Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 30


__ADS_3

" Ampun mak! Sakit...! Maaaakk!" jerit Mirna kala itu. Saat usianya masih belia, kisaran sepuluh tahun. Mirna di adopsi oleh orang tua asuh yang memperlakukannya dengan sangat kasar. Salah sedikit, cambukan rotan akan mendarat di tubuh ringkihnya.


" Dasar pemalas! Taunya tidur dan main terus." cambuk sang ibu angkat. Melibas kaki Mirna hingga merah dan biru.


Mirna tidak tau siapa orang tua kandungnya, yang telah tega membuangnya di kaki lima panti asuhan, tempat ia di besarkan.


Menurut cerita ibu Hani, Kepala Panti Asuhan. Seseorang meletakknya di teras. Tanpa ada pesan apapun. Hanya itu cerita yang diketahui Mirna tentang masa lalunya.


Sejak bayi dia di asuh bersama saudara sepanti. Mirna masih sempat merasakan indahnya kebersamaan bersama saudaranya sepanti. Walau terkadang harus hidup prihatin karena, kurangnya donatur yang memberikan bantuan ke panti tempat dia di asuh.


Ketika ada orang tua yang mengadopsinya, saat dia berumur sembilan tahun. Dengan berat hati, bu Hani melepasnya juga. Saat itulah Mirna merasakan sakitnya kehilangan.


Saat itu Mirna di adopsi sebuah keluarga paruh baya. Karena anak- anaknya sudah dewasa dan pergi merantau. Mirna dibutuhkan untuk membantu usaha orang tua angkatnya di toko kelontong.


Awal- awalnya sih, Mirna masih di sayang dan di manjakan. Disekolahkan. Tapi, setelah Mirna beranjak remaja, perlakuan ibu angkatnya jadi kasar. Suka memukuli Mirna tanpa sebab. Hampir tiap hari dia kena marah.


Mirna jadi suka berontak karena selalu di perlakukan kasar. Setelah tamat SMA, Mirna melarikan diri dari rumah orang tua angkatnya.


Mirna berjuang keras demi menghidupi dirinya sendiri. Hingga akhirnya, berkat usaha kerja kerasnya dia berhasil bekerja di sebuah perusahaan yang bonafide. Dan memulai karirnya dari bawah. Meski lulusan SMA, setahap demi setahap karirnya makin baik. Karena Mirna rajin mengikuti kursus- demi kursus untuk meningkatkan skiilnya.


Tapi, lagi- lagi Mirna berhadapan dengan persaingan yang tidak fair. Mirna selalu di kucilkan di lingkungan kerjanya. Kerja kerasnya seolah tak dihargai. Hingga ia tau penyebab semua itu. Ternyata ada sisi gelap di balik dunia kerja bila ingin karirnya, cepat naik.


Sayangnya ,Mirna tertantang untuk masuk dalam lingkaran itu. Mirna lelah berbuat jujur selama ini.Jika ada jalan pintas, kenapa tidak?


Hingga Mirna mengabaikan hati nuaraninya. Mirna juga mengabaikan perasaannya pada Revan, tunangannya. Hingga dia nekad menjadi istri simpanan Miko atasannya.


Pada awalnya Mirna menikmati semua pilihannya itu. Dalam hal karir, Mirna di mutasikan ke kantor cabang dengan jabatan yang tinggi. Dalam hal materi, Mirna bisa memiliki apa saja yang dia mau.


Lalu, Mirna dengar berita pernikahan, Revan. Tunangannya yang ia tinggalkan begitu saja. Saat itu Mirna merasa dunianya runtuh. Rasa cintanya pada Revan, yang sengaja ia kubur dalam- dalam demi mengejar ambisinya. Tak bisa dia pungkiri lagi.


Mirna begitu cemburu melihat kemesraan Revan bersama istrinya. Lebih lagi karena istrinya adalah Dara. Temannya masa SMA dulu. Teman yang selalu merebut perhatian setiap orang yang dia sukai.


" Tok... Tok...!!!" suara ketukan di pintu, membuyarkan lamunan panjang Mirna. Tentang masa lalunya. Mirna menoleh ke arah pintu. Ternyata Revan dan Dara.


" Mau apa kalian ke mari? Mau menertawakan aku ya? Pergi! Aku tidak sudi melihat wajah kalian." teriak Mirna kalap.

__ADS_1


" Mirna, kami datang untuk menyatakan belangsungkawa," ucap Dara tulus.


" Apa? Dasar manusia munafik! Katakan saja kamu ingin menertawakan aku. Cih, aku tidak suka belas kasihanmu. Pergi kalian! Pergi!" teriakan Mirna menarik perhatian suster jaga. Sehingga menyuruh Revan dan Dara segera pergi. Karena mengganggu kondisi pasien.


Revan dan Dara segera pergi meninggalkan ruang rawat Mirna. Sekalipun mereka tidak suka sikap Mirna, tapi saat mendengar Mirna keguguran, mereka turut prihatin juga


Terlebih saat menyaksikan vidio yang lagi viral, kejadian saat Mirna di permalukan di cafe. Mungkin itulah penyebab Mirna keguguran.


***


Setelah Mirna sembuh paska keguguran. Mirna menghilang. Tepatnya dia pindah secara diam- diam. Mirna menjual rumahnya, resign dari pekerjaanya. Ada kabar dia pergi ke Bali. Tapi ada juga info kalau Mirna pergi ke luar negeri.


Sejak menghilangnya Mirna, rumah tangga Dara dan Revan berjalan normal kembali. Mereka menjalani aktivitas seperti biasanya.


Hingga lima tahun kemudian.


" Dadah papah!" lambaian bocah kecil itu makin terlihat samar oleh Revan. Seiring makin menjauhnya mobil yang kendarai dari sekolah TK KASIH BUNDA. Tempat putranya sekolah.


Setiap pagi, Revan selalu mengantar Kevin, ke sekolah TKnya. Terkadang Dara ikut juga mengantar. Bila ada waktu senggang.


Matanya begitu awas ke sekeliling. Seolah takut ada yang memperhatikannya. Setelah merasa nyaman, baru dia menyeberang dan memasuki halaman sekolah TK itu.


" Selamat pagi, bu? Ada yang bisa saya bantu?" sapa satpam yang berjaga di pintu gerbang.


" Iya, pak. Saya mau bertemu Kepala Sekolah TK, ini. "


"Oh, mari saya antar bu. Ke ruangan Kepala Sekolah."


" Baik, trimakasih." perempuan itu mengikuti langkah Satpam.


" Tok...tok..." pak Satpam mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam mempersilahkan masuk. Pak Satpam mendorong daun pintu, dan memepersilahkan tamu itu masuk.


" Maaf, bu. Ini ada tamu. Silahkan masuk, bu." Satpam menyuruh tamu itu masuk.


" Mari, silahkan duduk bu. Ada yang bisa saya bantu, bu?" tanya Kepala Sekolah dengan ramah.

__ADS_1


" Egh, anu bu. Saya mau tanya, bagaimana persyaratan mau daftar anak ke sekolah ini?"


" Anak ibu usia berapa, bu?"


" Empat tahun, bu."


" Oh, anak ibu kita masukkan ke Play Group ya, bu. Silahkan ibu baca dan isi ini, bu" Kepala Sekolah, memberikan berkas untuk di isi.


" Oh, iya. Nama ibu siapa ya, bu?"


" Nama saya Mirna, bu."


" Oke, silahkan di lanjutkan, bu. Saya keluar dulu sebentar dulu ya, bu." Mirna menggangguk dan meneruskan membaca persyaratan masuk di sekolah itu.


Mirna telah selesai mengisi beberapa poin yang tertulis di berkas itu. Ketika Kepala Sekolah kembali keruangannya.


" Maaf ya, bu. Tadi saya ke ruang Play Group, mencek anak- anak di sana. Kebetulan ada anak yang pindah. Jadi anak ibu bisa segera masuk ke sekolah ini."


" Jadi, besok anak saya sudah bisa mulai sekolah ya, bu?" tanya Mirna senang.


" Iya, bu. Kalau ibu ingin anak ibu segera masuk kelas, boleh. Tunggu seminggu ini juga boleh."


" Oh, baiknya mulai besok saja bu. Anak saya sudah gak sabar masuk sekolah."


" Jadi anak ibu namanya Grace ya, bu?" ucap Kepala Sekolah sesaat setelah membaca berkas di tangannya. Mirna mengangguk.


" Baiklah bu, jam masuk sekolah 8:30. Kalau pagi orang tua yang mengantar. Siangnya baru pihak sekolah."


" Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Mirna pamit. Seraya menyalami tangan ibu Kepala Sekolah.


Mirna kini sudah berada di pintu gerbang. Mirna menelepon seseorang. Lima menit kemudian sebuah pajero sport, warna hitam berhenti di depan Mirna.


" Kita langsung pulang bu?" tanya sang supir pada Mirna majikannya.


" Ayo muter- muter dulu pak, sebentar. Saya mau melepas rindu dengan kota ini." sahut Mirna.

__ADS_1


" Baik bu." sahut sang supir. Menyusuri jalan yang mulai lengang karena jam sibuk masuk kantor dan sekolah telah lewat. ****


__ADS_2