
" Maafkan abang dek, abang gak bermaksud menghianatimu. Dek, maafkan abang."
" Tapi kenyataannya abang sudah menghianatiku." isak Dara."
" Sungguh dek, benda itu pemberian temanku. Aku bahkan sudah lupa kalau benda itu ada di koperku," Revan masih berusaha membela dirinya.
" Siapa Mirna, bang? Itukan perempuan mantan tunangan kamu. Kamu selingkuh dengannya kan.
Lalu lingerie siapa yang ada di lemari pakaianmu. Siapa perempuan yang kamu telepon tengah malam dan kau panggil sayang. Dan foto ini. Entah siapa yang mengirim ini padaku." Dara membuka aplilasi wa nya. Poto kebersamaannya dengan seorang perempuan.
" Ini selingkuhanmu itu kan, bang. Asal abang tau, perempuan itu adalah sahabat aku saat Sekolah SMA. Masih mau ngelak lagi abang.!" seperti panah lepas dari busurnya. Kata- kata Dara meluncur.
Revan tak menyangka kalau istrinya begitu banyak tau dengan perselingkuhannya.
" Maafkan aku dek. Aku tak sengaja bertemu Mirna. Dia salah satu utusan dari kantornya saat peresmian kantor cabang, kemarin." Revan memeluk tubuh istrinya.
Tapi Dara berusaha mendorong tubuh suaminya..
" Lepas, bang. Aku benci dan jijik sama kamu!"
Tapi Revan tak mau melepas pelukannya .
" Dek, abang mohon. Maafkan abang."
"Hanya karena tak sengaja bertemu ya, bang!. Lantas abang asyik bernostalgia dan mengulang masa lalu kalian. Sampai abang lupa kalau abang sudah punya istri."
" Dek, maafkan abang."
" Sudah sejauh mana hubungan abang dengannya. Apa abang sudah tidur bersamanya?
Apakah dengan kata maaf semuanya selesai begitu saja."
" Dek abang benar- benar khilaf. Abang minta maaf ." Revan masih terus berusaha membujuk istrinya.
Dara benar- benar merasakan sakit di dalam hatinya. Pengakuan suaminya telah mematahkan hatinya. Tapi di sisi lain Dara menghargai kejujuran suaminya.
" Entahlah bang. Rasanya sangat sakit di sini. Aku tidak menyangka abang akan lalukan itu. Padahal usia perkawinan kita masih seumuran jagung. Abang jahat! Abang tega, melakukan itu.Aku benci..." teriak Dara.
Revan tergugu, melihat tangis istrinya. Betapa dia memang telah tega menyakiti hati istrinya. Seharusnya ini adalah masa- masa manis usia pernikahan mereka.
Tapi ia telah tega menodai janji pernikahan mereka.
" Aku mohon, maafkan kekhilafan abang. Abang janji tak akan mengulangnya lagi. Berikan abang kesempatan sekali lagi. Please!
Revan semakin mengetatkan pelukannya. Sungguh dia takut kalau istrinya akan pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Yang dia lakukan dengan Mirna, hanyalah emosi sesaat. Karena keterkejutannya bertemu Mirna lagi, setelah ia menghilang.
Benda yang di temukan istrinya di koper memang bukanlah miliknya. Itu adalah candaan teman sekamarnya saat dinas keluar kota. Tak di sangka candaan itu jadi bumerang bagi pernikahannya.
Tapi tentang foto dan lingerie itu. Bagaimana bisa istrinya tau soal itu. Linngerie itu memang pesanan Mirna. Dan ia telah melihat Mirna memakai nya, di satu malam yang panas kemarin.
Revan benar- benar kacau. Dia tak tau akan berbuat apa bila istrinya minta cerai. Karena ulahnya itu.
Dia harus bisa meluluhkan hati istrinya bagaimanapun caranya. Usia pernikahannya baru tiga bulan. Bila benar- benar bubar, orang tuanyalah yang paling terdampak oleh perceraian itu.
Karena ibu dan adiknya sangat menyukai Dara. Ibunya akan marah besar bila tau masalah ini.
Tapi melihat kemarahan istrinya, sepertinya sangat sulit untuk mendapatkan maafnya. Setidaknya untu saat ini.
Karena itulah Revan melepaskan pelukannya. Saat isrtinya terus meronta. Biarlah hatinya dingin dulu.
Da akan berjuang untuk maaf dan kepercayaan istrinya lagi.
***
Sejak pertengkaran mereka tempo hari, Revan benar- benar merasa telah kehilangan istrinya.
Dia sepertinya bukan istrinya yang dulu. Istrinya yang periang kini lebih banyak diam. Memang sih dia masih melayani dirinya seperti dulu
Bahkan untuk urusan ranjang istrinya tetap melayaninya. Ya, "melayaninya" ! Tapi sudah tak ada rasa di dalamnya. Beku dan dingin.
Tidak ada tawa dan candanya. Senyum dan manjanya. Benar- benar garing, kering!
Revan kelimpungan. Tak tahan di perlakukan seperti ini.
Bila bicara seperlunya saja. Dengan arah pandangan ke tempat lain.
Tidak seperti dulu, yang selalu suka menatapnya lembut.
Revan sudah tak tahan. Dia inginkan istrinya yang dulu!
Ternyata tanpa ia sadari, meski baru tiga bulan menikahinya. Dan enam bulan pacaran dengannya, telah begitu banyak hal yang mengikatnya dengan istrinya.
Tidak sebanding selama mengenal Mirna tiga tahun lamanya. Sayangnya semua itu baru dia rasakan sekarang. Setelah melukainya dengan perselingkuhan itu.
" Sayang, ibu mengajak kita ke rumahnya untuk makan malam, besok." ucap Revan pada istrinya
. Dara yang tengah memasang payet, pada baju pengantin. Pesanan langgananya menyimak perkataan itu.
" Iyakan saja, aku akan berusaha membagi waktuku," sahut Dara tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
" Apa kita perlu bermalam di sana?" ucap Revan lagi. Sekedar melihat reaksi istrinya.
" Aku tidak bisa. Tapi kalau kamu mau, terserah."
Nah! Selalu begitu jawaban istrinya. Singkat dan menyerahkan semua keputusan padanya.
" Bukan begitu. Kalau kamu memang gak bisa, gak pa-pa. Jangan di paksa." Dara diam tak menanggapi, kembali asyik berkutet dengan payet- payet sialan itu.
Akhir- akhir ini omzet jahitan istrinya meningkat. Mungkin karena akhir tahun. Atau sengaja ia bawa pulang perkerjaannya hanya sekedar menghindar atau mengisi waktu. Biar tak terlalu diam, atau agar suaminya tak mengusiknya
Revan bergegas ke arah dapur. Hendak membuatkan secangkir kopi. Biasaya tanpa di suruh, istrinya sudah menyediakan kopi untuknya seusai makan malam.
Tapi sekarang harus dia minta lebih dulu. Padahal untuk meminta lidahnya sudah kelu duluan. Saat melihat sikap dingin istrinya.
Dara mendengar suara gelas beradu dengan tatakan. Ia tahu suaminya hendak membuatkan kopi.
Tapi dia acuh saja!
Dan suara gaduh dari dapur makin ramai. Mau tak mau Dara berdiri juga. Suaminya pasti tidak tau di mana letak toples gula dan kopi dia taruh.
Sekalipun berada di depan matanya, seisi dapur pasti dia acak- acak.
" Mau buatkan kopi, ya?"
" Iya," sahut Revan kesal.
Dara membuka lemari yang terletak di sudut dekat kulkas.
Mengeluarkan dua toples berisi gula dan kopi.
Lalu menyeduh kopi untuk suaminya.
Revan memperhatikan semua polah istrnya. Yang menekuk kepalanya seolah tak ada sesiapapun di dapur itu.
Selesai menyeduh kopi, Dara memberikannya pada Revan. Lalu melap air dan kopi yang tercecer.
" Trimakasih," ucap Revan seraya menatap Dara. Tapi Dara acuh saja dan segera berlalu dari dapur.
Tapi keburu Revan meraih lengan istrinya. Mendekapnya dari belakang. Dara terkejut tapi detik berikutnya acuh saja.
" Sayang, kamu boleh menghukumku sesuka hatimu. Tapi aku mohon. Jangaan abaikan aku seperti ini. Aku tak tahan lagi, kamu perlakukan seperti ini."
Dara memejamkan ke dua belah matanya. Rasanya dia juga lelah seperti ini. Tapi rasa sakitnya itu. Dara belum sanggup untuk berdamai.
Dia masih butuh waktu, entah sampai kapan.
__ADS_1