Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 26


__ADS_3

Mirna tersenyum penuh kemenangan. Pada akhirnya, Revan menikahinya juga, sekalipun dengan keadaan terpaksa. Dengan, pongah hatinya bersorak! Untuk selanjutnya dia akan bisa menguasai Revan, dan membalaskan dendamnya pada Dara.


Hanya tinggal menunggu waktu, semua rencana yang ia susun akan berhasil dengan sukses. Karena selama ini, segala apa yang ia inginkan pasti bisa ia miliki. Karena sudah ia buktikan selama ini.


Kini, Mirna telah berada di rumah Revan. Dengan status istri kedua. Masih jelas terbayang wajah pucat Revan, ketika pimpinannya memaksanya menikahi dirinya.


Segala upaya Revan membela dirinya mentok. Tidak seorangpun yang percaya perkataan, Revan.


Bahkan ketika Revan meminta untuk melihat rekaman CCTV dalam ruangannya. Untuk membuktikan kejadian yang sebenarnya. CCTV dalam ruangan Revan, ternyata dalam perbaikan sejak kemarin karena rusak. Revan benar- benar merasa dirinya sangat sial.


Bukti satu- satunya adalah kesaksian dari rekan kerjanya, yang melihat langsung kejadian itu.


Karena mereka telah melihat sendiri, bagaimana posisi Mirna dan Revan saat mereka pergoki.


Pakaian Mirna yang robek, dan awut- awutan. Juga kemeja Revan yang beberapa kancingnya copot, karena di tarik paksa, Mirna. Belum lagi keadaan kantor Revan yang kacau. Bukti perjuangan Mirna membela dirinya. Saat Revan hendak memperkosanya.


Saat melihat Revan panik itulah, membuat Meirna merasa di atas angin. Dengan memamfaatkan simpati orang di sekitarnya, serta air mata buaya. Mirna mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Selamat sore, Dara!" ucap Mirna memberi salam, begitu kakinya menginjak ruang tamu, rumah Dara. Senyum kemenangannya, jelas terukir di mulutnya.


Sementara, Revan tertunduk, salah tingkah! Sungguh dua ekspresi yang bertolak belakang satu sama lain.


Dara yang tengah duduk di sofa saat itu, telah menunggu kedatangan mereka. Revan telah menelepon Dara. Menceritakan insiden di kantornya atas ulah, Mirna.


Dara hanya bisa mengelus dadanya. Sampai segitunya Mirna, mengusik rumah tangganya. Rela menjadi adik madunya. Tanpa peduli perasaannya. Dasar pelakor!


" Selamat sore juga!" sahut Dara dengan wajah datar. Mereka masih mengenakan pakaian lengkap pernikahan. Seolah pernikahan itu, terjadi dengan restunya. Keterlaluan!


" Silahkan duduk, Mirna." ucap Dara. Mirna duduk dengan senang hati di hadapan Dara. Masih dengan senyumnya. Membuat Dara jijik dan ingin menampar mulut itu, sampai benyok.


Tapi Dara harus menahan kesabarannya. Setidaknya untuk beberapa saat. Agar ia mampu menerapkan rencanaya.


"Bang, kalau abang gerah dengan pakaian itu. Pergilah mandi dan ganti pakaian."


" Baiklah, aku ganti pakaian dulu." sahut Revan beranjak dari kursinya. Mirna juga berdiri hendak mengikuti Revan. Tapi keburu di tegur, Dara.

__ADS_1


" Mau kemana, Mir?"


" Aku juga mau ganti pakaian ini. Rasanya gerah dan lengket." kibas Mirna pada tubuhnya dengan jemarinya.


" Rumah ini adalah milikku. Kamu boleh melakukan sesuatu harus dengan seijinku. Itu peraturan pertama." tukas Dara dengan sorot mata tajam.


" A...ku ju..."


" Yang kedua, kamu jangan bertingkah sok-sokan seolah kamu punya kuasa di rumah ini." sambung Dara sebelum Mirna sempat menyelesaikan ucapannya.


" Ha..ih..kamu.." Mirna mencoba protes lagi.


" Tiga! Jika kamu protes setiap aturan yang aku buat, kamu boleh pergi dari rumah ini!" lagi- lagi Dara memotong ucapan Mirna.


" Oh, ya. Untuk kamarmu ada di belakang. Kamu pasti mudah menemukannya. Karena kamar di rumah ini cuma dua. Jangan berharap kamu akan di ladeni di rumah ini. Karena tidak ada pembantu di sini."


" Iiihhh..." seru Mirna geram begitu Dara berlalu dan masuk kamar. Matanya melongo, saat Dara menutup pintu kamarnya, sekaligus menguncinya.


Mirna menyeret tas serta kopernya menuju kamar di belakang, yang di sebut Dara. Saat pintu kamar itu terbuka, aroma bau debu menguar dari kamar itu. Mirna menekan stop kontak lampu dan matanya nanar menatap seisi kamar.


Huff! Mirna menutup hidungnya karena udara yang terasa pengap.


Bagaimana dia bisa menghuni kamar ini? Sementara kamar di rumahnya jauh lebih mewah!


Dara benar- benar menghinanya. Bukankah seharusnya Dara di kamar ini? Mengingat dia baru menikah dengan Revan. Setidaknya mereka tidur di kamar hotel, untuk berbulan madu.


Tapi, apa iya Revan, mau? Jelas Revan masih marah dan benci padanya, karena dipaksa menikahinya tadi siang


Revan manut saja ketika, Dara menyuruhnya salin pakaian. Revan sama sekali tak mengubrisnya.


Ih, lantas sekarang aku bagaimana, dong? Gak mungkin aku pergi dari sini, sekarang. Bisa- bisa Dara besar kepala. Karena untuk sampai sejauh ini, Mirna sudah melakukan banyak hal. Masak belum semalam langsung minggat?


Dengan terpaksa, Mirna membersihkan kamar yang lebih mirip gudang itu. Besok ia akan minta Revan memindahkan barang- barang itu. Supaya kamar itu terlihat lapang.


Setelah selesai, membersihkan kamarnya. Mirna merasa haus dan lapar. Mirna mencoba mengintip isi lemari makan juga kulkas, Dara.

__ADS_1


" Ya, ampun kosong!" rutuk Mirna kesal. Sama sekali tidak ada apa- apa di sana. Apa Dara ngumpetin isi kulkas dan lemarinya?


Mirna melirik ke arah kamar Dara, masih terkunci sedari tadi. Mirna menempelkan telinganya di daun pintu. Mencari tau ngapain saja mereka sedari tadi di kamar.ny


Mirna mendengar suara ******* dari kamar. Pikiran Mirna lansung traveling ke mana- mana.


Hati Mirna makin emosi tingkat dewa. Harusnya dialah yang bermanja denga Revan. Bukan Dara!


Saking kesal dan emosinya , Mirna tak sengaja menyepak kaki meja makan. Mirna menjerit, mengaduh kesakitan. Tapi sepertinya Revan dan Dara tak peduli sama sekali.


Akhirnya, Mirna memesan makanan online. Sudah tak tahan menahan lapar. Dengan menahan rasa dongkol di hatinya, Mirna menikmati makan malamnya sendirian.


Tengah malam Mirna terjaga dari tidurnya. Suara dengungan nyamuk membuatnya tak bisa memincingkan matanya walau sejenak. Nyamuk- nyamuk itu, sangat mengganggu.


Mirna bangkit dari tempat tidurnya. Dan keluar dari kamar. Dia mengaduk- aduk isi lemari hias siapa tau ada obat anti nyamuk.


Tapi yang dicarinya tak kunjung ketemu. Rasa kesalnya makin memuncak.


" Klik!" terdengar suara pintu di buka. Tenyata Revan yang keluar dari kamar. Revan terkejut melihat Mirna yang mengaduk- aduk isi lemari.


" Kamu kenapa, Mir?"


" Egh....Aku mau cari obat nyamuk. Di kamarku banyak sekali nyamuk. Aku tak bisa tidur."


" Baru nyamuk yang mengganggumu, kamu sudah tak bisa tidur. Lha, orang yang kamu ganggu hidupnya, bagaimana Mir?" sindir Dara, yang tiba- tiba sudah muncul di belakang Revan


Mata Mirna mendelik kesal mendengar sindiran, Dara.


" Bukankah sudah aku katakan, kamu harus minta ijin dulu, menggunaka barang- barang di rumah ini. Kok malah mengaduk- aduk isi lemariku!" seringai Dara.


" Aku tidak nyaman tidur dengan suara, nyamuk- nyamuk itu."


" Oh, kamu terganggu juga ya? Baguslah! Telingamu masih cukup waras juga. Dan kulitmu masih peka dengan gigitan nyamuk.


Tapi bisa- bisanya, ya. Hatimu tidak punya rasa, sehingga rela jadi pelakor!" ***

__ADS_1


"


__ADS_2