
Hari ini langkah kaki Revan terasa ringan. Senyumnya begitu cerah, secerah mentari di pagi hari ini.
Beban yang menggayuti hatinya beberapa minggu ini telah lepas. Seiring istrinya telah memberinya maaf atas kesilafan yang ia lakukan.
Revan berjanji akan menjaga kesetiannya untuk istrinya. Cukuplah Mirna menjadi masa lalunya.Tak ingin mengulang lagi semua kesalahannya.
" Bang, ini bekal untuk.makan siang abang." Dara menyerahkan kotak berisi bekal suaminya.
" Makasih ya dek. Abang pergi dulu." Revan mencium kening istrinya. Lalu Dara juga mencium punggung tangan suaminya.
" Dah. Hati- hati ya bang,"
" Kamu juga dek,"
Revan menyalakan mesin mobilnya, dan keluar dari garasi. Lalu berbelok, menghilang di tikungan. Setelah mobil suaminya tidak nampak lagi, Dara masuk ke dalam rumahnya.
Menyelesaikan beberapa pekerjaan rumahnya. Dan bersiap- siap pergi ke butik.
Setiba di kantor, gawai Revan berdering. Buru- buru Revan mengambil ponselnya dari kantong celananya.
Revan langsung mematikan ponselnya itu.Begitu melihat nama yang tertera di aplikasi telepon berwarna hijau itu. Panggilan dari Mirna.
Telah berkali- kali Revan mengabaikan panggilan dari Mirna. Masih saja Mirna, menghubunginya.
Ponsel itu berdering lagi.Masih dari Mirna.
" Ya, halo," akhirnya Revan menerima panggilan itu. Ternyata Mirna mengajak bertemu. Kalau Revan tidak mau datang. Dia akan datanginya kantor tempat ia kerja.
Terpaksa Revan mengiyakan. Mirna menyebut alamat serta cafe yang akan di datangi Revan.
Revan permisi dari kantor untuk keluar sebentar. Lalu menemui Mirna di cafe, yang letaknya tidak begitu jauh dari kantornya.
Revan mengedarkan pandangannya, mencari sosok Mirna. Mirna telah melihat kedatangan Revan. Karena Mirna ada di lantai dua .
Mirna mengirim chat memberitahu keberadaan dirinya. Bergegas Revan naik ke atas.
" Bukankah sudah kukatakan, jangan lagi menhubungiku! Aku sudah menikah, Mir. Aku tidak ingin istriku tau tentang kita." berang Revan menatap Mirna kesal.
" Duduk dulu kenapa, sih. Datang- datang langsung marah." Mirna masih berusaha membujuk Revan.
" Aku tidak punya waktu untuk semua ini, Mir. Aku sedang bekerja!" makin kesal saja Revan melihat Mirna.
__ADS_1
" Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan kamu, Van. Kalau saja kamu mau angkat teleponku, aku gak perlu repot - repot datang ke sini."
" Kamu mau bicara, apa? Lekas katakan," ucap Revan gak sabar.
" Jangan begitu dong. Aku sudah memesan makanan. Temani aku makan yuk!"
" Mirna! Aku tidak main- main. Sebentar lagi aku ada rapat. Ayo cepat katakan!" Revan menggebrak meja karena kesal. Mirna terkejut dan hatinya kecut juga melihat amarah mantan tunangannya itu
" Aku hamil, Van?" ucap Mirna seraya tersenyum.
" Apa? Jangan ngaco kamu, ya! " hardik Revan kaget.
" Maksud kamu apa, Van. Beneran lo. Aku hamil, hamil anakmu." Mirna masih tersenyum.
" Kamu pikir aku percaya begitu saja, Mir! Tidak! Itu bukan anakku. Kamu hanya mau menjebakku. Tidak! Tidak Mirna. Aku tak percaya semua ini."
" Kamu tega berucap begitu, samaku Van. Kau ingat kita sudah melakukan itu beberapa kali. Dan aku tidak ada melakukan itu dengan orang lain.Hanya dengan kamu, Van. Sungguh!"
" Aku tidak sebodoh itu, Mir.Dari awal kamulah yang telah menggoda aku. Kamu sengaja mendatangi aku malam itu."
" Dasar lelaki pengecut! Kamu pikir aku serendah itu, Van."
" Kamu harus gugurkan kandunganmu itu, Mir. Aku tidak ingin rumah tanggaku hancur gara- gara kamu dan anak sialan itu."
" Dia bukan anakku, Mir. Ingat, aku selalu pakai pengaman setiap kali kita berhubungan. Dan jika dia anakku, berapa usia kandunganmu itu sekarang?"
Mendadak Mirna panik. Dia tidak menyangka akan seperti ini sikap Revan padanya. Tadinya dia sudah membayangkan sikap Revan akan terharu setelah ia menyatakan kehamilannya. Nyatanya dia begitu murka!
Dan menyuruhnya sekeji itu. Menggugurkan kandungannya.
" Kenapa diam , Mir. Ayo jawab, berapa usia kandunganmu itu.
" Revan, percaya aku. Ini adalah anak kamu."
" Aku tanya berapa usia kandunganmu. Jangan mengalihkan pembicaraan ,Mir!" Mirna menghitung siklus haidnya."
" Satu bulaln, Van." ucap Mirna ragu.
" Kenapa kamu ragu, Mir. Kamu lupa usia kandungan kamu sendiri.
" Aku baru bertemu kamu satu bulan lalu. Kok bisa usia kandungan kamu sudah satu bulan. Kamu pikir ku itu bodoh, Mir. Bisa kamu bohongi begitu saja!" '
__ADS_1
" Van, aku bicara yang sebenarnya, ini adalah anak kamu!" Mirna masih bersikukuh.
" Alah sudahlah,Mir. Aku memang sudah tertipu olehmu. Jangan harap aku akan percaya lagi sama kamu. Dan untuk lebih jelasnya aku tantang kamu untuk tes DNA." teriak Revan gusar.
Untunglah ruangan tempat mereka , kedap suara. Kalau tidak teriakannya itu akan menarik perhatian para pengunjung.
Revan bergegas meninggalkan Mirna di cafe itu. Ucapan Mirna telah mengacaukan hati dan fikirannya.
Baru semalam ia berbaikan dengan istrinya. Bagaimana kalau istrinya mendengar kabar ini. Dara pasti tak akan memaafkannya!
Sementara itu Mirna sepeninggal Revan, sangat kesal. Mirna salah menilai sikap Revan. Dia tak menyangka kalau Revan begitu mencintai istrinya. Dia pikir Revan masih mencintainya.
Benar- benar sial!
Tapi Mirna tak hilang akal. Dia akan meneror Dara dengan kehamilannya ini. Ingin dia lihat seperti apa paras sahabatnya itu. Saat mendengar kalau dia telah mengandung anaknya Revan, suaminya sendiri.
" Kali ini dendamku akan terlampiaskan, Dara. Ingin ku lihat kamu terpuruk. Hancur! Seperti kamu telah menghancurkan setiap harapanku dulu.
Mirna tertawa saat membayangkan wajah Dara!Wajah yang menyiratkan kehancuran karena telah di hianati suaminya .
Mereka akan bercerai dan Revan akan kembali ke pelukannya. Mirna tersenyum penuh kelicikan. Tinggal setahap lagi, semua rencananya akan terlaksana.
Mirna meraba perutnya. Perutnya telah mulai membuncit. Janin dalam perutnya memang bukan benihnya Revan. Janin itu milik kekasihnya Vino, yang entah di mana sekarang.
Mirna sengaja datang menemui Revan malam itu. Karena ia sudah panik dengan kehamilannya. Sementara Vino menghilang entah kemana.
Mirna tak menyangka akan bertemu Revan dalam peresmian kantor cabang waktu itu. Seperti menemukan solusi dari masalahnya. Saat dia melihat Revan.
Mirna tau Revan sangat mencintainya, jadi dia akan memamfaatkan momen itu. Mirna nekad datang ke hotel tempat Revan menginap.
Dan seperti dugaannya, Revan begitu mudah takluk di bawah kakinya. Karena malam itu dia berhasil menjebak Revan dengan cerita sedihnya.
Tapi semua rencananya soal, Revan ternyata meleset. Revan begitu teguh dengan analisanya.
Semua perkiraannya memang benar. Hampir saja tadi ia luluh, dan mengurngkan niatnya.
Tapi mengingat akan dendamnya , pada Dara. Kembali memicu semangatnya.
Mirna hanya perlu menggertak Revan. Menyuruhnya memilih dia atau istrinya. Atau dia akan memiliki ke duanya.
Mirna tersenyum, tak sabar untuk merealisasikan rencana busuknya.
__ADS_1
Revan tak bisa fokus saat rapat pertemuan. Pikirannya tertuju pada Mirna. Dan semua ucapannya. Revan sangat meragukan kalau janin yang ada di perut Mirna adalah darah dagingnya.
Entahlah kenapa dia meragukan, Mirna. Dia melihat Mirna sekarang berbeda dengan Mirna yang ia kenal dulu. ****