
" Non Mirna bercerai? Aduh Non, bibi turut sedih."
" Gak apa- apa kok bi. Mungkin itu sudah jalan yang terbaik dari pada harus saling menyakiti." sahut Mirna pelan. Bi Arsi tertegun mendengar jawaban Mirna yang bijak. Sepertinya Mirna telah banyak berubah dalam beberapa tahun ini. Sikap dan ucapannya telah jauh berbeda.
' Apa dan siapakah yang telah mengubah pribadi Mirna, menjadi sosok yang lebih bijak seperti ini? Apakah ini hanya persaanku saja?' batin bi Arsi dalam diam.
"Bu, sepertinya itu ada tempat praktek, dokter umum." Harun memperlambat laju mobil yang ia kemudikan.
" Berhenti di sini saja, pak!" ucap Mirna.
" Baik, Bu." Harun menepikan mobil, matanya awas lewat kaca spion saat memarkirkan mobil. Setelah mesin dimatikan, Harun bergegas membukakan pintu mobil. Untuk membantu bi Arsi keluar dari mobil. Memapahnya berjalan menuju ruang dokter. Mirna mengikuti dari belakang.
" Selamag siang pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa suster jaga ramah. Menyambut kedatangan mereka.
"Tadi bibi ini keserempet mobil, suter. Tolong di periksa," jelas Mirna menunjuk bi Arsi.
" Mari bu, pak. Langsung saja ke ruangan dokter," suster itu memberi sepotong kertas. Nomor pengunjung pasien.
Karena masih sepi, Bi Arsi langsung di periksa dokter tanpa menunggu antrian lagi.
" Tidak apa- apa. Tak ada tulang yang retak. Hanya lecet saja," ucap dokter lalu menyuruh asistennya mengobati luka di lutut bi Arsi. Juga memberi resep untuk ditebus.
Selesai diperiksa dokter, Mirna membawa bi Arsi untuk tinggal bersamanya. Perjalanan menuju rumah Mirna memakan waktu tiga puluh menit.
" Mama...!!!" teriak Grace riang saat mendengar deru mobil di halaman. Gadis mungil itu, berlari ke halaman serta menghambur ke pelukan, Mirna. Begitu ia keluar dari mobil.
" Grace, kangen mama." Grace memeluk erat leher Mirna. Seakan tak ingin melepasnya. Hingga Mirna gelagapan.
" Baru juga beberapa jam, mama pergi." Mirna membalas pelukan putri kecilnya. Menciumi seluruh wajahnya, dengan gemas. Grace tertawa cekikikan karena geli.
" Mama bawa apa sama, Grace?" seraya mengambil alih kantongan dari tangan, Mirna. Lucu sekali melihatnya, karena Grace menjinjingnya dengan seluruh kekuatannya. Kotak itu memang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
" Hati- hati sayang, biar mama aja yang bawakan." Mirna bermaksud meraih kembali kotak itu. Tapi Grace menolaknya. Wajah bocah itu meringis, sambil tertawa . Lucu dan gemas, mungkin itulah pendapat orang yang melihat tingkah, Grace.
Sementara itu, Harun membantu Bi Arsi untuk keluar dari mobil. Sesaat mata Grace menatap heran, saat melihat Bi Arsi keluar dari mobil. Ditatapnya Mirna dengan sebuah pertanyaan.
" Hati- hati ya, pak," ucap Mirna mengikuti langkah Harun dari belakang.
" Mama? Itu siapa, ma?" tanya Grace sambil menarik ujung gaun, Mirna.
__ADS_1
" Oh, iya. Mama lupa. Itu Bi Arsi, dulu pernah tinggal bersama mama. Tadi gak sengaja, om Harun nabrak Bi Arsi. Tapi gak apa- apa kok, cuma lecet saja, dan udah mama bawa kok berobat," jelas Mirna.
" Aduh, kacian ya ma. Sama nenek!" wajah Grace memelas.
" Ayo masuk nak. Nyusul nenek, biar mama kenalkan sama Bi Arsi." Mirna menggandeng lengan Grace dan mengambil alih kotak di tangannya. Dengan langkah ringan Mirna dan Grace menuju rumah.
***
" Mama...!!!" teriakan Kevin yang membahana, memekakkan telinga Dara. Saat baru pulang dari sekolah.
" Aduh, suara anak mama, udah kayak tarzan saja." Seru Dara, menyambut pelukan putranya.
Kevin cengengesan dan mengelinjang geli, saat mamanya mengelitik pinggangnya.
" Mamah, masak apa? Kok harum sekali?" mata Kevin jelalatan mencari sesuatu di atas meja.
" Mama masak ayam goreng kesukaan, Kevin." Dara mengambil ayam goreng dari lemari. Meletakkannya di atas meja. Aroma ayam goreng yang baru selesai dimasak Dara, menguar di dapur.
" Sekarang Kevin ganti seragam dulu, cuci tangan. Biar makan siang, oke." Kevin segera berlari ke kamarnya. Menuruti perintah Dara. Beberapa menit kemudian, Kevin sudah kembali ke dapur.
" Hem, harum sekali, Ma. Kevin jadi lapar nih." Kevin mengusap perutnya, menunjukkan betapa laparnya dia.
" Anak mama, ini. Ada- ada saja." Dara mengambil piring, mengisinya dengan nasi. Juga dengan sepotong ayam goreng kesukaan Kevin.
" Nih, mama suapin atau maem sendiri?" Dara meletakkan sepiring nasi dan lauk untuk Kevin.
" Kevin, maem sendiri, ma." Lalu Kevin melipat kedua tangannya. Melakukan tanda salib di awal dan akhir doanya.
" Oke, anak mama pintar, deh." Sambil mengelus kepala Kevin. Dengan lahap Kevin menikmati makan siangnya.
Dara memandangi Kevin yang sedang makan. Kening putranya penuh dengan bintik keringat. Dara mengusapnya dengan tissu. Sesekali Kevin terkekeh melihat mamanya yang sibuk melap keringatnya.
" Puji Tuhan, masakan mama emang, maknyus...!" Kevin mengangkat kedua jempol tangannya. Mengusap perutnya yang sudah kenyang.
" Mama, tadi ada anak baru di sekolah, Kevin. Tapi dia adek kelas Kevin. Namanya Grace, cantik lo ma," ucap Kevin antusias saat menceritakan murid baru di sekolahnya.
" Hem, senangya yang punya kawan baru." Sahut Dara, seraya memebereskan piring makan, Kevin. Mencucinya di wastafel.
" Ma, besok mama ikut saja ngantar, Kevin. Biar mama kenal," ucap Kevin.
__ADS_1
" Sampe segitunya, mau kenalkan mama sama temannya. Naksir, ya?" kekeh Dara. Membuat wajah Kevin memerah, karena godaanya.
' Ya, ampun! Segitunya anakku ini, ngerti dia dibilang naksir. Sampe wajahnya memerah, gitu,' batin Dara lucu.
" Okeh, mama ikut antar Kevin, besok. Biar mama kenal sama teman baru, Kevin,"
" Okeh, janji ya ma. Mama pasti kaget, karena temanku itu sangat cantik, hehehe...!" Kevin tertawa lucu. Dara hanya menggeleng kepala. Tak habis pikir melihat ulah putranya, yang ada- ada saja.
Tiba- tiba ponsel di kantong Dara, bergetar. Dara memeriksa notifikasi di aplikasi berlambang telepon hijau. Ternyata Revan suaminya.
" Halo, bang? Ada apa?" sahut Dara seraya matanya mengawasi Kevin yang bermain di teras.
" Halo, dek. Abang cuma mau bilang, kalo nanti abang telat pulang karena lembur,"
" Lemburnya sampe jam berapa, bang?"
" Mungkin hingga jam sembilan, bisa juga molor. Tergantung pekerjaan abanglah. Kalo cepat kelar, abang akan segera pulang. Kevin sudah pulang sekolah?"
" Sudah bang.Barusan selesai makan siang. Abang sudah makan siang?"
" Sudah dek. Adek sudah?"
" Belum, bang. Ntar lagi, karena baru siap masak. Masih beres- beres dapur."
" Keburu makanlah dek, nanti telat. Jaga kesehatanmu,"
" Iya, bang,"
" Oke, abang sudahi ya. Dah...!" Dara memasukkan kembali ponselnya, ke kantong dasternya. Lalu menyusul Kevin yang bermain di teras.
" Vin, udahan mainnya nak. Bobo siang dulu," tegur Dara. Mengingtkan Kevin untuk tidur siang.
" Iya, ma." Sahut Kevin lalu memungut kembali mainannya. Lalu di kumpulkannya pada kotak besar, tempat mainannya biasa di simpan.
Dara tersenyum melihat anaknya Kevin, setiap kali habis main selalu merapikan kembali mainannya. Dara membantu mengangkat kotak berisi mainan itu. Tapi di cegah oleh Kevin.
" Jangan Ma, biar Kevin saja. Kevinkan sudah besar." Kevin menyeret kotak itu, lalu menyimpannya kembali di sudut ruang tamu.
" Nah, bereskan Mam," seru Kevin bangga.
__ADS_1
" Anak pintar, " Dara mengacungkan jempol jarinya, menghargai usaha putranya untuk bertanggung jawab dengan barang- barangnya.
Dara memang sudah menanamkan pola itu ke anaknya sejak dini. Semua dia lakukan secara perlahan dan penuh kesabaran. Pada akhirnya Kevin akan terbiasa, dengan aturan. Dan tidak membebaninya. Karena apa yang di ajarkan Dara, sesuai dengan usianya, dan tidak melakukan dengan paksaan. *****