
Mirna ingin memiliki Revan kembali. Bagaimanapun caranya. Apalagi dia tengah hamil saat ini.
Mirna menyusul langkah Rena dan Dara. Mengikuti mereka yang kembali ke ruang Revan di rawat.
" Kamu dari mana, sayang?" tanya Revan begitu Dara kembali duduk di sisi ranjang.
" Ada urusan sebentar bang." sahut Dara lantas membuka ponselnya karena bergetar sedari tadi. Ternyata panggilan dari Daniah.
Dara, permisi sebentar untuk menjawab panggilan Daniah.
" Halo, Daniah. Ada apa?"
" Kenapa ibu belum nyampe. Aku sudah di butik, bu."
" Oh, maaf Daniah. Ibu lagi di Rumah Sakit. Bapak kecelakaan, ibu lupa ngasih tau tadi."
" Jadi aku langsung pulang nih, bu?"
" Iya, kamu kerja di rumah aja. Selesaikan payetnya, ya,"
" Baik, bu". Dara mematikan ponselnya. Ketika Dara berbalik, Mirna telah duduk dengan manisnya di sisi ranjang, Revan.
Jantung Dara, bergemuruh . Tapi dia berusaha tenang. Menghadapi manusia tak tahu malu seperti, Mirna. Memang butuh tenaga exstra.
Dara térsenyum manis. Sementara wajah Revan sudah pucat pias.
" Sudah begitu tak sabarnya ya kamu Mir , menggantikan posisiku di sisi bang Revan." dengus Dara.
" Dasar wanita gatel," maki Rena dan berusaha mengusir Mirna.
" Tidak apa -apa Rena. Biar saja dia duduk di situ."
" Tapi kak!" protes Rena tak suka. Menatap Mirna dengan tajam.
" Abang sudah liat sendiri kan. Hanya karena dia hamil sudah lebih berhak dari saya sebagai istri syah. Padahal dia itu cuma sampah!"
" Mirna, pergilah dari sini. Kamu tidak di inginkan di sini!" hardik Revan.
" Revan, aku datang mau membezukmu."
" Tidak perlu! Istrikulah yang akan merawatku. Pergilah!"
" Kenapa kamu sejahat itu padaku, Van. Aku sayang sama kamu. Aku juga ingin merawat kamu." rengek Mirna agar tak di usir.
" Kamu benar- benar tak tau diri, ya Mir! Segitunya kamu mau hidup bersama, Revan. Apa kamu tidak mikir. Kalau dia itu sudah punya istri!" sentak Rena kalap. Di tariknya Mirna dari kursi. Dan hampir saja Mirna jatuh terjengkang.
Untung saja dia berhasil memegang ujung tempat tidur Revan.
" Kamu Rena, kasar sekali sih." ringis Mirna karena pinggulnya sempat menyenggol sisi tempat tidur.
__ADS_1
" Makanya tau diri, dan jaga harga diri kamu. Terang- terangan nyosor suami orang. Dasar pelakor" maki Rena makin naik pitam.
" Sudah Rena. Percuma juga meladeninya.!" tegur Dara. Rena mengdengkus kesal, tak habis pikir dengan prilaku Mirna.
" Biar tau rasa kak. Kalau gak di kasari gak akan kapok bertingkah. Heran melihat manusia satu itu. Jelas- jelas gak mikir sebelum bertindak, apa."
" Iya sudah, urat malunya sudah putus. Jadi sudah tak punya adab lagi. Tapi kamu harus kontrol emosi kamu. Jangan sampai bertindak gegabah, Ren!"
" Bang, kamu harus tegas pada perempuan gila itu!" Rena melampiaskan kemarahannya sama Revan. Revan hanya bisa tertunduk, malu dengan ulahnya yang telah membuat susah ke dua perempuan yang ia kasihi.
" Maafkan , abang dek. Abang benar- benar menyesal, telah menyusahkan kalian."
" Ya, udah. Abang harus tegas. Jangan beri celah buat Mirna . Menghancurkan rumah tangga abang."
****
Dara pulang ke rumah untuk mengambil beberapa keperluannya dan suaminya. Sesaat mau pergi lagi, tiba- tiba Mirna sudah ada di pintu rumah dan memaksa untuk masuk.
" Astaga Mirna, kamu apa- apaan sih!" sentak Dara karena Mirna ngotot masuk.
" Aku mau bicara!" ucapnya angkuh.
" Mau bicara apa lagi, hah! Aku tak ada urusan dengan kamu!" kali ini Dara langsung terpicu emosinya melihat kebebalan hati Mirna.
" Aku ingin kamu menceraikan bang Revan!" ucapnya tanpa tedeng aling- aling.
" Revan tidak mencintaimu, Dara. Revan hanya mencintaiku. Harusnya kamu tau itu.!"
" Kamulah yang harus tau, bahwa akulah yang dia cintai pada akhirnya. Kamu itu hanya masa lalunya, Mir. Segitu butanya mata kamu. Kalau
pun suamiku terjebak olehmu. Itu bukan cinta. Tapi nafsu! Karna kamu sudah kehilangan harga diri kamu. Kamu itu serakah. Iri dengan kebahagian orang lain. Padahal kamu sendiri yang bertingkah!" ucap Dara tajam.
" Tapi aku mengandung janinnya!"
" Itu terus yang kau jadikan alasanmu untuk mengikat suamiku. Padahal kamu yakin betul, bukan suamiku yang harus bertanggung jawab!
Kamu benar- benar menjijikkan! Entah sudah berapa jenis benih yang tertanam di rahimu itu. Mengapa hanya suamiku yang kau tuntut!"
" Kurang ajar!" Mirna melayangkan tamparannya ke wajah Dara. Tapi Dara menagkap lengan itu di udara. Memelintirnya, hingga Mirna menjerit kesakitan.
" Jangan sekali- kali sebut aku kurang ajar ya! Ngaca dulu kamu sebelum ngomong. Dan saya peringatkan kamu, jangan pernah ganggu lagi suamiku. Jika tidak, kamu akan berurusan dengan polisi. Paham!" Dara melepaskan cengkeramannya. Mendorong Mirna keluar pintu, hingga jatuh terjengkang.
" Pergilah segera, sebelum aku teriak mempermalukanmu. Biar sekalian semua orang tau, kalau kamu itu seorang pelakor!"
Mirna langsung berdiri. Menatap Dara penuh kebencian.
" Kali ini kamu menang, Ra. Tapi jangan harap aku akan tinggal diam. Aku akan balas kamu!" sergah Mirna.
Dara tersenyum menanggapi ucapan, Mirna!
__ADS_1
Menatap kepergian Mirna dengan perasaan teraduk- aduk. Entah terbuat dari mana hati dan jiwanya. Tak tau malu. Apakah Mirna benaa benar mencintai suaminya, Revan. Kalau iya, kenapa dia pergi meninggalkannya untuk yang lain?
Atau, karena Mirna gak rela Revan menjadikannya jadi istri. Apakah jika bukan dirinya yang menjadi istri Revan, Mirna tidak akan bersikap seperti itu.
Sedemikian dendamnyakah Mirna padaku? Sehingga ingin merusak rumamh tanggaku? Monolog hati Dara.
Ponsel Dara berdering. Dara mengambilnya dari
kantong. Dan membuka aplikasi Wa.
" Halo, ada apa Rena?"
" Kakak di mana? Kenapa belum datang juga?"
" Tunggu bentar ya, dek. Kakak sudah di jalan kok."
" Oke kak, aku tunggu, ya." Rena memutuskan hubungan telepon.
Tumben Rena, menghubunginya? Apa ada sesuatu terjadi di Rumah Sakit? Dara segera mengunci pintu rumahnya.
" Ada apa, Ren? Bang Revan mana?" seru Dara karena melihat ruangan suaminya kosong.
" Bang Revan lagi di ruang periksa, kak. Aku mau pamit sebentar ke rumah. Nengok anak- anak."
" Iya dek, pergilah. Biar kakak aja yang jaga di sini. Kasian ponakan di tinggal terlalu lama."
" Bagaimana kalau si ulat bulu, balik ke sini lagi, kak?"
" Ah, gak apa- apa. Kakak bisa atasi itu. Udahlah, jangan terlalu banyak mikirin soal ,Mirna. Gih, cepat pulang. Titip salam sama mama dan ponakan." Dara tertawa mendengar julukan ulat bulu untuk Mirna, yang di sebut Rena.
Sambil menunggu Revan selesai periksa. Dara merapikan tempat tidur suaminya.
Tak berapa lama suaminya datang di antar perawat.
" Sudah pulang kamu, dek?"
" Iya bang. Bagaimana hasil periksanya."
" Semua baik- baik saja. Lukanya sudah mulai mengering. Oh, ya. Mana Rena?"
" Sudah pulang, bang. Kasihan para ponakan, di tinggal di rumah."
Dara membantu suaminya naik ke tempat tidur, di bantu suster.
" Makasih ya , suster,"
" Sama- sama bu. Permisi,"
*****
__ADS_1