Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 6. Aib


__ADS_3

Berkali- kali Mirna merutuk dirinya karena tak bisa mengontrol dirinya untuk tak bercerita. Penyebab ia pergi dulu dari kehidupan Revan.


Rasa cemburu di hatinya begitu bergelora, saat Revan mengatakan kalau dirinya telah menikah.


Walaupun semua itu akibat kesalahannya. Tapi mengetahui bahwa tunangannya telah menikah, sungguh terasa sakit melihat kenyataan itu.


"Mas, aku masih sayang samamu. Maafkan aku yang pergi tanpa pamit.Saat itu aku sangat kalut."


" Kamu belum jawab pertanyaanku , Mirna!"


" Dia adalah bosku." sahut Mirna lirih.


" Bos kamu!? Lantas kamu diam saja. Tidak bicara apapun padaku. Jadi selama ini kamu anggap apa aku, Mir."


" Tidak sesederhana itu, mas.Banyak hal yang aku pertimbangkan. Aku di jebak, aku tidak mau orang- orang yang aku kasihi , turut menjadi malu."


" Lalu apa bedanya sekarang. Jika kamu mampu menyimpan rahasia itu dulu. Lantas kenapa kamu beritahu aku. Hanya karena kita bertemu lagi, kamu mau cerita. Kamu ingin aku berbuat apa?


Mengejar lelaki yang telah menodai kamu itu?!"


hardik Revan kesal. Revan benar- benar tak mengerti sifat Mirna lagi.


"Mas! Saat itu aku panik. Aku terlalu takut kehilanganmu." ungkap Mirna sesegukan.


Revan makin tak karuan mendengar tangisan Mirna. Sebenarnya dia marah pada dirinya sendiri. Karena Mirna tak berani membagi masalahnya dengan dirinya. Itu berarti dirinya tidak cukup baik untuk menjadi sandaran hidup Mirna. Itu berarti Mirna meragukan tunangannya sendiri.


Revan merapatkan duduknya ke Mirna. Merengkuh perempuan yang pernah ia cintai dan sampai sekarang rasa itu masih tersisa.


Mengelus kepalanya. Mencoba memberi kekuatan padanya.


" Aku marah, karena kamu tidak berbagi kesahmu , padaku. Seolah aku tak cukup berarti bagimu. Aku telah mencarimu kemana- mana. Tapi kamu seolah hilang di telan bumi."


" Maafkan aku mas." Revan mengangguk kepalanya. Dan melepaskan rengkuhannya pada Mirna. Bagaimana pun dia telah menikah. Tidak baik bagi mereka duduk berdua di kamar.


" Mas, aku sangat merindukanmu," tetiba Mirna memeluk Revan rapat. Revan berusaha menghindar secara halus. Tapi Mirna semakin mengetatkan pelukannya.


Entah siapa yang memulai dulu, pelukan mereka mulai memanas. Desah nafas mereka makin memburu, seiring nafsu yang meluruhkan iman.

__ADS_1


Hingga hal terlarang yang seharusnya tidak mereka lakukan , malam itu terjadi. Juga untuk malam - malam berikutnya. Mereka selalu berpacu dalam meraih kenikmatan.


Revan akhirnya lupa pada istrinya. Bermain api dengan mantan tunangannya.


Dan selama ini masih aman- aman saja. Revan masih bisa menutupi perbuatannya.


Tapi tanpa setau Revan , karena Mirna ingin memilikinya kembali. Mirna telah menyusun rencana jahat. Agar pernikahan Revan dan Dara berakhir.


Mirna sengaja menggoda Revan. Setelah Mirna mendengar khabar pernikahan Revan, Mirna menyelidiki siapa istrinya. Ternyata perempuan yang menjadi istri Revan adalah Dara, teman semasa SMA nya dulu.


Mirna sudah lama benci pada Dara, karena setiap cowok yang di sukai Mirna pasti menyukai Dara. Sehingga Mirna selalu gagal untuk memiliki pacar.


Sementara cerita Mirna, tentang kehamilannya. Karena telah menjadi korban pememrkosaan bosnya, hanyalah rekayasa semata. Untuk mengaduk emosi dan simpati Revan.


Mirna pergi, karena ia ingin mendapatkan pasangan yang lebih baik segalanya dari, Revan.


Karir Revan memang belum sebaik waktu sekarang. Dulu Revan masih staf biasa. Tapi setelah menikah dengan Dara, karirnya makin meningkat.


Hingga sekarang Revan telah di percaya menjadi manajer, di perusahaan tempat dia bekerja. Perubahan nasib itu dia alami setelah menikah denga Dara. Dara membawa pengaruh baik bagi karir, Revan


" Bang kamu kenapa sih, dari tadi melamun terus?" tepuk Dara halus di pundak suaminya.


" Memang ada masalah apa dengan pekerjaan, abang?"


" Sebenarnya sih, gak ada. Cuma, abang merasa gak enak saja. Karena sering meninggalkan kamu di rumah sendirian." Revan meraih tubuh istrinya untuk duduk di sampingnya.


" Semua itukan untuk masa depan kita, bang."


" Tapi abang takut kamu kesepian di rumah."


"Ah, abang kok jadi mikir begitu sih. Adek kan juga punya kesibukan, mengurus butik. Asal abang setia dan tidak macem- macem di luar sana. Semua itu sudah adek syukuri kok."


Deg!


Jantung Revan berdegup kencang mendengar ucapan istrinya. Rasa bersalah menjalari hatinya. Karena telah membohongi istrinya.


Dinas ke luar kota hanyalah alasan saja.Dia hanya ingin bertemu dengan Mirna, mantan tunangannya.

__ADS_1


" Kok adek gak percaya sama abang, sih?"


" Bukan gak percaya bang. Tapi di luar sana banyak godaan. Banyak wanita cantik, yang ngalahin cantiknya istri. Jadi adek minta, abang berhati- hati. Ingat, abang udah punya istri." ucap Dara seraya mencek ulang isi koper suaminya. Siapa tau masih ada yang tinggal.


" Bang, catatan pakain abang kutaroh dalam laci kopernya ya. Abang jangan lupa mencek, saat pulang."


" Iya dek, iya!" sahut Revan agak sebal Itulah istrinya. Selalu teliti dalam dalam banyak hal, hingga hal terkecilpun tak luput dari perhatiannya.


Memang selama ini Revan suka akan perhatian istrinya. Dia suka perhatian manja istrinya.


Yang suka mengingatkannya untuk makan siang di kantor, atau telepon dadakannya yang hanya sekedar hello say.


Tapi akhir- akhir ini semua perhatian itu sepertinya sudah mengganggunya. Revan menganggap istrinya memperlakukannya seolah seorang anak kecil saja.


" Abang bicaranya kok gitu,sih?" Dara berbalik dan menatap lekat suaminya. Usia pernikahan mereka masih dini, baru kali Dara mendengar suaminya bicara ketus.


" Ada apa sih? Liatin abang begitu?!" sentak Revan.Sekilas Revan melihat kabut di mata istrinya, tapi istrinya cuma diam. Menatapnya dengan pandangan luruh. Revan tersentak seolah kena cemeti.


" Maafkan adek bang." Dara berdiri dan berlalu dari kamar. Tiba- tiba Revan merasa suasana kamar hening mencekik! Sikap istrinya, di luar dugaannya. Buru- buru Revan keluar menyusul istrinya.


Di lihatnya Dara tengah menyiapkan makan malam. Dengan langkah kaku Revan mendekati istrinya. Memeluknya dari belakang.


" Maafkan abang ya dek, abang gak bermaksud kesal sama adek. Pikiran abang hanya kalut."


Dara diam sejenak. Menarik nafas dalam.


" Adek tidak apa-apa kok. Hanya sedikit pusing tadi. Mungkin karena akhir- akhir ini suka begadang." sahut Dara. Dara bersikap seolah tak terjadi apa- apa. Tapi sungguh nada ucapan suaminya tadi telah mematahkan hatinya.


" Ayo, bang. Kita makan malam," Dara melepas halus pelukan suaminya. Mengambil piring, menyendokkan nasi dan lauk ke piring suaminya. Lalu membuat hal yang sama untuk dirinya.


Mereka makan dalam diam, suasana terasa asing. Baru kali ini mereka melalui malam kaku setelah pernikahan mereka. Revan yang merasa


semua itu karena ulahnya, merasa enggan bicara. Takut salah omong.


Sementara Dara yang sudah melihat gelagat suaminya menyembunyikan sesuatu. Berusaha menahan diri, karena masih terlalu dini baginya mengutarakan kecurigaannya tanpa bukti.


Selesai makan malam Revan lebih memilih bermain play station, untuk memancing istrinya duduk di dekatnya. Karena biasanya mereka akan bermain bersama.

__ADS_1


Tapi Dara lebih memilih kertas sketsanya!


*****


__ADS_2