
Kini Aurora dan Angkasa tengah melajukan mobil dengan perlahan. Tak ada percakapan diantara mereka. Sejak kejadian ciuman tadi, Aurora menjadi sedikit canggung pada Angkasa.
"Yang, Kita mampir di supermarket bentar nggak apa-apa, kan? Aku haus" Ucap Angkasa memecah keheningan.
"Iya" Singkat Aurora.
Angkasa pun membelokkan stir mobilnya menuju supermarket 24 jam.
"Kamu ikut turun nggak?" Tanya Angkasa saat dia akan turun.
Aurora mengangguk. Hanya jawaban singkat yang Aurora beri sedari tadi. Bahkan Aurora tak berani menatap Angkasa secara langsung.
Mereka pun turun dan memasuki supermaket tersebut.
"Aku mau pilih buah-buahan dulu" Ucap Aurora berniat memisahkan diri.
"Tunggu bentar. Aku ambil air mineral" Cegah Angkasa sembari menarik pelan tangan Aurora.
Aurora mencebik kesal. Niatnya ingin memisahkan diri karena mau menetralkan degup jantung eh nggak ada kesempatan. Mau tak mau dia harus mengikuti.
Setelah mengambil dua botol air mineral, Angkasa pun berbalik dan mengajak Aurora ke stand buah-buahan.
Aurora yang memang niat awalnya ingin memisahkan diri pun bingung akan membeli buah apa. Rasanya setiap buah yang dilihatnya ada dikulkas rumahnya.
"Dikulkas ada semua. Masa kamu mau beli lagi?" Tanya Angkasa heran.
"Masa? Aku nggak inget" Kilah Aurora.
"Ada semua. Kemarin Mbok Junah baru restock. Ayo kita cari makanan ringan aja" Ajak Angkasa.
Aurora hanya mengangguk. Dia pun mengikuti Angkasa menuju rak makanan ringan.
Terlihat Angkasa dengan cekatan mengambil beberapa snack dan setelah itu dibawa ke kasir.
Aurora hanya diam sembari melihat sang suami.
Tak cuma itu, Angkasa yang melihat beberapa batang coklat itu juga menyambar beberapa batang.
__ADS_1
"Sama yang ini, Kak" Ucap Angkasa pada Mas-mas kasir.
Belanjaan sudah menjadi satu di dalam plastik, Kini Aurora dan Angkasa keluar dengan menenteng plastik belanjaan.
"Nih, Minum" Ucap Angkasa menyodorkan satu botol air mineral. Sebelum diberikan pada Aurora, Angkasa terlebih dahulu membuka tutup botolnya.
Aurora menerima dan meminumnya hingga sisa setengah.
"Habis ini mau jalan-jalan dulu, Nggak?" Tanya Angkasa.
"Kemana?"
"Taman kota atau kemana, gitu? Pacaran dulu lah, Biar kayak anak muda zaman sekarang"
Aurora tersenyum. Memang sih, Suaminya ini tergolong tua, Namun jika ada orang yang baru melihatnya, Mungkin mereka menyangka bahwa Angkasa baru lulus SMA.
***
Aurora dan Angkasa sudah tiba di taman kota. Mereka menikmati keindahan taman yang bersih dan segar di siang hari ini.
"Tapi panas" Ucap Aurora kesal.
"Sorry, Sayang. Panas ya?" Angkasa pun mengajak Aurora berteduh sembari makan siang.
"Kita kesana yuk? Mumpung jam makan siang" Ucap Angkasa sembari menunjuk salah satu warung makan sederhana.
"Beneran disana?" Ulang Aurora.
Bukannya apa-apa, Dia malah kaget Angkasa mau makan diwarung sederhana seperti itu.
"Kamu nggak mau?" Tanya Angkasa.
"Bukan gitu, Tapi emang kamu mau?"
"Kenapa enggak? Makan dimana aja aku bisa"
Mereka pun berjalan mendekati warung tersebut.
__ADS_1
Namun, Langkahnya terhenti saat mendengar jerit tangis bayi yang entah dari mana suaranya itu.
Disini sepi, Hanya ada suara gemercik air mancur ditengah taman.
Angkasa dan Aurora saling pandang, Apakah mereka halusinasi atau memang mereka berdua mendengar tangis bayi tersebut?
"Mas, Kamu dengar sesuatu?" Tanya Aurora yang sudah diam mematung.
"Iya, Kamu juga dengar?" Angkasa berbalik tanya.
Aurora mengangguk. "Dimana asalnya?"
"Entahlah, Ayo kita cari" Usul Angkasa.
Aurora pun mengangguk lagi dan mereka mencari sumber suara tersebut.
Perlahan mereka mencari sumber terkuat suara tangis bayi tersebut dan pandangan mereka tertuju pada semak-semak didekat pohon beringin.
"Disana, Mas!" Pekik Aurora. Dia pun berlari mendekati semak-semak tersebut dan membelah dedaunan tersebut.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati seorang bayi mungil yang masih merah tergeletak disana tanpa alas apapun.
"Mas?! Dia disini!" Teriak Aurora. Angkasa pun mendekatinya dan sama terkejutnya saat mendapati bayi tersebut.
"Astaghfirullah..... Bayi siapa ini? Tega sekali orang tuanya" Ucap Angkasa.
"Ututu sayang, Cup cup" Aurora pun mengambil bayi tersebut dan mendekapnya seraya menyalurkan kehangatan.
"Mas, Kita harus bawa dia ke rumah sakit. Detak jantungnya melemah" Ucap Aurora gugup.
"Tapi, Gimana kalau orang tuanya mencari?"
"Persetan dengan semua itu, Mas mau dia kenapa-napa? Lagian, Kalau ada orang tuanya, Kenapa dia dibiarin disini sendirian? Bahkan tanpa memakai apapun. Ayo Mas kita bawa sekarang" Ucap Aurora.
Angkasa bingung sekaligus gugup. Dia hanya mengiyakan setiap perkataan Aurora dan segera membawa bayi itu ke rumah sakit.
Bersambung......
__ADS_1