SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 25: SERENA PULANG 2


__ADS_3

Angkasa dan Serena sama-sama terkejut. Mereka saling menatap hingga beberapa detik. Sadar akan keterkejutan masing-masing, Mereka pun memutuskan kontak mata seraya Serena mendekat.


"Rora! Lo kenapa bisa kayak gini?" Pekik Serena lalu berlari kecil mendekati brankar.


Semua mata memandang gadis berpenampilan seksi itu. Aditya, Safira, dan Sri.


Sri yang melihat sahabat sang majikan pun sama terkejutnya, Yang Sri tahu, Akar dari masalah ini adalah Serena.


"Non Serena? Kenapa Non bisa disini?" Ucap Sri setengah berteriak.


"Mbak Sri? Aku dikasih tau Pak Gani kalau Aurora dirawat di rumah sakit" Jelas Serena.


"Non! Apa Non tau apa yang selama ini terjadi sama Non Aurora? Semua ini gara-gara Non Serena! Gara-gara Non Serena Non Aurora sakit" Ucap Sri dengan emosi tak terkontrol. Bulir-bulir airmata pun jatuh membasahi pipinya.


Safira mendekati Sri, Menyentuh pundaknya untuk menenangkan. Bagaimana pun juga ini di rumah sakit, Keadaan harus tenang, Untuk menghormati orang sakit.


"Sri, Kasihan Aurora. Kamu harus tenang" Ucap Safira lembut.


"Bagaimana saya bisa tenang, Bu? Non Aurora sakit, Bahkan Bapak dan Ibu sudah tiada" Tangis Sri pecah.


Sungguh, Sri sangat terpukul dengan keadaan sekarang. Dia masih tak menyangka jika sang majikan sudah tiada.


"Mbak? Maafin aku! Aku nggak bermaksud buat keadaan kacau" Ucap Serena.


"Tenanglah, Sri masih trauma. Kamu jangan memaksa dia. Saya tau kamu sahabat Aurora. Silahkan mendekat, Mungkin jika kamu berada disampingnya, Aurora akan segera membuka matanya" Ucap Safira lembut.


"Terima kasih, Tante" Ucap Serena. Dia pun mendekati brankar sembari menatap Aurora nanar.


"Ra! Ini gue" Lirih Serena.


"Stop! Cukup disitu aja, Jangan sentuh istriku!" Ucap Angkasa dingin nan datar.


Serena mendongak, Menatap Dosen Killer yang tengah berdiri disamping kanan brankar itu.


"Apa dia bilang? I-istri?" Batin Serena.


"Kenapa? Kaget? Dia istri saya! Kemana saja kamu? Kenapa baru datang sekarang? Apa itu kebiasaan kalian? Lari dari masalah. Lihatlah istri saya, Terbaring lemah. Jika kalian tidak lari dari masalah, Mungkin ini semua tidak akan terjadi" Ucap Angkasa dingin.


"M-maaf, Mr! Aurora....."


Belum sempat Serena meneruskan kata-katanya, Mereka dikejutkan oleh suara lirih Aurora.


"Mama.... Papa....." Lirih Aurora. Suaranya tercekat ditenggorokan.

__ADS_1


"Ssyang? Kamu udah bangun?" Ucap semuanya.


Dengan cepat Angkasa memegang tangan dingin Aurora.


"Hei, Kamu udah bangun?" Satu tetes airmata berhasil lolos. Entah kenapa, Sekarang dia sangat bahagia bisa menikah dengan Aurora.


"Mama..... Papa.... Rora mau kalian!" Lirih Aurora.


"Hiks..... Hiks....."


"Hei....." Angkasa tersenyum. Akhirnya sang istri mau membuka mata.


Angkasa memencet tombol yang terhubung dengan ruangan Dokter. Tak lama, Dokter dan beberapa suster berlari masuk ke dalam dengan raut wajah khawatir.


"Dokter! Istri saya sadar!" Ucap Angkasa bahagia.


Tanpa berbicara, Dokter pun segera memeriksa keadaan Aurora.


"Mohon Bapak mundur sebentar, Saya akan periksa pasien" Ucap Dokter. Angkasa dan Serena pun menurut, Mereka mundur beberapa langkah memberi jalan untuk Sang Dokter.


Dengan serius Dokter tersebut memeriksa keadaan Aurora. Setelah itu, Hembusan nafas lega terdengar dari Dokter tersebut.


"Pak Angkasa, Syukurlah Nona Aurora sadar. Secara keseluruhan, Nona Aurora sudah baik-baik saja. Namun, Karena beberapa hari tidak menyentuh makanan, Daya tahan tubuhnya menurun. Mohon dipastikan setelah ini, Nona Aurora makan dengan teratur, Sesuai anjuran rumah sakit" Ucap Dokter Ivan.


"Saya paham dengan maksud anda. Anda bisa datang ke ruangan saya untuk memastikan" Ucap Dokter Ivan.


"Baik, Dok! Saya akan keruangan anda secepatnya"


Setelah percakapan tersebut, Dokter Ivan dan beberapa suster pamit.


Aurora masih bingung karena pusing melanda.


"Rora!" Lirih Serena menangis. Aurora yang mendengar panggilan dari suara familiar tersebut pun menoleh dengan lemah.


Lelehan airmata pun lolos dari mata indahnya.


"Serena...." Lirih Aurora. Senyum bahagia terpancar dari wajah pucatnya.


"I-ini beneran lo?" Lirihnya.


"Iya, Aurora! Ini gue, Hiks..... Hiks....." Serena memeluk tubuh lemah Aurora. Mereka menangis dalam pelukan masing-masing.


Angkasa hanya diam menyaksikan. Untuk saat ini biarlah sang istri merasakan bahagia, Walaupun suatu saat dia akan melarang keras Aurora berhubungan lagi dengan Serena.

__ADS_1


"Ser! Lo kemana aja?" Tanya Aurora dengan nada lemah.


"Gue nggak kemana-mana! Lo tenang, Ya? Gue bakal disini nemenin sahabat gue!" Ucap Serena.


"Jangan ilang-ilangan lagi!"


"Hiks.... Iya, Tuan putri Aurora!" Jawab Serena tersenyum.


***


Aurora mengedarkan pandangannya. Sedari tadi dia tak melihat Mama dan papa nya. Dimana mereka?


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat teringat berita yang dia tonton saat itu.


3 Hari yang lalu, Saat dia masih memiliki kesarana penuh.


"Mama...... Papa...... Hiks" Tangis Aurora pecah tiba-tiba.


Semua yang ada di ruangan tersebut kaget mendengar jeritan Aurora.


"Nggak mungkin!"


"Rora! Kamu tenang, Ya?" Tangis Aurora semakin keras semakin dia mengingat.


"Mama dan Papa udah tenang di surga" Lirih Angkasa.


Aurora hanya bisa menangis mendengar penuturan sang suami.


"Nggak mungkin! Papa sama Mama pasti masih disini! Kalian pasti bohong, Nggak lucu bohong kayak gini! Mama sama Papa dimana?"


"Sayang! Kamu harus percaya, Mama dan Papa udah nggak ada! Mereka udah tenang disana!" Tegas Angkasa.


Aurora semakin terisak. Dia pikir kejadian itu hanya mimpi. Dan, Bagaimana bisa dia tidak ikut mengantarkan kedua orang tuanya ke peristirahatan terakhir mereka.


"Maafin Rora, Ma! Pa! Bahkan diperistirahatan terakhir kalian, Rora nggak ada disana! Rora bodoh! Rora emang anak durhaka!" Ucap Aurora seraya memukul-mukul kepalanya.


Angkasa pun segera memeluk istri kecilnya itu dan mengcekal tangan Aurora.


"Ini semua takdir, Sayang! Kamu harus ikhlas! Ikhlasin Mama sama Papa, Ya?" Ucap Angkasa. Hatinya sakit melihat Aurora seperti itu.


Semua yang ada dalam ruangan tersebut pun ikut menangis. Kasihan dengan Aurora yang kini hidup sebatangkara tanpa kasih sayang orang tua.


"Gue pikir lo lebih tangguh dari gue, Ra! Tapi ternyata gue salah. Kebahagiaan emang nggak bisa diukur dengan apapun. Lo yang tabah. Gue yakin lo kuat!" Batin Serena.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2