengar di telinga Angkasa.
"Saya juga nggak terima, Tapi saya tetap bersikap tenang supaya bisa berfikir. Seharusnya kamu menyimpan tenagamu untuk memikirkan rencana selanjutnya. Bukan kamu saja yang tertekan, Saya juga!" Ucap Angkasa tanpa membuka mata yang sukses membuat Aurora berjingkat kaget.
Aurora segera menetralkan dirinya dan mulai mendekati Angkasa. Dia duduk di pinggiran kasur dengan posisi membelakangi Angkasa.
"Terus, Apa rencana Mr selanjutnya? Saya sih maunya Mr menceraikan saya, Sekarang juga boleh. Lebih cepat lebih baik. Toh, Kita baru menikah secara agama"
"Tidak akan semudah itu, Aurora! Kalau kamu sudah berada ditangan saya, Itu tandanya kamu sudah sah menjadi milik saya!" Tegas Angkas.
Angkasa pun berlalu menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Aurora.
"Aargghh.... Masalah apalagi ini, Tuhan!" Teriak Aurora.
__ADS_1
Bersambung......