Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 24


__ADS_3

Sehingga Mirna begitu yakin kalau Revan akan bisa dia miliki lagi. Terlebih dia kini sedang hamil. Kehamilannya itu akan dia mamfaatkan untuk memiliki Revan.


Hanya saja tak semudah yang ia prediksi, untuk menjatuhkan, Dara. Meskipun dengan jelas Dara mengetahui perselingkuhan Revan dengan dirinya. Dara tetap bertahan . Membuat Mirna kehilangan akal sehatnya.


Mirna benar- benar panik.


Terlebih karena Miko juga tak memperdulikannya sejak ketahuan selingkuh dengan, Revan. Sementara kehamilannya sudah memasuki bulan ke empat.


Janin di dalam kandungannya adalah benih Miko. Tapi Miko tak mau mengakui karena ia telah selingkuh dengan Revan. Revan juga menolak dan tidak mau mengakuinya.


Sementara perutnya akan bertambah buncit. Masalah akan datang makin bertubi, jika ia tidak segera menikah dengan Revan.


Karena itulah tanpa menghiraukan harga dirinya, Mirna ngotot agar Revan mau menikahi dirinya. Meski jadi orang ke dua. Karena baginya Revan juga harus bertanggung jawab karena sudah menikmati tubuhnya.


" Mira...?!" kamu apa- apaan ini?" seru temannya Nesa dan Meri, yang mendadak mampir ke rumah Mirna.


Meskipun hanya dengan melihat suasana rumah, Mirna yang kacau. Sudah cukup mewakilkan kalalu Mirna sedang tidak baik- baik saja. Toh pertanyaan itu terlontar juga.


Mirna yang kaget tak menduga kedatangan sahabatnya, buru- buru mengusap air matanya.


" Kamu berantam dengan , Miko? Miko pulang, ya?" cecar Nesa.


" Mirna, kamu kok berantakan begini?" Meri juga tak kalah cemasnya melihat keadaan , Mirna.


" Aku tidak apa- apa kok." sahut Mirna tenang, dengan senyum penuh misteri. Matanya menatap kosong, membuat Nesa dan Meri bergidik.


" Bentar ya," Meri berdiri mengambil segelas air putih. Langkahnya begitu hati- hati, karena takut terkena pecahan beling.


" Minum dulu, Mir," Meri menyodorkan gelas ke arah Mirna. Membantunya agar Mirna mau minum air putih, supaya pikirannya sedikit tenang.


Mirna menyeruput air putih itu, hingga tandas. Pandangannya tadi yang sedikit kosong, kini mulai bersinar. Dan tiba- tiba seolah tersadar sendiri, dari sesuatu.


Nesa dan Meri merasa bingung dengan perubahan sikap Mirna. Apa Mirna punya kepribadian ganda?


" Eh, Nesa dan Meri? Udah lama datang? Aduh rumahku berantakan sekali, apa yang terjadi ya?" rutuknya kebingungan.


Meri dan Nesa saling pandang! Saling mengendikkan bahu. Dengan sorot mata kebingungan.


" Mir, kamu tidak apa- apakan?" Nesa menyentuh bahu Mirna, sekedar menyadarkan.


" Gak! Aku baik- baik saja, kok. Tumben kalian mampir bareng ke rumahku?"

__ADS_1


Meri dan Nesa makin di buat bingung. Oleh sikap Mirna yang berubah-ubah dalam hitungan menit. Seolah barusan tidak pernah terjadi apa- apa. Padahal rumahnya berantakan, persis kapal pecah!


"Eh, maaf ya. Masih berantakan, belum sempat bersih- bersih."


" Memang bi Arsi kemana?" tanya Nesa karena sedari tadi tak melihat pembatunya, Mirna.


" Tau, tuh. Mungkin belanja. Sudah, kita ke ruang tamu saja. Di sini berantakan sekali." Mirna menyeret ke dua sahabatnya agar meninggalkan dapurnya yang berantakan.


" Maaf ,Mir. Aku mau ke toilet dulu," ucap Nesa pura- pura.


" Pake kamar mandi di kamarku, aja say. "


" Di kamar si bibi aja deh, Mir." elak Nesa. Karena Nesa tiba- tiba khawatir dengan bi Arsi. Pembantu Mirna yang sudah separuh baya.


Benar saja, saat Nesa mengetok pintu kamar bi Arsi yang terkunci rapat. Lapat- lapat Nesa seperti mendengar isak tangis sesegukan.


" Bi Arsi, tolong buka pintunya bi." bujuk Nesa. Setelah agak lama, bi Arsi membuka pintu kamarnya. Wajah bi Arsi sembab karena menangis. Sementara tatapannya begitu ketakutan.


" Bibi kenapa, bi?"


" Aduh, non Nesa. Bagaimana keadaan non Mirna? Untunglah kalian datang. Bibi takut sekali!"


" Memang Mirna kenapa, bi?"


" Syukurlah bibi tidak apa- apa, tadi saya juga sempat khawatir sama bibi. Siapa tau di apa- apain sama Mirna."


" Sekatang sudah aman, bi. Kalau lain kali ada apa- apa, bibi telepon saya saja ya."


" Baik non. Emangnya, non Mirna itu kenapa?"


" Entahlah bi. Sepertinya terguncang saja."


" Apa karena tuan Miko, ya. Solanya sebulan lalu mereka bertengkar hebat. Katanya non, Mirna selingkuh."


" Sssttt, bibi jangan bicara lagi. Bibi pura- pura tak tau apa- apa saja, ya," Nesa langsung keluar dari kamar bibi Arsi.


" Bi, tolong beresin dapur yang berantakan," ucap Nesa sesaat mau menutup pintu kamar bi Arsi.


" Iya non, akan segera bibi bersihkan."


" Bergegas ya, bi. Hati- hati pecahan belingnya." bi Arsi mengangguk.

__ADS_1


" Gimana Mir, kamu mau cerita gak. Apa yang terjadi denganmu?" ucap Nesa saat sudah duduk di sofa.


" Iya, Mir. Gak mungkin gak ada angin, hujan badai rumah kamu kayak kapal pecah." kejar Meri.


" Masih soal Miko atau Revan?" pancing Nesa.


"Kalau menurut aku sih, Mir. Mending kamu move on aja deh dari Revan. Dia itukan sudah punya istri. Salah kamu juga dulu, kenapa ninggalin Revan, demi Miko. Jadinya kamu yang kelimpungan sendiri." tukas Meri.


" Iya, Mir. Mending kamu balik ke Miko aja. Minta maaf. Toh anak dalam perut kamu itu kan, anaknya Miko."


" Kalian ini ngomong apaan sih, sedari tadi. Gak jelas?" sangkal Mirna.


" Kita mau bantu, mecahin masalah kamu, Mir. Ngasih solusi."


" Solusi apaan, otakku makin ruwet dengar omongan kalian. Alih- alih mau bantu." sahut Mirna dengan muka datarnya.


" Jadi kamu ngotot, mau nikahin Revan. Sementara Revan sudah nikah dan cinta banget sama istrinya?!" beliak Nesa yang merasa pusing melihat keegoisan Mirna.


" Cinta apaan. Buktinya Revan takluk samaku! "


" Itu dulu, kalo sekarang aku meragukan itu, Mir. Lagian itu pasti karena jebakanmu." tohok Nesa.


" Mikir baik- baik, Mir. Sebagai teman kami itu ingin kamu bahagia. Kamu mau ya, di sebut pelakor. Jaga harga diri kamu dong. Cukup kamu lakuin kesalahan dengan, Miko. Tidak dengan Revan lagi, Mir." tanpa sadar suara Meri naik satu oktaf.


" Kalian teman aku atau gak sih?! Kok malah belain Dara dari pada aku. Gih, pulang sana. Gak usah ikut campaur dengan urusanku." tatap Mirna tajam ke arah ke dua sobatnya itu. Yang menurutnya tidak mengerti perasaannya.


" Kamu itu buta, Mir. Mikir yang realistis kenapa, sih!" Nesa juga akhirnya terpancing dan emosi melihat kebebalan hati Mirna.


" Ya udah, bodo amat dengan nasehat kalian. Kalian hanya munafik. Sok suci sama aku!" gertak Mirna. Meraih vas bunga di depannya dan mencampaknya ke lantai.


Meri dan Nesa kalang kabut meninggalkan, rumah Mirna.


" Dasar mulut kecoa, gak sadar kalau ucapannya bau busuk semua!" maki Mirna setelah kepergian Meri dan Nesa.


Bukannya membuat adem hatinya, malah mencecah hatinya jadi serpihan.


" Tidak sesiapa pun, yang boleh mengahalangi ke inginanku. Untuk memiliki Revan. Aku punya sejuta cara untuk mendapatkannya kembali." guman Mirna keras.


Bi Arsi yang mendengar dari dapur, merasa merinding mendengar gumanan majikannya. Yang sepertinya sudah tidak rasional lagi. ***


Mohon dukungannya ya para pembaca setiaku, untuk karya recehan ini.

__ADS_1


Terimakasih, salam sehat buat kita semua...


__ADS_2