Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 19


__ADS_3

Untuk beberapa saat suasana di antara Dara dan Revan, hening mencekam.


Revan tak bisa bicara, atau tepatnya tidak tau mau ngomong apa. Saat istrinya membuka kedok Mirna.


" Apa yang barusan terjadi, bikan berarti aku membelamu, bang. Atau kemarahanku surut. Aku tetap akan pergi dari rumah ini. Aku hanya tidak ingin Mirna, melihatku menyerah begitu saja.


Sementara ini aku akan tinggal di butik." Dara berdiri dan masuk ke kamar, mengambil kopernya.


" Dek, maafkan abang dek. Aku benar- benar tidak ingin berpisah dengan kamu. Tolong, beri abang kesempatan ke dua," peluk Revan dari belakang. Menahan langkah istrinya.


" Biarkan aku pergi, bang. Aku ingin sendiri " ucap Dara getas.


Revan terpelongo mendengar ucapan istrinya.


" Biarlah abang yang akan pergi sementara., dek. Tapi izinkan abang untuk mengunjungimu."


Dara tetap diam mematung, membiarkan saja Revan pergi meninggalkannya. Yah, mungkin lebih baik mereka berpisah sementara ini.


Untuk intropeksi diri sendiri. Agar persoalan dapat terselesaikan dengan baik.


Dara menghenyakkan tubuhnya di atas ranjang. Menangis sesegukan, setelah sekian lama ia tahan.


Hatinya begitu rapuh, tapi ia akan mencoba bertahan untuk kuat.


***


Lidah sinar mentari, menjilati wajah Dara lewat celah jendela kamar. Karena silau, Dara membuka matanya. Dan terkejut saat melihat hari telah siang.


Dara merasa matanya masih sembab. Efek menangis semalam.Dan juga karena begadang menyelesaikan payetannya. Dengan langkah lesu, Dara bangkit dari ranjang.


Dara bergegas mandi, saat dia lihat jarum jam di dinding menunjukkan angka tujuh.


" Biarlah aku sarapan di butik saja, " batinnya. Karena untuk memasak rasanya sudah tak mungkin. Apa lagi dengan mood yang begitu kacau.


Hari pertama tak melayani suaminya, rasanya nyesek begini. Tapi apa boleh buat, ini semua karena ulahnya juga.


Dara buru- buru mengunci pintu rumahnya. Dia sudah menelepon Daniah untuk membuka butik lebih dulu.


Karena sebelum ke butik, Dara mau mampir dulu beli sarapan.


Saat beli sarapan di warung mbak Minah, Dara duduk di sudut sambil memainkan ponselnya. Selain dirinya ada juga dua orang ibu, yang antri menunggu pesanan.

__ADS_1


Mereka mengobrol membicarakan hal- hal yang viral di medsos. Ke duanya begitu asyik, tanpa mengiraukan orang lain. Hingga obrolan mereka menyangkut ke salah satu sahabat mereka.


" Nes, kayaknya Mirna kena batunya juga, nih." kali ini suara mereka berubah lirih. Tapi Dara masih bisa mendengarnya dengan jelas.


" Kena batu kenapa, Meri?"


" Tuh, kan si Mirna itu ninggalin tunangannya. Mau- maunya dia jadis istri simpanan. Lalu menghilang. Trus tunangannya menikah. Eh, si Mirna itu senewen. Gak rela. Mantannya nikah.


Trus dia selingkuh, katanya dia hamil. Mantannya gak terima dan gak mau ngaku, kalo itu anaknnya."


" Lha, kok bisa gak ngakuin. Kalo itu anaknya. "


" Jelaslah gak ngaku, usia kandungannya kan udah empat bulan. Sementara dia selingkuh baru dua bulan. Apesnya , suami sirinya juga ninggalin dia karena ketauan selingkuh. Jadi kacaukan."


" Ih, dasar Mirna sih, gak jelas apa maunya. Pengen cari suami yang hebat, mapan, suami orang pun di embat. Ningalin tunangannya sendiri. Mantan tunangannya menikah malah di selingkuhin lagi. Serakah amat tuh jadi orang!"


" Trus sekarang ceritanya gimana?"


" Ini yang bikin lebih seru!"


" Ada apa, kenapa?" sahut Nesa antusias. Begitu kepo lanjutan kisah sohibnya.


"Kemarin Mirna cerita ke aku. Dia pergi ke rumah mantannya itu. Maksudnya sih mungkin mau bilangin ke istrinya kalau dia hamil oleh suaminya.


" Astaga! Sampai segitunya. Mirna udah sakit, pasti! " menempelkan jarinya miring di keningnya.


" Ntah. Makanya aku bilang biar, tobat. Tapi kamu taulah si Mirna itu adatnya kek mana. Susah di bilangin."


" Jadi kasian keluarga mantannya, itu. Padahal baru nikahkan? "


" Iya baru tiga bulan kayaknya , Nes." sahut Meri.


Dara mendengar semua obrolan itu. Jadi apa yang di ceritakan Rena iparnya, betul. Kalau Mirna itu orang yang bermasalah.


Sekalipun sudah mengenal watak Mirna, semasa SMA dulu. Tapi tak mengira akan sejauh itu prilakunya.


" Mbak, pesanan saya sudah siap, gak" tanya Dara. Ia ingin cepat- cepat pergi dari tempat itu.


" Iya mbak, ini pesanannya," Dara menyerahkan uang setelah menerima pesanannya itu, dan segera pergi.


Selama menikmati sarapannya di butik, pikiran Dara terus tertuju pada ucapan ibu- ibu di warung tadi.

__ADS_1


Sangat jelas terlihat, kalau Mirna memang merencanakan semuanya untuk menghancurkan rumah tangganya.


Dara menjadi kasihan pada suaminya. Sekaligus benci pada perbuatannya.


" Bu, ibu kenapa sih. Bukannya makan, malah kok bengong, bu? tegur Daniah, karena sedari tadi Dara hanya mengaduk- aduk, makanan di depannya.


" Eh, iya." sahut Dara gugup, karena ketahuan gak fokus makan.


" Ada apa ya, bu. Kok sepertinya ibu ada masalah?"


" Ah, gak apa- apa kok. Ibu hanya kurang selera makan."


" Tadi telepon bapak datang. Menanyakan apa ibu sudah di butik. Aku jawab belum. Bapak nampak khawatir sekali, bu."


" Makasih ya, Nia."


Tiba - tiba ponsel Daniah berbunyi lagi. Sejenak Daniah ragu untuk mengangkat. Di tatapnya Dara.


" Bu, telepon dari bapak." bisik Daniah. Dara memberi kode untuk menolak panggilan itu. Lalu Daniah menerima panggilan itu. Hanya beberpa menit, Daniah kembali menutup ponselnya.


" Apa kata bapak?"


" Menanyakan ibu apa sudah di butik, saya jawab iya bu."


" Makasih, ya Nia. Ibu ke dalam dulu ." Dara berlalu, padahal belum menyelesaikan sarapannya.


Daniah merasa sedih juga, karena melihat bosnya tidak seperti biasanya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan rumah tangga mereka.


Padahal mereka baru menikah, masih tiga bulanan kalo gak salah. Apalagi suara bapak begitu khawatir saat di telepon. Monolog hati Daniah.


Dara membuka ponselnya dan mengaktifkannya. Puluhan notifikasi muncul di WA- nya. Semua dari Revan, suaminya.


Dara menghela nafasnya berat. Dua buah butiran bening jatuh dari netranya. Dara ingat akan pertemunnya pertama kali dengan suaminya Revan.


Saat di perkenalkan temannya Ines. Saat itu, Dara melihat Revan seperti baru mengalami patah hati.Karena wajahnya tampak murung dari antara temannya Ines.


Saat itu, hal inilah yang membuatnya ingin tahu tentang Revan. Dia tanyakan banyak hal tentang Revan, sampai Ines menggodanya kalau dia naksir sama Revan.


Saat itu, wajahnya bersemu merah sehingga Ines terus menggodanya. Dan memberikan nomor Wa, Revan.


Dara sendiri yang memulai menyapanya saat itu lewat chat di aplikasi berlambang telepon warna hijau itu.

__ADS_1


Anehnya, Revan membalas chatnya dengan antusias. Hingga berlanjut saling telepon, vidio call dan akhirnya janji ketemuan.


Setelah enam bulan pacaran, Revan melamarnya. Tapi selama mereka pacaran, Revan memang tak pernah membicarakan masa lalunya. Dan saat itu, Dara juga tak peduli. Karena baginya masa lalu itu adalah milik privasi Revan jadi bukan ranahnya menanyakan itu kecuali Revan mau membicarakannya.****


__ADS_2