Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 42


__ADS_3

Langkah kaki itu sangat gemulai, betis langsingnya terlihat mulus. Belum lagi body yang aduhai. Revan menelan salivanya dengan susah payah. Siapa gadis itu? Pegawai magangkah atau pegawai baru.


"Hai, Bro, jaga pandanganmu kalau tidak ingin keseleo," tegur rekannya bercanda.


"Siapa dia Tino? Aku baru lihat dia. Pegawai baru ya?" Tino menggangguk.


"Makanya, jangan " Mitra Kita" saja yang diurusin sesekali balik ke sini juga, napa?" sindir Tino. Yah, sejak Revan di alih tugaskan ke "Mitra Kita" dia lebih fokus kerja di sana.


Hari ini karena ada urusan di kantor pusat, Revan mampir sebentar dan saat itulah dia melihat pegawai baru. Orangnya cantik gemulai.


"Namanya Mutia jika kamu penasaran dengannya," ejek Tino.


"Cantik, " ucap Revan kagum.


"Pengen kenalan?" goda Tino. Revan cuma mendehem menanggapi ucapan Tino. Emang ada yang nolak ya, kenalan sama cewek cantik. apalagi seperti Mutia. "Eh, itu dia kebetulan datang ke arah kita, Van ," colek Tino.


Entah kenapa, jantung Revan berdesir aneh, saat melihat Mutia yang melangkah anggun menuju ruangan mereka. Seperti terhipnotis, mata Revan tak berkedip melihatnya.


"Mutia, ada yang mau kenalan dengan kamu" seru Tino mendadak saat Mutia memasuki ruangan . Mutia tersenyum manis, lagi- lagi hati Revan berdetak tak karuan saat tangannya bersentuhan saat bersalaman.


"Revan," ucapnya tercekat kesulitan menelan saliva.


"Mutia," desah suara Mutia mengalahkan kelembutan Mirna saat merayu apalagi dengan Dara, yang akhir-akhir ini selalu jutek kelebat hati Revan.


"Ekhem, " Revan terbatuk pura-pura untuk melonggarkan tenggorokannya.


"Kenapa, Pak?" ucap Mutia lembut penuh perhatian.


"Egh, tenggorokan ku kayaknya bermasalah ini, haus," ucapnya bercanda. Memang tetiba saja rasa haus menyerang dirinya. Kebetulan, Mutia berdiri di dekat dispencer dengan lincahnya dia mengambilkan segelas air putih. Lantas menyerahkan gelas berisi air putih itu pada Revan.


Lagi-lagi tangan mereka bersentuhan, getaran itu kembali menjalari hati Revan. Revan nampak gugup saat menerima gelas itu, meminum air putih yang terasa hangat melintasi kerongkongannya hingga tandas.

__ADS_1


"Eh, hati-hati Pak. Bisa tersedak nanti lo," ucap Mutia terkesiap karena Revan minum air putih itu sekaligus. Benar-benar dahaga, ya pikir Mutia dalam hati.


"Terimakasih, ya. Dahagaku sudah tuntas," selak Revan konyol.


"Kok bisa-bisanya mendadak sehaus itu, Van. Pasti ada yang gak beres nih dengan tubuhmu," sentil Tino menggoda.


"Tau, aja kamu," gelak Revan.


Mutia hanya tersenyum mendengar kedua rekan itu saling menggoda. Dalam hati Mutia bersorak karena telah berhasil menarik perhatian, Revan.


Mutia merasa kalau Revan tengah tertarik padanya. Mutia akan memainkan situasi ini. Sampai Revan terjerat padanya.


Sepertinya begitu mudah untuk menggoda Revan. Benarkah memang semudah itu menggodanya. Seperti inikah aslinya sifat Revan suaminya. Mudah tergoda dengan perempuan yang baru dia kenal, atau memang itu sisi gelapnya mudah mengobral cinta?


*****


Mutia melepas topeng silikon dari wajahnya. Lalu menyimpan topeng itu di tempat paling aman. Sekarang terlihat jelas wajah Mutia yang sebenarnya. Mutia adalah Dara, yang menyamar untuk menyelidiki sepak terjang Revan suaminya.


Indentitas barunya itu sengaja dia buat agar tidak dikenali saat dia bekerja di perusahaan yang sama dengan suaminya.


Dara mengajukan lamaran, dan Willy bosnya Revan, menerimanya sebagai karyawan baru. Tanpa pernah tau kalau Mutia itu adalalah istri dari bawahan kepercayaannya, Revan.


Dara sangat marah karena Revan kembali menjalin hubungan dengan Mirna. Dara berencana akan merusak hubungan itu, menjadi pelakor bagi suaminya sendiri.


Ide gila ini muncul saat ia tahu suaminya berubah dan mengabaikan dia dan anaknya Kevin. Dara ingin balas dendam, terutama kepada Mirna yang masih saja mengganggu keutuhan rumah tangganya.


Rencanaya, bila sosok Mutia berhasil menggoda Revan, dia akan menghancurkan hubungan Revan dan Mirna. Disaat Revan memilihnya nanti, dia akan meninggalkan Revan. Mematahkan hati suaminya sendiri.


Sepertinya langkah pertama sudah berhasil, Revan sudqh masuk perangkap yang dia pasang. Tinggal rencana selanjutnya.


"Tin, tiiiiinnnnn," suara klakson panjang dari mobil Rwvan, membuyarkan lamunan panjang Dara. Bergegas, DRa keluar dari kamar, setelah memastikan tidak ada hal yang mencurigakan dari penampilannya.

__ADS_1


Dara membuka pintu gerbang, agar suaminya bisa masuk .


"Lama amat sih, bukain pintunya," gerutu Revan. Dara acuh saja tak menaggapi ucapan suaminya. Lalu masuk kembali ke dalam rumah.


"Dasar istri tak tau sopan santun. Suami ngomong gak disahuti," sungut Revan pada dirinya sendiri. Menyusul Dara masuk ke dalam rumah. Setiba di pintu, Kevin datang berlari menyambut papanya.


Revan, menggendong tubuh Kevin.


"Auwh, anak papa udah makin gede aja." ucap Revan. Karena merasakan berat tubuh Kevin yang bertambah, sehingga napasnya ngos-gosan saat menggendong Kevin.


"Kevin 'kan kuat makan sekarang, Pa. Biar cepat besar," ucap Kevin bangga saat dipuji papanya.


"Anak pintar, papa sayang sama , Kevin," Revan menurunkan Kevin dari gendongannya.


Lalu, menyusul Dara ke dapur yang tengah sibuk menyiapkan makan, malam. Aromanya yang begitu menggoda, membuat lapar juga perut, Revan.


"Lagi masak apa, ma?" ucap Revan seraya memeluk Dara dari belakang. Dara menghentikan pekerjaannya, menarik napas panjang, dan melepas pelukan Revan.


Rasanya jijik sekali mendapat perlakuan suaminya ini. Karena siang tadi dia masih menggoda pegawai baru di kantornya. Malamnya sok mesra dengan istrinya, setelah beberapa bulan ini selalu bersikap dingin.


Apakah, perubahan sikapnya, karena hatinya lagi berbunga-bunga? Karena jelas tadi sengaja menghoda Mutia atau tergoda, padahal Mutia adalalh istrinya sendiri.


Revan heran, saat istrinya menepis halus lengan suaminya yang memeluk tubuhnya. Padahal biasanya kalau pas dipeluk dari belakang Dara akan segera berbalik dan balas memeluk dirinya.


Revan sepertinya tau diri.juga, tidak memaksakan istrinya membalas pelukannya. Karena beberapa bulan ini mereka berdua salibg menghindar dan menahan diri. Tepatnya, Revan, sadar dialah yang bertingkah. Itulah sebabnya dia berusaha berbaikan dengan memancing reaksi istrinya.v


Tapi sepertinya Dara telah terlanjur marah, karena dia sama sekali tidak merespon gidaan suaminya.


"Kevin, cepat sini nak, kita makan malam," teriak Dara keras. Kevin yang sedang diruang tamu langsung berlari ke arah dapur.


"Ih, suara mama kencang sekali, sampe Kevin, kaget ma," ucap Kevin.

__ADS_1


"Kalau gak kencang kamu gak dengar nanti," sahut Dara. Dara memang sengaja menguatkan volume suaranya, yang sebenarnya ia tujukan pada suaminya. Hati Dara sangat kesal atas ulah suaminya, yang sepertinya anteng saja. Seolah gak ada rasa salah. Bersikap semaunya saja. *****


__ADS_2