SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 36: MENJENGUK BABY


__ADS_3

Kehadiran Ansell justru membuat kacau keadaan. Bagaimana jika Angkasa marah padanya? Pikir Aurora.


Walaupun Angkasa menatapnya dengan tatapan horor, Aurora terpaksa berjalan beriringan dengan Ansell sampai kelas.


"Bodo amat! Urusan dia dipikir nanti" Batin Aurora.


Aurora tak berani menatap Angkasa, Dia mengalihkan pandangan dan mempercepat langkahnya.


"Pelan-pelan, Ra. Kenapa jalan kamu cepet gitu? Kayak dikejar setan aja" Ucap Ansell diiringi gelak tawa.


"Hehehe.... Sorry, Sell. Gue emang pengen cepet-cepet ke kelas" Ucap Aurora semakin mempercepat langkahnya.


Sesampainya di kelas, Aurora duduk di kursi yang biasa dia duduki.


"Ilona belum datang?" Gumam Aurora sembari melirik bangku Ilona yang berada di sampingnya.


5 Menit kemudian, Mahasiswa dan Mahasiswi pun masuk ke dalam kelas, Tak terkecuali Ilona.


"Huh..... Untung nggak telat" Ucap Ilona sembari mengatur nafas.


"Lo ngapain jam segini baru datang? Tumben" Tanya Aurora.


"Ada urusan dikit, tadi" Ucap Ilona.


Aurora tak menjawab, Dia hanya ber 'oh' ria sembari mengangguk-anggukkan kepala.


Sejak Serena kembali ke Singapura, Aurora kini berteman dengan Ilona, Walaupun berteman dengan Ilona, Namun nama Serena tak akan tergantikan di hati Aurora.


Dia masih berharap suatu saat Serena kembali dan mereka menjalin persahabatan lagi.


***


Setelah selesai kelas, Aurora membereskan buku-bukunya dan segera beranjak untuk pergi ke rumah sakit.


"Buru-buru amat, Ra? Mau kemana lo?" Tanya Ilona.


"Gue mau pulang duluan. Ada urusan keluarga. Sorry ya gue cabut dulu" Setelah mengatakan itu, Aurora pun berlari keluar kelas dan menuju ke mobilnya.


"Sebelum tuh singa jantan lihat gue, Alangkah baiknya gue ngehindar dulu. Sorry, my husband. Aku nggak mau debat dulu" Gumam Aurora.


Ansell yang melihat Aurora berlari keluar pun hendak mengejarnya, Namun ia urungkan.


"Na, Aurora kenapa lari-larian gitu? Mau kemana dia? Buru-buru banget kayaknya" Ucap Ansell menghampiri Ilona.


"Ada urusan keluarga katanya. Lo kenapa kepo banget sama urusan Aurora? Lo naksir dia?" Tebak Ilona sembari tersenyum menggoda.


Ansell hanya tersenyum malu. Sebenarnya satu kampus juga tahu jika Ansell menaruh perasaan pada Aurora, Namun Ilona hanya ingin mendengar pengakuan langsung dari Ansell.

__ADS_1


"Lo beruntung banget bisa dicintai cowok kayak Ansell, Ra! Kenapa hidup lo semulus ini? Gue iri sama lo!" Gumam Ilona sembari mengepalkan tangannya.


Ilona menatap punggung lebar Ansell dengan wajah yang tak bisa diartikan. Begitu sempurna laki-laki yang ditatapnya itu. Mungkin jika Ansell mau melirik Ilona, Dia akan bahagia, bahkan sangat bahagia. Apalagi jika Ansell mencintainya.


***


Aurora sampai dirumah dan segera masuk ke dalam. Akibat dari kejadian tadi pagi, Pikiran Aurora menjadi kacau, Bahkan perjanjian sepihak yang dibuat oleh Angkasa diabaikan begitu saja. Bahkan saat ini dia lupa.


"Assalamu'alaikum, Ma?" Ucap Aurora sembari berjalan memasuki rumah.


"Iya, Angkasa! Nanti deh kalau Rora pulang Mama bilangin" Ucap Safira yang terdengar jelas ditelinga Aurora.


Seketika tubuh Aurora menegang. Apa yang suaminya adukan ke Mama mertuanya? Pikir Aurora.


"Assalamu'alaikum, Ma?" Ulang Aurora.


Safira yang mendengar ucapan salam pun segera menjauhkan handphone nya dari daun telinga dan menjawab salam dari Aurora.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Kamu udah pulang?" Ucap Safira menyambut Aurora dengan senyuman hangat dan pelukan.


"Iya, Ma. Mama jadi ikut Rora?" Tanya Aurora.


"Jadi dong. Mau berangkat sekarang?"


"Boleh, Ma. Rora mandi dulu, Ya? Sama ganti baju" Ucap Aurora semangat.


Safira mengangguk sembari tersenyum.


"Kamu jangan gitu, Bang. Aurora juga butuh waktu. Mama tau dia istri kamu. Mama juga tau gimana perasaan kamu. Tapi, Satu hal yang harus kamu tahu. Aurora bukan gadis berumur yang harus mengerti seperti apa rumah tangga. Dia masih kecil, Masih butuh proses panjang, Anggap aja ini ujian buat kamu" Nasihat Safira.


"Tapi, Ma. Suami mana yang tahan lihat istrinya jalan sama cowok lain?" Kesal Angkasa.


"Angkasa, Dewasa itu bukan soal umur, Tapi soal sikap. Dan, Sikap kamu ini nggak mencerminkan sikap dewasa, Masa kamu yang udah tua nggak bisa mikir dewasa, sih? Lagian, Jalannya dikampus, kan? Masih dalam konteks wajar lah. Mereka juga teman satu kampus, Bahkan satu kelas. Jadi wajar dong mereka jalan ke kelas bareng?"


"Mama juga yakin kalau Aurora nggak ada rasa sama cowok itu. Mama yakin Aurora udah jatuh hati sama kamu. Udah ya, Stop overthinking!" Ucap Safira.


"Tau, ah! Mama nggak paham"


Setelah mengucapkan itu, Angkasa pun mematikan sambungan secara sepihak. Safira yang mengerti akan sifat Angkasa pun hanya menggelengkan kepala.


Sementara Aurora yang sedari tadi menguping pun senyum-senyum sendiri, Untung mertuanya itu membelanya, Bahkan melindunginya.


***


Setelah bersiap-siap, Aurora dan Safira pun berangkat ke rumah sakit diantar oleh supir pribadi keluarganya.


Safira memaksa Aurora untuk diantar supir dengan alasan Aurora pasti lelah kuliah seharian.

__ADS_1


"Padahal Rora nggak capek loh, Ma" Ucap Aurora.


"Udah, Nggak pa-pa. Mama khawatir kamu kecapekan, Lebih baik diantar supir aja. Biar Mama bisa ngobrol sama kamu" Ucap Safira.


"Oh iya, Gimana keputusannya? Apa orang tua asli baby nya udah ketemu?" Tanya Safira.


"Sejauh ini sih Rora belum tahu, Ma. Kan yang punya koneksi sama kepolisian Mas Angkasa, Mas Angkasa juga nggak ngomong apa-apa sama Rora" Jelas Aurora.


"Mama kasihan sama baby nya. Masih kecil udah dibuang gitu, Mama nggak bisa bayangin kalau ada di posisi dia"


"Itu yang Rora nggak habis pikir, Ma. Rora ngerasa bayangan tentang Mama sama Papa kembali muncul. Rora ngerasa kayak kejadian dulu keulang lagi, Tapi bedanya kalau Rora ditinggal selama-lamanya, Nggak akan pernah bisa ketemu lagi. Hiks....." Tangis Aurora pecah.


Safira menarik tubuh mungil Aurora ke dalam pelukannya.


"Sabar, Sayang. Kamu jangan mikir terlau jauh. Mama nggak mau kamu drop lagi!" Ucap Safira menenangkan.


"Sayang, Memang Mama dan Papa nggak bisa gantiin posisi Mama Elena dan Papa Arkhan dihati Rora, Tapi Mama dan Papa bisa jadi sandaran buat Rora, Meskipun dalam bayang-bayang Mama Elena dan Papa Arkhan. Nggak pa-pa Rora nganggap gitu, Mama dan Papa ikhlas, Nak. Yang penting kamu bisa lega"


"Nggak, Ma! Rora nggak boleh egois. Mama sama Papa Adit juga orang tua Rora. Maaf Rora sering kayak gini, Kalian orang tua kedua aku, Dan sekarang kalian adalah orang tua satu-satunya yang aku miliki" Ucap Aurora masih menangis.


"Iya, Sayang"


***


Aurora dan Safira telah sampai di rumah sakit Citra Medika, Mereka segera masuk dan menuju ke ruangan bayi. Sebelum itu, Mereka menemui Dokter Rindy dan menanyakan perkembangan bayi tersebut.


"Jadi gimana, Dok?" Tanya Aurora saat mereka sudah berada di ruangan Dokter Rindy.


"Alhamdulillah, perkembangannya semakin baik. Baby nya pintar sehingga cepat berkembangnya" Ujar Dokter Rindy dengan tersenyum.


"Apakah Ibu Aurora dan Ibu Safira kesini untuk menjenguknya? Mari saya antar ke ruangannya" Ucap Dokter Rindy.


"Iya, Dok. Saya mau bertemu dia" Ucap Aurora semangat.


Dokter Rindy pun mengantarkan Aurora dan Safira ke ruangan berisi beberapa box bayi tersebut.


Mata Aurora berkaca-kaca kala melihat bayi malang yang sedang tertidur dengan tenang itu.


"Dokter, Boleh saya ambil?" Tanya Aurora harap-harap cemas.


"Silahkan, Ibu" Ucap Dokter Rindy tersenyum.


Dengan hati-hati Aurora mengambil bayi tersebut dan mendekapnya. Sebuah perasaan berbeda muncul dihatinya. Rasa nyaman, Tenang, dan Bahagia.


"Hai, Kakak datang lagi. Kamu cepat pulih, Ya? Kakak janji akan ambil kamu lagi apapun yang terjadi" Lirih Aurora.


"Keibuan sekali, Bu. Saya doakan yang terbaik untuk Ibu Aurora" Ucap Dokter Rindy pada Safira.

__ADS_1


"Itulah kenapa saya bersikeras meminta dia menikah dengan anak saya. Aurora benar-benar gadis baik hati dan penyayang" Ucap Safira tersenyum.


Bersambung.......


__ADS_2