
Hujan turun cukup deras di pagi ini. Dara memakaikan sweater ke tubuh Kevin, agar badannya hangat. Sepuluh menit lagi, waktu masuk sekolah di mulai. Tapi belum ada tanda- tanda hujan, akan reda.
Kevin nampak gelisah, berulang kali ia berlari ke teras untuk melihat apa hujan sudah reda. Lalu ia akan masuk kembali dengan tubuh lesu. Tak mungkin menerobos hujan sederas ini, untuk mengantar Kevin ke sekolah.
Biasanya jalanan akan banjir dan macet. Mana jarak sekolah Kevin, lumayan jauh. Dalam cuaca normal dan tidak macet, memakan waktu lima belas menit. Jika cuaca seperti ini, akan lebih lama lagi. Belum lagi jalan menuju sekolah Kevin, rawan banjir dan macet.
"Mama, Kevin bakalan telat, nih, ke sekolah," ungkap Kevin resah.
"Sabar ya, nak. Mungkin bentar lagi, hujannya reda," ucap Dara menghibur hati anaknya.
" Kalau saja, Papa gak keluar kota, Kevin pasti udah nyampe sekolah dari tadi." Wajah Kevin merengut kesal, seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Selang beberapa menit, hujan pun reda. Kevin bersorak. Wajah polosnya nampak bersinar.
"Ayo, Ma, lekas. Nanti Kevin terlambat." Desaknya lantas mengambil tas ranselnya, lalu menyampirkannya ke punggungnya.
" Udah siap, Nak? Pakai jas hujannya dulu, siapa tau nanti hujan mendadak turun lagi," ucap Dara.
Beberapa menit kemudian, Dara dan Kevin sudah sampai di sekolah Kevin. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil juga sampai. Langkah Kevin terhenti saat melihat Pajero sport itu. Kevin tersenyum, menunggu seseorang keluar dari mobil itu.
Seorang gadis kecil, datang menghampiri Kevin dan menyapanya. Tanpa menunggu mamanya membukakan pintu mobil.
" Hai, Kevin, selamat pagi!" gadis kecil itu adalah Grace, putri Mirna.
Dara menyambut uluran tangan gadis kecil itu, lalu matanya menangkap sosok tubuh yang barusan ke luar dari mobil.
Mata Dara bersirobok dengan Mirna, keduanya sama-sama terkesiap. Dara tak menduga akan bertemu dengan Mirna, di sekolahnya Kevin. Mengingat Mirna yang telah menghilang tiba-tiba lima tahun yang lalu.
Dara mencoba bersikap tenang, dan mengumbar senyum tipis.
"Hai, Mirna. Tak menyangka bertemu kamu di sini?" sapanya ramah.
__ADS_1
"Hai, juga. Kevin itu putramu, ya?" tanya Mirna sedikit kaget. Kevin heran, ternyata mamanya kenal dengan mama Grace, temannya.
"Iya, putra saya," ucap Dara. " Putrimu sangat sangat, cantik. Siapa namamu, nak?"
"Sudahlah, Dara. Tak perlu basa-basi. Ayo, Grace, kita masuk. Duluan ya, Kevin." Mirna menarik tangan putrinya, Grace. Dia tak ingin lama-lama di hadapan, Dara. Dara melepas napasnya perlahan. Pertemuan dengan Mirna, hal yang tidak terduga sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, mereka bersua kembali.
Sungguh pertemuan yang menyeretnya kembali ke masa lalu. Masa yang seharusnya sudah terkubur jauh di dasar hati. Mengapa harus tersingkap lagi?
"Ma, mama. Mama dan mama Grace temanan, ya?" tanya Kevin menguncang lengan mamanya, yang menatap kosong ke arah Grace peegi
" Eh, bukan. Tapi dulu, iya. Mama sudah lama tak bertemu dengannya lagi. Ayo, Nak. Kamu harus masuk kelas," sahut Dara menghindar dari tatapan Kevin yang penuh tanda tanya. Langkah mereka berlawanan arah, karena kelas yang berbeda.
Seiring langkahnya, Mirna juga dihentakkan oleh perasaan yang tak menentu. Mirna melihat keterkejutan di mata Dara saat bertemu tadi. Sama seperti dirinya juga.
Masa lalu itu, masih menyisakan rasa sakit di hati, Mirna. Rasa yang seharusnya terhapus oleh waktu. Ternyata, masih saja menghantui.
Pertama kali melihat Kevin, saat mendaftarkan Grace di sekolah ini. Sekalipun melihatnya sekilas, Mirna sepertinya tidak asing dengan wajah, Kevin. Hanya saja saat itu, Mirna tak begitu peduli. Ternyata, Kevin adalah anaknya Dara dan Revan.
Dari awal adalah salahnya, memutus pertunangannya secara sepihak dengan Revan. Meninggalkannya untuk ambisi, hidup dan karir yang lebih mapan. Di saat orang yang ia cintai, menemukan orang yang lebih baik darinya sungguh ia tak rela dan cemburu.
Ia telah melakukan segala cara, untuk merebut kembali miliknya yang hilang. Tapi segala usahanya sia-sia belaka. Bahkan hidupnya semakin hancur. Orang-orang di sekitarnya membenci dan mempermalukan dirinya. Teman yang dulunya ia miliki pergi meninggalkannya.
Lalu ia memutuskan pergi, meninggalkan semua yang membuat hidupnya hancur. Memulai hidup baru di tempat, di mana orang tidak mengenalnya. Menemukan pelabuhan hatinya, mencoba melupakan masa lalunya.
Namun, semua perjuangannya sia-sia. Setelah lima tahun pergi meninggalkan kota ini. Mirna harus kembali lagi. Masa lalu yang telah dicoba di lupakan, akhirnya tersingkap lagi. Orang-orang yang telah ia coba lupakan, harus bertemu kembali.
Hanya saja, Mirna tak berharap secepat ini akan bertemu. Ternyata dunia ini, terlalu sempit baginya untuk terlepas dari masa lallu.
Seharusnya dia memang tidak kembali, ke kota ini. Toh, banyak kota yang bisa ia jelajahi, sehingga tidak terseret lagi oleh arus masa lalu.
Mirna, terpaksa kembali ke kota ini. Karena kabar yang ia peroleh, suaminya berada di kota ini. Yah, lelaki bajingan yang meninggalkan dia dan anaknya bersama perempuan lain. Apakah ini karma, didalam hidupnya. Setelalh ia pernah melakukan itu di masa lalunya. Hal itu pun datang kembali ke masa depannya.
__ADS_1
Sepertinya hidup Mirna seperti di dalam labirin, berpusar pada satu hal, dan tak bisa terlepas.
****
Revan tengah asyik di depan laptop, berselancar di dunia medsos. Ketika ketukan di pintu ruangannya, mengalihkan konsentarasinya.
"Ya, masuk!"
"Pak, Bapak disuruh ke ruangan, Bos. Udah ditunggu,"
"Saya, mau apa? Kok mendadak?" ucap Revan.
"Iya, Pak. Ada hal penting, kata Bos,"
" Ya, saya segera ke sana." Revan bergegas ke ruangan si bos dengan diliputi tanda tanya. Tidak biasanya bos 'nya memanggil secara mendadak kalau bukan hal penting.
Kini Revan telah berada di ruangan pimpinan perusahaan yag kerap mereka panggil , Bos.
" Ada apa, Bos. Tumben memanggil mendadak begini?"
" Hem, kita ada proyek baru. Saya harap tim kalian berhasil mendapatksn kontrak, kerja sama ini. Dananya milyaran. Tim kalian bakalan dapat bonus besar, kalau berhasil memenangkan tender." Willy sang pimpinan, menyerahkan berkas-berkas untuk di pelajari oleh tim, Revan.
"Dua hari lagi, kalian presentasi ke sana. Pelajari dulu berkas itu, semoga berhasil. Ingat, bonusnya besar," kekeh Willy.
" Oke, Bos. Kami akan berusaha,"
" Bagus, saya percaya kalian pasti bisa,"
Dengan dada penuh semangat, Revan keluar dari ruangan si bos. Proyek ini harus berhasil! Nanti jam makan siang, Revan akan mengumpulkan timnya, untuk menyusun rencana bersama tim.
Si Bos tadi sempat memberi bocoran, bonus yang akan mereka terima, ratusan juta per orang. Siapa yang tidak ngiler. ****
__ADS_1