
Setelah menjenguk dan menggendong bayi itu, Aurora dan Safira pun kembali pulang. Namun, Bukan lagi dengan supir mereka pulang, Tetapi dengan Angkasa.
Setelah selesai mengajar, Angkasa memang sengaja menjemput Aurora dan Safira ke rumah sakit. Bagaimana pun, Angkasa juga ingin melihat secara langsung perkembangan bayi itu.
"Tumben kamu langsung kesini, Bang? Mama sama Rora kan diantar supir, Jadi nggak usah khawatir gitu" Ucap Safira membuka percakapan.
"Pengen aja" Jawab Angkasa dingin.
Aurora hanya menjadi pendengar, Rasa takutnya lebih mendominasi.
"Abang kecapekan kayaknya deh, Ra. Makanya nggak semangat gitu" Pancing Safira.
Aurora hanya tersenyum kikuk dibalik kaca spion, Saat ini dia tak berani berkomentar apapun. Sumpah rasanya sangat tidak nyaman.
"Iya capek, Capek sama kelakuan orang yang nggak mikir dulu kalau mau lakuin sesuatu" Sindir Angkasa sembari melirik Aurora.
Merasa dilirik, Aurora pun memberanikan diri menatap laki-laki yang sedang mengemudi di sampingnya itu.
Aurora berganti menatap horor ke arah Angkasa, Apa maksud ucapan Angkasa tadi? Pikir Aurora.
Mendapati tatapan Aurora, Angkasa hanya diam dan mengalihkan pandangan.
Alhasil mereka pun tak ada yang berbicara sampai mereka tiba di rumah.
"Ma, Rora mau keatas dulu, Mau mandi" Ucap Aurora pamit pada Safira.
"Iya sayang. Mama juga mau mandi" Ucap Safira.
Merasa diabaikan, Angkasa pun segera menyusul Aurora.
"Maksud kamu apa jalan sama Ransell itu berduaan?" Tanya Angkasa saat mereka sampai di kamar.
"Ansell, Mas" Ucap Aurora membenarkan.
"Bodo amat! Aku butuh jawaban bukan komentar" Ucap Angkasa dingin.
Menyadari perubahan nada bicara Angkasa, Aurora pun menghela nafas dan duduk dikasur.
__ADS_1
"Sini duduk. Aku jelasin" Ucap Aurora dengan sabarnya sembari menepuk pelan kasur di sampingnya.
Angkasa hanya menatap datar tanpa ekspresi dan ijut duduk di samping Aurora.
"Huuhh.... Capeknya" Keluh Aurora sembari menyandarkan kepalanya dibahu Angkasa.
Meskipun deg-deg an karena baru pertama kali memulai kontak fisik, Aurora memberanikan diri melakukan itu, Karena sebelum kejadian ini, Dia sudah antisipasi mencari referensi bagaimana cara meredam amarah karena cemburu, Dan salah satu hal yang harus dilakukan adalah dengan cara seperti ini.
Lain dengan Angkasa, Tubuhnya menegang dan sedikit kaget saat Aurora menyandarkan kepalanya dan memeluk pinggangnya.
"Mas, Kamu tau kan aku gimana?" Tanya Aurora pelan. Angkasa diam tak bereaksi.
"Kamu tau kan kalau aku nggak ada rasa sama siapapun? Pun dengan Ansell, Aku anggap Ansell tuh teman doang. Sama sekai nggak ada rasa" Jelas Aurora. Meskipun Angkasa sedikit kecewa karena Aurora berkata tidak mempunyai rasa terhadap siapapun, Tapi dia cukup lega karena Aurora tidak memiliki rasa pada Ansell.
Itu artinya ada sedikit celah untuk Angkasa bisa memenangkan hati Aurora. Walaupun kemungkinan kecil.
"Aku tau, Ansell suka sama aku. Aku juga tau dia rela ngelakuin apa aja demi aku. Tapi, Aku nggak suka sama dia! Aku juga nggak ada rasa sama dia"
"Kalau kamu minta aku buat jauhin dia, Maaf Mas, Aku nggak bisa. Dia juga teman aku. Teman Serena, Teman kita. Setiap orang punya hak buat jatuh hati sama siapapun, Tak terkecuali Ansell, Dan aku nggak menampik itu, Itu hak dia!"
"Yang penting, Perasaan aku nggak berubah. Aku nggak ada rasa sama dia" Jelas Aurora panjang lebar.
"Beneran! Untuk saat ini, Jujur aku nggak ada rasa sama siapapun" Ucap Aurora lirih pada akhir kalimatnya.
Angkasa menghela nafas. "Yaudah, Aku percaya. Sekarang kamu mandi, gih!" Ucap Angkasa.
Aurora pun mengangguk dan menuruti perkataan Angkasa. Sementara Angkasa memilih merebahkan tubuhnya di kasur sembari menunggu Aurora selesai mandi.
"Tuhan, Bantulah hamba untuk memenangkan hati istri hamba" Gumam Angkasa lirih.
***
30 menit berlalu, Aurora telah selesai dengan ritual mandinya, Dia pun segera keluar dengan pakaian santai rumahan lengkap.
"Mas, Giliran kamu. Aku udah siapin airnya" Ucap Aurora membuyarkan lamunan Angkasa.
"Oh iya, Tunggu disini, Ya?" Ucap Angkasa.
__ADS_1
Aurora mengangguk, Saat Angkasa hendak melangkah, Tiba-tiba handphone nya berbunyi.
"Siapa sih sore-sore gini nelfon? Ganggu orang aja!" Kesal Angkasa sembari mengambil handphone nya diatas nakas.
"Siapa, Mas?" Tanya Aurora.
"Pak Firman, Ra!" Ucap Angkasa.
"Angkat, Mas! Loadspeaker, Pasti tentang Mas Baby" Ucap Aurora girang.
"Mas Baby?" Tanya Angkasa bingung. Tak mau berlama-lama, Angkasa pun segera menggeser tombol hijau dan me-loadspeaker sambungan telfonnya.
"Selamat sore, Pak Angkasa" Sapa Pak Firman.
"Sore, Pak Firman. Ada informasi apa, Pak?" Tanya Angkasa to the point.
"Begini, Pak. Kami sudah menemukan pelaku pembuangan bayi tersebut dan saat ini sudah kami proses. Bapak dan Istri boleh datang ke Kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut?"
"Bisa, Pak. Sebentar lagi saya dan Istri saya akan segera kesana" Ucap Angkasa.
"Baik. Terima kasih, Selamat sore" Ucap Pak Firman.
"Selamat sore, Pak. Terima kasih kembali"
Sambungan pun terputus.
"So, Kita ke kantor sekarang?" Tanya Aurora.
"Iya, Ra. Kita harus kesana sekarang"
"Mas, Gimana kalau misal pihak keluarganya menang? Mas Baby nggak jadi punya kita, dong?" Ucap Aurora sedih.
"Mas Baby siapa, sih?" Tanya Angkasa penasaran.
"Iya, Mas Baby. Bayi itu lah, Siapa lagi? Kan dia belum punya nama" Jawab Aurora. Angkasa yang mengerti pun ber 'oh' ria.
Angkasa pun segera mandi dan Aurora berganti baju sembari menyiapkan setelan casual untuk Angkasa pakai ke kantor polisi nanti.
__ADS_1
Setelah selesai, Mereka pun berpamitan pada Safira dan berangkat menuju kantor polisi bersama.
Bersambung......