SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 12: RENCANA JEBAKAN


__ADS_3

Hari ini, Arkhan sengaja mengambil cuti dan ingin mengundang keluarga Aditya untuk bertemu.


"Mama, Bentar lagi Aditya dan Safira akan kesini, Papa mengundang mereka untuk makan siang bersama. Mama masak banyak, Ya?" Ucap Arkhan kepada Elena.


Elena mengerutkan dahinya, Bingung dengan ucapan sang suami. "Papa ngapain undang mereka siang-siang? Bukankah Mas Adit Kerja? Mbak Safira juga pasti sedang sibuk di butik" Ujar Elena.


"Mereka udah bilang kalau bisa, Mereka meluangkan waktu untuk kita. Papa udah lama nggak ketemu sama mereka, Banyak yang ingin Papa ceritakan ke mereka, Ma!"


Elena menggedikkan bahunya. Dia tak berniat meneruskan percakapan itu, Biarlah suaminya melakukan hal sesuka hatinya.


Setelah Arkhan bilang bahwa Aditya dan istrinya akan berkunjung, Elena pun memasak di bantu oleh asisten rumah tangganya.


"Bu, Tumben ya Bapak ngundang Pak Aditya sama istrinya" Ucap Sri, Asisten rumah tangga keluarga Elena.


"Saya juga bingung, Sri. Ada aja kelakuan Bapak" Timpal Elena.


"Sri, Kamu lanjutin dulu, Ya. Saya mau bicara sama Bapak" Ucap Elena dan di angguki oleh Sri.


Elena berjalan menuju ruang kerja sang suami. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan di lakukan sang suami.


"Mas, Aku masuk, Ya?" Ucap Elena lalu menarik handle pintu ruang kerja tersebut.


Di dalam ruangan tersebut, Menampilkan Arkhan yang sedang fokus berkutat dengan laptopnya.

__ADS_1


"Mama! Ada apa? Apakah Aditya dan Safira sudah kemari?" Tanya Arkhan mengalihkan pandangannya.


"Belum. Mas, Sebenarnya apa rencana kamu? Kenapa tiba-tiba kamu cuti dan mengundang Mas Adit dan Mbak Fira kesini?" Tanya Elena penasaran.


"Entahlah, Sayang. Belakangan ini pikiranku sedang kacau. Semakin hari aku semakin takut kehilangan putri kita satu-satunya. Aku berencana menjodohkan putri kita dengan anak sulung Aditya. Angkasa, Kamu tau, Kan? Sikap dan perilaku Angkasa? Sejauh ini dia sangat baik. Tak pernah aku mendengar kabar miring tentangnya. Dengan aku menjodohkan putri kita dengan Angkasa, Mungkin aku akan bisa pergi dengan tenang" Ucap Arkhan ambigu.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Emang kamu mau pergi kemana?" Tanya Elena serius.


"Hahaha.... Sayang! Aku ini seorang pembisnis. Sama dengan Aditya! Mungkin saja kan, Nanti kita akan dinas keluar kota, Bahkan keluar negeri? Dengan begitu aku bisa tenang. Karena putri kita sudah ada yang menjaga" Jawab Arkhan diselingi candaan.


"Entahlah, Mas! Tapi, Aku tidak yakin Aurora akan menerima ini semua!"


"Yakinlah, Sayang. Menerima atau tidak, Aku akan sedikit memaksa"


Elena diam, Pikirannya bercabang. Elena sangat kasihan dengan Aurora, Kenapa masalah bertubi-tubi datang kepada sang anak.


30 Menit yang lalu, Aditya dan Safira sudah sampai di kediaman Arkhan. Mereka sedang berbincang-bincang hangat sembari menunggu makan siang.


"Ar, Bagaimana bisnis kamu?" Tanya Aditya di sela pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah lancar, Dit. Bagaimana denganmu? Aku dengar saat ini bisnismu sedang berkembang pesat?"


"Iya, Ar. Alhamdulillah tuhan memberiku kepercayaan. Doakan semoga bisnisku baik-baik saja. Dan, Aku doakan bisnismu juga segera meningkat" Ucap Aditya dan di balas Aamiin oleh semuanya.

__ADS_1


"Tumben kamu mengundangku dan Safira. Ada hal penting apa?" Tanya Aditya serius.


"Ah, Aku hanya ingin membahas masa depan denganmu. Umur tidak ada yang tahu, Dit. Entah besok, Lusa, Atau bahkan hari ini kita di panggil, Tidak ada yang tahu. Aku cuma mau merasakan ketenangan dan kehabagiaan saat ini. Makanya aku mengundangmu dan Safira kemari. Maaf sudah mengganggu pekerjaan kalian" Jelas Arkhan.


"Semoga kita dijauhkan dari mara bahaya dan diberi umur yang panjang. Pasti seru kalau kita masih hidup dimasa cucu kita besar nanti"


"Nah, Dit. Bicara soal anak cucu, Bagaimana jika anakmu dan anakku menikah? Melihat Angkasa, Aku jadi yakin kalau Angkasa bisa bertanggung jawab menggantikanku menjaga Aurora. Aku suka melihat sikap anakmu. Kamu sudah berhasil mendidik Angkasa, Berwibawa, tegas, dan tampan" Ucap Arkhan diselingi tawa di akhir kalimatnya.


"Menikahkan mereka? Arkhan, Anakku sudah berumur 28 tahun. Apa anakmu mau? Menikah dengan laki-laki tua seperti anakku?" Ucap Aditya sembari tertawa.


"Umur itu tidak menjadi permasalahan, Dit. Yang terpenting adalah cinta dan kesetiaan. Memang, Anakku menolak keras. Namun, Aku punya rencana yang cukup gila" Jelas Arkhan.


"Papa! Jangan nekat!" Peringat Elena khawatir.


"Mama tenang aja, Papa nggak akan melukai mereka! Papa hanya ingin putri kita mendapat pendamping yang tepat!"


"Apa rencanamu, Ar?" Tanya Aditya.


"Ayo kita bekerja sama dengan kampus untuk menjebak mereka. Giring mereka untuk berduaan dan grebek mereka. Dengan tidak memberi kesempatan mereka untuk menjelaskan, Aku yakin mereka akan pasrah dan mau dinikahkan. Ayolah, Dit. Aku mau melihat anakku menikah dengan anakmu. Dengan begitu, Aku bisa tenang melepas Aurora. Setidaknya jika besok-besok aku telah tiada"


"Tapi Mas Arkhan! Kenapa harus dengan cara seperti itu? Tidak berkelas sekali!" Cibir Safira yang sedari tadi diam.


"Safira, Percayalah padaku. Aku yakin rencana ini akan berhasil. Percayalah!" Ucap Arkhan keukeuh meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah, akan kita coba" Putus Aditya. Entah mengapa dia setuju dengan rencana itu.


Bersambung......


__ADS_2