Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 38


__ADS_3

Jam telah menunjukkan di angka 14:30. Kevin telah bolak-balik antara ruang tamu dan teras. Menanti kedatangan papanya, Revan. Tapi, tanda-tanda papanya akan pulang belum juga, ada.


Setiap kali mendengar ada suara klakson mobil, Kevin bergegas ke depan pintu. Siapa tau itu adalah suara klakson mobil papanya.Berulangkali Kevin menghela nafas kecewa.


Dara juga telah berkali-kali mengontak suaminya, hendak menanyakan sudah berada di mana. Tapi nomor yang ia hubungi tidak aktif.


Kevin mulai cemas, dan rasa kecewanya makin terlihat saat melihat jarum jam yang terus berputar berganti angka. Sementara Revan yang tengah menghadiri rapat darurat, sama sekali tak menyadari bahwa hari ini dia sudah janji untuk menghadiri perayaan Natal Kevin, di sekolahnya.


Sedari tadi, Revan, mensilent ponselnya. Karena rapat tengah berlangsung.


Akhirnya Dara mengajak Kevin untuk pergi duluan saja. Karena acaramya dimulai jam 3 sore. 15 menit sebelum acara dimulai, semua harus sudah berada di tempat duduk masing-masing


Perjalanan ke sekolah Kevin, memakan waktu 15 menit. Jadi, tidak ada waktu lagi untuk menunggu kedatangan Revan.


"Ayo, kita berangkat duluan nak. Biar Papa nyusul. Nanti kita terlambat." Bujuk Dara pada Kevin, yang masih berharap Papanya tiba-tiba muncul. Dengan lesu, Kevin beranjak dari duduknya.


Dara merapikan pakaian Kevin, yang agak kusut. Kevin nampak gagah dalam balutan stelan jas, biru navy dengan kemeja putih tulang.


"Duh, gantengnya putra, Mama." Dara mencium pipi Kevin. "Senyum dong, sayang!" ujar Dara karena wajah Kevin yang nampak lesu tak bersemangat. Kevin tersenyum paksa.


"Nah! Gitu dong. Yuk, kita foto selfi sebelum berangkat," usul Dara. Diangguki Kevin tanda setuju. Kedua anak beranak itu lalu berfoto beberapa pose. "Yuk, buruan Nak, kita berangkat. Ntar kita telat. Gak dapat tempat duduk!" seru Dara saat teringat kalau waktu mereka sudah mepet.


Dengan mengendarai Honda beat maticnya, Dara menyusuri sepanjang jalan menuju sekolah Kevin. Hampir saja mereka terlambat, pintu gerbang sudah ditutup separuh. Karena pintu gerbang akan ditutup sepenuhnya bila acara telah dimulai. Demi menjaga keamanan. Itulah sebabnya harus hadir 15 menit sebelum acara di mulai.


Acara demi acara telah berjalan dengan hikmad. Kevin masih gelisah, menunggu kedatangan papanya. Kevin masih berharap sebelum ia tampil membacakan ayat kitab suci, dia berharap papanya akan datang. Namun, hingga acara demi acara selesai digelar, Revan belum juga menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


Saat perjalanan pulang, Kevin tidak banyak bicara, atau menyinggung soal ketidak hadiran papanya. Sepertinya Kevin sudah lelah dan ngantuk. Dara merasakan kekecewaan putranya, tapi tidak bisa berbuat banyak.


Untuk menghibur hati putranya, Dara mengajukan ide untuk mampir di taman kota. Karena malam belum terlalu larut. Juga besok, Kevin sudah mulai liburan sekolah.


"Vin, kita mampir yuk, di taman kota?" usul Dara.


"Ngapain kita ke sana, Ma? Kevin dah capek, pengen bobo," tolaknya halus.


"Bentar aja, Nak. Sepertinya ramai di sana. Mungkin ada acara hiburan." Bujuk Dara, menghentikan motornya di depan pintu gerbang. Mau tak mau Kevin nurut juga, lalu turun dari boncengan, mamanya.


Setelah memarkirkan sepeda motornya di luar pintu gerbang, dan menitip pada tukang parkir. Dara menuntun tangan Kevin memasuki taman kota.


Benar saja, seperti dugaan Dara. Ada pagelaran hiburan di taman kota. Sebuah pertunjukan seni, yang digelar salah satu komunitas seni lokal. Kevin bersorak saat melihat ada badut lucu, di tengah pertunjukkan.


"Ma, ada badut tuh," teriak Kevin mencoba mengalahkan suara sound system. Kevin menunjuk ke arah badut lucu di pojok panggung.


"Kevin, mau salamin badut, Ma." Tanpa menunggu jawaban Dara, Kevin sudah melesat menghampiri badut. Kevin memang sangat suka pada badut. Beda dengan kebanyakan anak yang merasa takut melihat badut. Kevin, justru senang setiap kali melihat badut. Lucu dan menggemaskan, katanya selalu.


Dara mengikuti langkah Kevin, dari belakang. Untunglah para penonton tidak terlalu banyak, sehingga tak sulit bagi Dara mengikuti langkah putranya.


"Ma, fotoin Kevin, Ma." teriak Kevin, seraya mengajak sang badut berfoto. Sang badut mengiyakan, dengan senang hati. Beberapa pose foto telah berpindah ke galeri, ponsel Dara. Bahkan sang badut, merelakan membuka penutup kepalanya. Sehingga wajahnya nampak jelas.


Badut itu adalah sesosok pria tampan, yang dengan ramahnya memperkenalkan dirinya pada Kevin.


"Kenalkan, nama Om Yudistira. Panggil saja, Om Yudi," sebut Yudi. " Nama kamu siapa?" Yudi mengulurkan tangannya pada Kevin. Sejenak, Kevin ragu. Kevin memandang ke arah, Dara, sepertinya minta persetujuan. Dara, mengangguk tanda setuju. Buru-buru, Kevin menyambut uluran tangan itu.

__ADS_1


"Namaku Kevin, Om."


"Hem, nama yang bagus," sambut Yudi, mengusap kepala Kevin. Entah, Kevin begitu terpesona melihat, om Yudi. Berkali-kali ia tertawa. Entah apa saja yang dia bisikkan pada Kevin sehingga anak itu langsung akrab. Dara, memandang semua itu dengan terharu. Dara, turut senang karena Kevin bisa sejenak melupakan kekecewaannya, terhadap papanya


"Itu, Mama Kevin, ya?"


"Iya, Om. Yuk, Om, Kevin kenalkan sama, Mama," lantas Kevin menarik lengan, Yudi. "Mama, kenalin ini Om Yudi," Yudi mengulurkan tangannya.


"Saya Yudistira. Mbak, panggil saja ,Yudi," ucap Yudi. Mau tak mau Dara menerirma uluran tangan itu, dan menyebut namanya juga.


"Dara," ucap Dara singkat, sekaligus heran karena Kevin semudah itu akrab dengan orang yang baru ia kenal. "Vin, kita pulang ya, Nak. Udah malam," ajak Dara pada putranya.


"Ya, baru juga sebentar." Protes Kevin, menghentakkan kakinya. Wajahnya ditekuk cemberut, saat mendekat ke mamanya.


"Anak baik, harus patuh sama, mamanya," ucap Yudi.


"Iya, Om. Kevin pulang, ya. Ayo, Ma." Kevin menarik lengan, mamanya. Yudi tersenyum simpul melihat ulah Kevin.


"Permisi," ucap Dara, berlalu dari hadapan Yudi. Yudi menggangguk hormat, dan menatap kepergian Kevin dan Dara. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga dada, Yudi. Entah kenapa, dia merasa Kevin itu seolah bukan orang asing. Apakah karena Kevin mengingatkannya akan seseorang yang begitu ia cintai, dulu?


Saat Kevin berlari ke arahnya tadi, Yudi sungguh menyangka kalau itu adalah, Abi, putranya yang telah kembali ke pangkuan sang Pemberi Hidup.


Namun, ketika sosok Dara datang melangkah mengikuti Kevin, Yudi, tersadar kalau Kevin bukanlah Abi, putranya.


Anehnya lagi, bagaimana Kevin bisa, langsung akrab padanya? Padahal ini pertemuan mereka yang pertama. Sepertinya, bukan sekedar karena ia badut. Kemungkinan, bisa saja juga 'kan karena dia badut? Karena sambutannya yang hangat, sehingga Kevin merasa nyaman.

__ADS_1


Ah, apapun alasannya. Kevin telah mencuri hati seorang ayah yang ditinggal mati anak dan istri dalam suatu kecelakaan, bertahun-tahun silam. Tepatnya 10 tahun yang lalu.


Akibat peristiwa tragis itu, telah membuat Yudi berduka cukup lama. Hingga sepuluh tahun setelah kejadian itu, Yudi membeku. ****


__ADS_2