Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 44


__ADS_3

"Kamu mau kemana lagi, sih?" protes Mirna saat melihat Revan hendak pergi lagi. Akhir-akhir Revan semakin jarang mengunjunginya. Baru saja datang pun udah bergegas hendak pergi lagi.


Sepertinya dia datang hanya untuk menyalurkan hasrat birahinya saja. Itupun karena dia yang meminta jatah lebih dulu. Biasanya, Revanlah yang lebih agresif. Mirna jadi curiga, tapi dia tidak mau gegabah menuduh, Revan.


"Sayang, aku masih kangen. Sudah seminggu lebih kamu tidak disini," Mirna memeluk tubuh Revan dari belakang. Menyentuh beberapa titik yang akan membuat Revan, bergairah, tapi Revan sepertinya tidak merespon.


"Kamu harus sabar, Dara sepertinya sudah curiga dengan aku. Lagi pula tugasku di kantor pusat belum selesai," ucap Revan seraya melepas halus belitan tangan Mirna. Mirna mencebik.


"Kamu mulai berubah, kamu lebih sayang Dara dari pada aku, ya?"


"Kamu harus ngerti lo, posisi aku Mir. Aku gak bisa leluasa seperti keinginanmu. Dara, masih istriku yang syah."


"Trus, sampai kapan aku terus hidup dalam bayang-bayang, Dara. Kapan kamu menceraikan perempuan itu," ucap Mirna tajam.


"Tunggu, waktu yang tepat. Kamu bersabar saja dulu."


"Sabar-sabar itu terus janjimu, tapi sampai kapan aku bersabar!" hentak Mirna mulai emosi.


"Kamu kenapa sih, selalu menuntutku. Harusnya kamu tau'kan kalau hubungan kita ini beresiko. Kenapa sekarang kamu banyak mengekangku?" sentak Revan kasar. "Aku pergi, malam ini aku tidak pulang. Jadi gak usah di tunggu." Revan lantas keluar rumah, dengan hati dongkol.


"Brengsek, Mirna juga makin berulah. Ah, bikin pusing saja." Revan memukul kemudi, lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Mirna.


Malam ini Revan ada janji dengan Mutia. Cewek yang baru ditaksirnya. Setelah sekian lama menabur gombalan, yang selalu ditolak dengan dengan sebuah janji terus. Akhirnya malam ini Mutia, berhasil dia ajak untuk makan malam.


Mutia menolak dijemput kerumahnya, mereka janji ketemuan di suatu tempat. Padahal Revan ingin tahu alamat rumah, Mutia, agar dia bisa sering datang kesana. Namun Mutia menolak dengan alasan yang tepat. Sehingga Revan tidak berkutik. Toh, nantinya dia akan tahu juga.


Sabar dikit napa sih? rutuk Revan dalam hati. Justru sikap Mutia yang yang penuh misteri, semakin membuat Revan penasaran dan tertantang untuk menaklukkan hatinya.


Sementara, Dara telah pamit pada Kevin dan bi Asih. Perempuan setengah baya itu, sengaja Dara pekerjakan di rumah untuk membantunya urusan rumah tangga dan sekaligus mengawasi, Kevin.


"Mama mau kemana sih ma, malam- malam begini?" protes Kevin tadi. Membuat Muti merasa bersalah.

__ADS_1


"Mama cuma mau keluar sebentar, nak. Kevin, bersama bibi Asih dulu, ya." Dara mengusap kepala anaknya.


"Kalau papa pulang gimana, ma. Kevin harus omong apa?"


"Mama akan pulang sebelum papa datang, oke. Mama cuma sebentar aja, kok."


"Mah, napa sih mama sekarang kok ngerja di kantor. Gak di butik lagi. Kevin lebih suka mama, kerja di butik gak capek," ucap Kevin polos. Dara tertawa.


"Mama kerja di kantor cuma sebentar aja, kok. Makanya, Kevin harus jaga rahasia mama, ya. Jangan sampai papa tau, kalo mama kerja di kantor."


"Sip, mama, Kevin janji." menautkan jari kelingkingnya dengan Dara. Dara merasa sangat bersalah pada anaknya, Kevin , karena telah membohongi putra semata wayangnya.


Terpaksa dia melakoni semua ini, bahkan sampai harus menyamar segala, hanya untuk mencari bukti perselingkuhan suaminya.


Angin dingin menerpa wajah Dara, saat sepeda motornya melaju di keramaian jalan malam ini.


Setelah sekian kali menolak ajakan, Revan, untuk makan malam akhirnya malam ini Mutia menerimanya karena sudah kehilangan alasan.


Setelah itu dia menapaki jalan setapak menuju kafe. Masih beberapa langkah kakinya memasuki gerbang kafe, Revan telah datang menyusul langkahnya.


"Hai dek, jalanan macet, ya?" sapanya begitu mereka berhadapan. Mutia memang telat sedikit, karena harus menukar dulu penampilannya dari Dara menjadi Mutia.


"Lumayanlah, bang. Untung saja aku tidak terjebak. Tapi, tetap saja aku telat. Abang sudah lama ya?" tukas Amy saat melihat kopi di gelas Revan tinggal separuh.


"Belum juga sih, daripada bengong, mending sambil ngopi." kekehnya seraya menarik kursi untuk diduduki, Mutia.


Hem, guman Mutia dalam hati, saat melihat betapa romantisnya perlakuan Revan padanya. Lilin merah serta beberapa kuntum mawar merah yang ditata dengan apik diatas meja. Mata siapaoun yang melihatnya pasti tersentuh dan terhanyut oleh suasana romantis itu.


"Kamu suka gak?" ucapya saat melihat manik mata Mutia, yang menyapu seisi ruangan yang sengaja didekor indah.


Soalnya meja-meja serta ruangan disekitarnya penataannya biasa saja. Tidak ada apa-apa diatas meja kecuali sebuah kotak berisi tissu dan asbak.

__ADS_1


"Huum, sangat indah dan menarik," puji Mutia seadanya.


"Aku sengaja meminta dekor seperti ini, buat orang spesial dalam hidupku."


"Gombal! Trus yang di rumah sudah tidak spesial lagi, gitukah?" sindir Mutia tetap melepaskan senyumnya. Dalam hati, betapa inginnya Mutia membuka kedoknya, dan melihat paras Revan seperti apa, saat melihat Mutia berubah jadi Dara.


"Boleh tidak, jangan mengingatkan aku kepada istriku."


"Itu namanya egois. Emang laki-laki kalo sudah menikah rawan selingkuh, ya?" tanya Mutia iseng. Membuat merah padam wajah Heru


"Gak juga, sih. Tapi istriku gak bisa diajak santai, dia terlalu membosankan. Dia selalu sibuk bekerja dan hanya peduli pada karirnya."


Mutia tertegun diam, memang seperti itukah dirinya di mata suaminya. Tidakkah suaminya terlalu menuntutnya atau itu cuma alasan klisenya untuk membenarkan perselingkuhannya.


"Kan bisa dibicarakan baik- baik dengan istrinya. Masak malah mau cari yang lain. Kalau gak dibicarakan, bagaimana istri tau apa yang dimau suaminya. Yang ada malah saling menyalahkan satu sama lain. Kapan bisa clear masalahnya. Makin mumetlah dan tambah rumit setiap harinya."


Revan serasa ditampar saat mendengar ucapan Mutia. Apa yang barusan diucapkan Mutia sepertinya benar juga.


"Kamu sangat pintar, andai istri ku sebijak kamu, tentu aku tidak akan merasa bosan bersamanya."


"Syukuri saja pak, apa yang menjadi bagian kita. Tidak perlu membanding- bandingkan hidup kita dengan orang lain. Setiap orang pasti memiliki keunikannya sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi hidup kita supaya lebih bermakna dan bisa menikmati hidup itu sendiri." tutur Mutia lembut.


"Kamu, aku tidak menyangka kamu memiliki pola pikir seperti itu. Kamu tau tidak, rasa kagumku kian bertambah padamu." tatap Revan lekat.


"Ah, pertemuan ini kok malah melantur, ya. Aku kok jadi sok bijak dan kesannya menggurui," kekeh Mutia. Dalam hati dia merasa lega karena bisa memberi sedikit nasehat berupa sentilan. Syukur- syukur Revan mau terbuka pikirannya. Mau menyimak dan mengamini setiap ucapanna.


"Jujur aku sangat terkesan oleh ucapan kamu, masih muda tapi wawasanmu sudah cukup luas. Beda dengan diriku yang sangat mudah terbawa arus."


"Hem, makanan ini sangat menggoda, apa semua ini cuma mau dipandangi saja tanpa diicip-icip," ucap Mutia mengalihkan suasana.


Biarlah setiap ucapannya menjadi santapan bagi Revan malam ini. Tapi bagi dirinya, dia ingin menikmati malam ini menjadi malam spesial meski itu versi dirinya saja. Karena bagi Revan dia adalah Mutia, bukan Dara, istrinya. *****

__ADS_1


__ADS_2