Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 27


__ADS_3

Mata Mirna langsung mendelik mendengar ucapan, Dara.


" Ada apa, mau protes ya?"


" Aku tidak nyaman tidur di sana. Banyak nyamuk!" sergah Mirna.


" Oh, mau cari yang nyaman ya? Kenapa gak sekalian nginap di hotel saja. Ngapain maksa mau tinggal di rumahku, dan nyolong suamiku! Masih syukur aku terima kamu di sini. Dasar tak tau malu. Ayo, bang!" Dara menarik lengan suaminya untuk masuk kembali ke kamar.


" Brengsek! Dasar perempuan sialan." maki Mirna. Mirna kembali masuk ke kamar. Serba salah jadinya. Mau bertahan bakalan jadi santapan nyamuk. Mau pergi juga ini sudah tengah malam.


Huf! Tak semulus yang dia bayangkan. Tadinya dia berhayal akan bergelut dengan Revan, di malam pertama dia tinggal dan menjadi istri Revan. Nyatanya nyamuklah yang menjadi teman tidurnya.


Mirna menarik selimut sampai batas lehernya. Tapi dengungan nyamuk masih terdengar. Akhirnya Mirna menutup seluruh badannya dengan selimut. Tapi karena panas dan pengap, Mirna tidak tahan. Mirna benar- benar tersiksa oleh kebodohannya sendiri.


Tapi sayang, bukannya kapok dan menyadari kesalahannya. Ambisinya untuk memiliki Revan tak juga padam. Benar- benar perempuan tengil.


Revan bukan satu- satunya lelaki di dunia ini. Tapi rasa iri dan tidak bisa menerima, kenyataan telah membutakan mata dan fikiran logis Mirna.


Baginya, asal bisa memiliki Revan dan menyakiti Dara, sudah menjadi kebahagian tersendiri .Sulit di terima nalar, tapi begitulah kenyataannya.


***


Aroma masakan yang begitu harum menggoda, menguar dari dapur ke seluruh ruangan. Mirna yang mencium aroma itu langsung terbangun. Hidungnya mengendus. Dan merasa lapar.


Mirna bergegas ke kamar mandi, badannya terasa gatal karena bekas gigitan nyamuk. Untunglah ada kamar mandi dalam kamarnya. Sehingga tak perlu repot keluar kamar untuk sekedar urusan MCK.


Hampir saja Mirna, menjerit saat melihat wajahnya di penuhi bintik merah bekas gigitan nyamuk. Mirna tak ingin melihat Dara tersenyum puas, atas keluhannya. Mirna segera keluar kamar, karena tak bisa lagi menahan rasa laparnya.


Dengan mengenakan gaun dengan motif bunga- bunga kecil, Mirna nampak segar walau wajahnya sedikit sayu, karena kurang tidur


Mirna melihat, Dara dan Revan telah duduk di meja makan. Mereka acuh saja saat Mirna muncul. Jangankan untuk menyapa, melirik saja tidak. Mirna merasa grogi juga salah tingkah.

__ADS_1


Karena dia tak melihat ada kursi selain yang di duduki Revan dan Dara. Bahkan dia tak di sapa atau di ajak makan.


" Ekhem!" Mirna batuk kecil untuk menarik perhatian Revan dan Dara.


" Ada apa, Mir?"Dara menyipitkan matanya saat melihat ke arah, Mirna.


" Aku mau ikut sarapan. Tapi kok, kursinya cuma dua?"


" Karena nyatanya kami cuma berdua kok, di rumah ini? Kenapa, kamu merasa aneh ya?


Jika mau nambah tempat duduk, gih beli di pasar sana. Banyak kok di jual di Pasar. Jangan lupa, sekalian beli sarapan untukmu. Karena aku masak, hanya jatah untuk aku dan suami aku," ucap Dara enteng.


Mirna menatap lekat wajah Dara yang begitu pongah. Mirna juga menatap Revan, tapi Revan acuh saja. Seolah tak melihat Mirna di sana.


" Kenapa lagi, Mir? Gak suka ya, dengan aturan di rumahku!"


Mirna langsung berbalik ke kamarnya.Wajahnya memerah padam atas penghinaan Dara. Lebih kesalnya lagi, Revan tak membelanya sama sekali. Malam diam saja atas perlakuan Dara padanya.


Mirna keluar kamar lagi. Menemui Revan dan Dara yang belum menyelesaikan, sarapannya.


" Aku juga istrimu sekarang, Van. Kalian tidak bisa perlakukan aku seperti ini," labrak Mirna, dengan wajah merah padam.


" Oh, begitu ya! Baru semalam kamu di rumah ini, sudah berani- beraninya menuntut hak kamu. Kamu itu orang kedua, sadar gak! Parasit! Jangan harap ya, untuk di hargai di rumah ini. Benar- benar perempan tak tau malu!" sembur Dara lepas kontrol.


" Kamu..."


" Iya, ayo ngomong! Jangan beraninya di belakang saja. Menyusun rencana busuk!"


" Sudah dek, gak usah di ladeni," lerai Revan seraya mengusap lengan Dara. Melihat perlakuan itu, emosi Mirna memuncak.


" Revan, kamu itu harusnya yang adil dong. Aku juga istri kamu!" rajuk Mirna.

__ADS_1


" Cukup Mirna! Hentikan semua tingkah konyolmu ini. Kamu lakukan semua ini karena akal busukmu. Bukan karena aku mencintaimu. Jika kamu waras, kamu tidak akan bersikap serendah ini.!"


" Ka..mu..!" Mirna menatap nanar ke arah Revan.


" Apa belum cukup, Mir! Kamu menyakiti aku? Siapa yang diperlakukan tak adil di sini. Jelas kamulah yang memaksakan kehendakmu. Kamu itu egois. Tak tau malu! Perempuan rendah macam kamu tak pantas untuk aku cintai, faham!" hardik Revan.


" Kamu tega berkata begitu, Van. Aku lakukan semua itu, karena aku mencintai kamu. Karena anak dalam kandunganku ini. Harusnya dialah yang kamu usir. Karena akulah yang pertama memilikimu," isak Mirna.


" Jangan bodoh kamu ya ,Mir. Atau berpura- pura buta. Anak dalam kandungan kamu itu, milik Miko. Bukan aku! Benar, kamu yang pertama memiliki aku. Tapi kenapa kamu pergi meninggal- kan aku demi Miko? Kemana kamu pergi selama ini? Hidup bersama Mikokan? Aku sudah muak dengan sikap tak tau malumu ini. Sekarang, pergi kamu dari sini. Ayo, Pergi!" usir Revan tak bisa membendung kemarahannya.


Sikap tak malu Mirna sudah sangat keterlaluan! Membuat Revan muak! Seolah tak punya salah, dan menimpakan kesalahannya pada orang lain.


Mirna terkesiap mendengar semua ucapan Revan. Hal yang tidak ingin ia dengar dari Revan. Terucap juga. Revan telah mengulitinya di hadapan Dara. Ternyata, Revan telah mengetahui semua masa lalunya.


" Jangan pikir aku bodoh karena selama ini diam dengan ulahmu. Jika kamu masih punya rasa malu, sebaiknya kam enyah dari rumah ini sekarang juga!"


Nafas Mirna turun naik menahan sesak. Dia kehabisan kata- kata untuk membalas ucapan Revan. Mirna melihat senyum kemenangan di wajah Dara. Senyum yang membuatnya kehilangan pikiran warasnya. Mirna tak ingin melihat senyum itu. Tidak dulu sekarang atau nanti!


" Baik, aku akan pergi dari sini. Tapi jangan senang dulu, aku akan balas kalian nanti. Lihat saja! Biar kalian tau, siapa aku yang sesungguhnya." ucap Mirna geram.


" Kasihan sekali kamu, Mir. Sebenarnya apa sih yang kamu cari? Sehingga dendam begitu merasuki hatimu? Ingat, dendam itu akan membawamu pada kehancuran yang lebih dalam. Yang akan merugikan dirimu sendiri."


" Jangan terlalu sok pintar kamu, Ra. Siap- siap saja kamu menunggu pembalasanku!" rutuk Mirna berlalu ke kamar. Menyeret koper yang dia bawa semalam. Rencananya yang akan mengeyahkan Dara, dari kehidupan Revan. Justru dia yang terusir tanpa harga diri, dari rumah Revan


Hanya bertahan satu malam! Dia kalah telak dari Dara. Strategi yang ia susun, ambyar begitu saja.


Padahal kesalahan terletak pada Mirna, yang terlalu ambisius.


Selangkah lagi kaki Mirna menuju ambang pintu. Tiba- tiba pikirannya berubah lagi. ***


Bersambung lagi.

__ADS_1


Mohon like n komen, biar makin semanga up nya.


__ADS_2