
Dara duduk bersandar di sofa ruang tamunya. Furniture yang di tata rapi, membuatnya betah duduk di ruang itu. Sore ini, tubuhnya terasa lelah sekali. Apalagi sepulang dari rumah mertuanya.
Bukan perjalan ke sana yang membuatnya lelah.
Tapi cerita Rena, tentang mantan tunangan suaminya. Saat Rena mengatakan nama mantan tunangan suaminya. Sama dengan yang di sebut ibu- ibu saat insiden di toko kain tempo hari.
Membuat hati Dara bagai di himpit sebongkah batu. Membuat sesak nafasnya.
Dara tengadah menatap plafon. Memejamkan ke dua belah matanya. Merenungi tindakan apa yang harus dia lakukan.
Mengingat dia yang belum punya bukti yang cukup kuat, untuk menanyakan langsung pada suaminya.
Kecurigaanya tentang lingerie dan percakapan suaminya tengah malam itu. Belumlah cukup sebagai bukti.
Sedang foto yang di kirimkan ke wa nya bisa saja itu adalah foto editan. Atau foto mereka semasa masih bertunangan.
" Yah, belum waktunya menyingkap semua kecurigaanku. Sebelum aku punya bukti yang benar- benar bisa di pertanggung jawabkan.
Meski kecurigaanya sudah cukup mendasar, tapi Dara masih butuh bukti yang lebih. Semisal, memergoki sendiri perselingkuhan suaminya.
Karena lelah berpikir Dara akhirnya tertidur di sofa. Saking pulasnya tidur, Dara tak mendengar kalau suaminya Revan telah pulang. Dari dinas luar kota.
Saat Revan membuka pintu, dia melihat istrinya tengah tidur di sofa. Revan menyeret kopernya hingga ke kamar. Lalu kembali ke ruang tamu, di mana istrinya tengah tidur pulas.
Revan geleng kepala, karena istrinya sama sekali tak menyadari ke datangannya. Di tatapnya wajah istrinya yang baru tiga bulan lebih ia nikahi.
Revan menghampiri Dara, lalu membopong tubuh istrinya ke kamar. Baru beberapa langkah, Dara membuka matanya. Dan terkejut saat tubuhnya ada dalam gendongan suaminya.
" Ih, apaan sih bang. Abang udah pulang, ya?" beliak Dara. Dara minta di turunkan, tapi Revan tetap membawa istrinya masuk kamar.
" Adek kelelahan ya, sampai ke tiduran di sofa?"
" Eh, iya bang. Kok, aku gak dengar abang datang. Kenapa adek gak di bangunkan tadi?"
" Abang gak tega dek. Makanya abang gendong biar tidurnya lebih nyaman di kamar. Oh, ya. Abang beli oleh- oleh sama adek. "
" Oleh- oleh apa bang?" Dara menatap suaminya girang.
" Tuh, ada di dalam koper. Nanti ajalah itu. Abang kangen sama adek." Revan memeluk istrinya erat.
Dara mendengar helaan nafas suaminya terasa berat.
__ADS_1
" Abang ada masalah selama di luar kota, ya?" selidik Dara seraya menatap wajah suaminya.
" Ah gak, semua berjalan lancar kok. Kenapa dek?" Revan merasa heran dengan ucapan istrinya.
" Kok helaan nafas abang berat sekali, tadi. Kayak ada beban yang mengganjal."
Deg!
" Abang cuma merasa bersalah, karena sering meninggalkan kamu dek."
" Gak apa- apa kok, bang. Oh, ya . Abang udah makan? Biar adek siapin makan malam."
" Belum lapar dek. Kita makan di luar aja, nanti."
" Tumben minta makan di luar. Biasanya lebih suka, masakan istrinya." goda Dara.
Revan mengacaukan rambut istrinya. Lalu beranjak dari tempat tidur.
" Abang mandi dulu, dek. Gerah! " Revan membisikkan sesuatu ke telinga Dara.
" Ih, ogah ah." Dara menggeleng, Revan terbahak dan menuju ke kamar mandi.
Dara menyiapkan pakaian Revan, dan meletakkannya di atas ranjang. Stelan t -shirt dan celana bermuda.
Dara membuka koper dam mengeluarkan satu persatu pakaian kotor suaminya. Ada sebuah bungkusan di dalam koper. Dara membuka bungkusan itu.
Ternyata isinya sebuah gaun sutra bercorak batik. Dara tersenyum melihat gaun itu. Langsung memakainya.
Gaun itu, pas ukuran tubuhnya. Dara mematut- matut gaun itu di depan cermin.
" Kamu suka ya dek, gaun itu?" celetuk Revan yang telah selesai mandi.
" Iya bang. Aku suka semuanya. Warna dan modelnya. Makasih ya, bang."
Revan mengangguk dan mengenakan pakaiannya yang telah di pilihkan istrinya. Lalu keluar dari kamar.
Dara kembali membereskan pakaian kotor suaminya. Memasukkannya ke keranjang kain kotor yang ada di kamar.
Saat itulah sesuatu terjatuh di lantai. Dara mengambil benda yang jatuh itu, ternyata k****m. Dara kaget melihat benda pipih itu. Untuk apa suaminya menyimpan benda itu.
Dara merasakan hatinya begitu sakit. Apakah selama di luar kota saminya suka jajan dengan wanita lain? Serendah itukah suaminya?
__ADS_1
Atau suaminya benar- benar punya selingkuhan seperti kecurigaannya. Sudah sejauh manakah suaminya melangkah di luar sana.
Sudah tak perdulikah suaminya akan janji pernikahan mereka?
Dafa menyimpan benda kecil itu, di kantongnya. Kali ini dia harus bicara. Dara tak ingin suaminya tersesat lebih jauh.
Dara buru- buru keluar dari kamar. Dan mencari sosok suaminya. Ternyata suaminya tengah menonton acara TV, Breaking News. Dari salah satu TV swasta.
" Hai dek, sini!" Revan melambaikan tangannya, memanggil istrinya untuk duduk di sampingnya.
Dara mendekati suaminya dan duduk di sampingnya.
" Lha, kok wajah kamu begitu sayang, ada apa?" hati Dara makin teriris, mendengar ucapan suaminya. Bagaimana suaminya masih bisa bersikap manis seperti ini. Sementara hatinya telah terbagi.
Apakah semua sikap,manisnya untuk menutupi belangnya.?
" Sayang. Ada apa sih. Kok tiba- tiba kamu berubah begini?" selidik Revan. Dia pikir istrinya tengah merajuk. Di bawanya tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Tapi Dara menolak.
Dara merasakan tubuhnya menegang!
" Bukan aku yang berubah. Tapi abanglah yang tega. Aku tidak menyangka abang akan setega ini samaku." Dara terisak, tak mampu menahan sesak di hatinya.
" Sayang? Kamu kenapa? Jangan membuatku bingung. Ada apa? " Revan masih berusaha membujuk istrinya. Sungguh dia merasa bingung. Tadi saat ia meninggalkan istrinya di kamar. Semua baik- baik saja. Kok tiba- tiba seperti ini?
" Abang coba jelaskan. Apa artinya ini. Bisa- bisanya aku dapat ini di koper abang?!"
Duaaarrr!
Seperti lecutan petir, Revan kaget tak kepalang. Bagaimana benda itu bisa di temukan istrinya?
" Kamu dapat dari mana itu?"
" Ini milik abang kan. Buat apa abang menyimpan ini. Jadi selama ini abang sudah menghianati ku."
" Dek, tenang dulu dek! Kamu jangan salah faham dulu ya. Itu bukan milik abang. Kemarin ada kawan abang yang bercanda dan memberikan benda itu sama abang. Ka...." belum sempat Revan menyelesaikan ucapannya telah di sanggah istrinya.
"Abang bohong. Abang jahat. Lalu lingerie merah itu punya siapa. Punya teman abang juga. Abang jahat sekali!" Dara berlari ke kamar. Hatinya benar- benar sakit oleh penghianatan suaminya.
Wajah Revan langsung memucat saat mendengar ucapan istrinya. Lingerie merah? Dari mana istrinya tau soal itu. Sejauh mana istrinya mengetahui rahasia yang ia simpan sebulannterakhir ini.
Revan menyusul istrinya ke kamar. Dara tengah menangis sesegukan di tempat tidur.
__ADS_1
" Dek, abang bisa jelaskan semuanya. Abang minta maaf. Abang khilaf. *****