
Dara mengguyur seluruh tubuhnya saat di kamar mandi. Mencoba meredam emosinya saat melihat kejadian tadi. Hati dan jiwanya bergolak! Apa yang harus dia lakukan, untuk mengatasi masalah rumah tangganya.
Rasanya dia sudah tiba pada titik jenuh untuk mengalah. Perselingkuhan suaminya ternyata membuahkan janin di perut Mirna. Sekalipun Revan meragukan bahwa itu benihnya.
Tapi mengingat mereka telah berbuat sejauh itu. Tidakkah suaminya begitu egois?. Tidak mungkin Mirna menuntut tanggung jawab suaminya, kalau Mirna tidak yakin kalau itu adalah benih suaminya.
Ataukah benar Mirna menjebak suaminya? Mengingat hubungannya dengan Mirna dulu. Di mana Mirna kerap merusak hubungannya dengan siapapun.
Pertemanan toxic yang di lakukan Mirna dulu, bukan tidak mungkin dilakukannya lagi. Karena kebetulan Revan juga adalah mantan tunangannya. Yang ia tinggalkan begitu saja. Hingga Revan bertemu dengan dirinya dan menikah.
Mungkinkah Mirna sudah mengatur semua ini, untuk menyakitinya? Karena dari awal Dara sudah curiga, saat dirinya di teror oleh wanita tak dia kenal di depan toko hari itu.
Yang menuduhnya telah menjadi seorang pelakor! Lantas ia mengatur juga untuk bertemu saat suaminya tugas di luar kota. Pura- pura menjadi rekanan kerja.
Yang ujung- ujungnya menyatroni suaminya di hotel dengan dalih minta maaf. Seperti yang telah suaminya jelaskan. Bahwa Mirnalah yang mendatanginya di kamar hotelnya.
Entah apa maksudnya. Dia yang meninggalkan Revan dan memutuskan secara sepihak pertunangan mereka. Dan ketika Revan bisa move on dari masa lalunya. Dan memulai hidup baru, Mirna datang ketengah rumah tangganya. Dengan cerita masa lalu mereka.
Bodohnya, suaminya yang masih menyimpan cerita itu. Begitu mudahnya terbuai. Lupa begitu saja bahwa, Mirna telah mencampakkannya.
Saat di meja makan, suasana kaku terasa karena Dara tak seperti biasanya. Biasanya Dara akan bercerita kesehariannya di butik. Dan balik bertanya keseharian suaminya di kantor.
Dara lebih banyak diam dan menekuri makanan di depannya. Sementara Revan juga pura- pura asyik makan. Padahal nasi yang ia makan seolah nyangkut terus di lehernya.
Makanya ia lebih banyak minum. Revan juga tak berani membuka percakapan karena takut salah omong.
" Dek, kenapa sih. Dari tadi diam saja?" akhirnya Revan memulai kata juga. Karena tak tahan dengan kebisuan, yang tiba- tiba meraja di antara mereka.
Dara menatap wajah suaminya sekilas. Lalu kembali menekuri makanannya. Seolah tak selera, Dara terus mengaduk- aduk makanan di piringnya.
" Tidak selera makan, ya dek? Bagaimana kalau kita makan di luar saja?" tapi Dara tetap diam.
Dara masih fokus dengan kejadian tadi. Padahal dia sudah berusaha, untuk tidak memperdulikan apa yang ia dengar tadi.
Tapi, rasa sakit itu semakin di tekan. Semakin menyiksa hatinya. Sampai kapan dia harus berpura- pura , bahwa rumah tangganya baik- baik saja.
__ADS_1
Rasanya lelah beranggapan, bahwa semua akan baik- baik saja. Nyatanya masalah dari hari ke hari makin bertambah. Dia telah mencoba untuk memaafkan suaminya. Melupakan kesalahannya.
Tetapi apa yang ia dengar tadi, telah menghancurkan pertahanannya. Rasanya mustahil bisa tetap bertahan dalam ikatan pernikahan ini bila hati dan perasaannya di korbankan.
" Jadi, Mirna hamil ya bang?" ucap Dara lugas. Menatap wajah suaminya tanpa ekspresi. Sementara wajah Revan memucat putih karena kaget. Seolah mendengar ledakan di telinganya.
Terlebih melihat eskpresi datar istrinya yang tanpa emosi! Sungguh, itu adalah ekspresi luka yang teramat dalam. Seolah mati rasa!
" Sayang! " seru Revan tercekat. Segala kata tak bisa terucap. Revan sangat terpukul akan sikap diam istrinya.
Akan lebih baik kalau istrinya menangis, berteriak atau memukul dirinya sekalian! Tapi semua itu tidak ia lakukan. Ia hanya hanya duduk tergugu di kursinya.
Revan bangkit dari kursinya. Menghampiri istrinya yang diam, tanpa emosi.
" Sayang. Maafkan aku!" hanya itu kata yang berulang kali Revan ucapkan. Memeluk istrinya. Yang menatap kosong ke arahnya.
" Sayang, bicaralah. Aku. Mohon, jangan diam seperti ini." Revan memeluk dan menguncang istrinya.
" Mau bicara apa lagi. Semua sudah jelas, Bang. Aku memilih mundur. Aku akan pergi." sahut Dara dingin.
" Tidak sayang, jangan pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Revan berusaha menahan langkah Dara. Dengan memeluknya dari belakang.
Dengan kasar Dara mengambil koper dari atas lemari. Membuka lemari pakaiannya. Memilih beberapa pakaiannya. Dan menjejalkan begitu saja ke dalam koper.
" Dek kamu mau kemana malam- malam begini? Tolong dek, tenanglah dulu. Jangan terbawa emosi." berulang kali Revan membujuk istrinya.
" Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, saat mendengar selingkuhan suamiku telah hamil!" Dara menatap Revan nyalang.
Melemparkan koper yang belum terkunci, hingga pakaian di dalamnya berhamburan.
Dara menjerit sekuat yang ia bisa. Air matanya tumpah begitu saja, setelah sedari tadi ia tahan.
Revan kembali memeluk istrinya, erat. Berkali- kali mengucap kata maaf.
Sungguh! Ia begitu menyesali kecerobohannya. Yang begitu mudahnya terjerat oleh Mirna. Sehingga telah menguncang rumah tangganya yang baru seumuran jagung.
__ADS_1
" Biarkan akau pergi, bang. Aku tak mau berbagi suami dengan orang lain." Dara melepaskan dirinya dari pelukan Revan. Kembali memunguti pakaiannya yang berserak akibat ia lempaprkan tadi.
" Dek, aku mohon jangan pergi. Ini sudah malam."
Dara tak peduli ucapan suaminya. Ia tetap menyusun pakaiannya dan menjejalkannya ke dalam koper.
Lalu Dara menyeret koper itu ke luar kamar. Saat berada di ruang tamu, ponsel Dara berdering. Ada chat masuk di aplikasi Wa. Dara melihat nama Mira.
" Hai Dara, apa kabar? Maaf ya, aku dapat nomor mu dari orang lain."
Huh! Apa maksudnya Mirna , menanyakan kabar nya saat ini. Apakah ia tau kalau aku sedang bertengkar hebat dengan Revan, gegara dirinya? Atau sengaja menhubunginya agar dia punya cara mengawasinya.
" Baik. Kamu dapat dari siapa nomor Wa ku?" balas Dara.
" Rahasia deh. Kamu gak marah kan? Aku pengen sekali cerita sama kamu. Boleh gak sekali- kali aku mampir ke rumahmu."
" Boleh, kapan kamu kamu mau datang? Biar aku tunggu."
" Besok pagi boleh? Apa kamu gak keberatan? "
" Oh, gak kok. Besok pagi juga boleh. Aku masuk siangan ke Butik.
" Oke, tunggu aku, ya." Dara langsung mematikan ponselnya.
Dasar wanita iblis! Begitu tak sabarnya kamu hendak merebut suamiku. Sebelum aku pergi, aku akan memberimu pelajaran. Tak semudah itu kamu mengalahkanku.
Dara kembali masuk ke kamar. Menyimpan kopernya. Revan heran dan senang! Mengira istrinya berubah pikiran.
Siapakah yang menghubungi istrinya, sehingga istrinya berubah pikiran begitu saja. Tapi siapa pun itu. Revan sangat berterima kasih.
Di susulnya istrinya ke kamar. Di lihat istrinya telah tidur di tas ranjang. Dengan posisi menekuk ke dua kakinya.
" Makasih ya, sayang. Kamu mengurungkan niatmu pergi. Maafkan aku, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Mirna. Aku akan lebih memilih kamu dari pada dia."
" Kita lihat saja besok , bang!" ucap Dara datar. Ia menarik selimut, menutupi tubuhnya hingga leher. Tidur dengan posisi membelakangi suaminya.
__ADS_1
Sejenak Revan kebingungan, mendengar jawaban Dara. Ada apa dengan besok. Apakah istrinya tengah merencanakan sesuatu?" Batin Revan bingung. *****
"Mohon like dan komennya ya, biar rajin up-nya."