
"Buk!" sebuah kotak susu terjatuh dari tempatnya saat Dara, sedang memilih - milih camilan untuk, Kevin.
Dara, menoleh ke arah sumber suara itu. Sepasang manik matanya bersua dengan dengan manik mata, Mirna!
Dara tersenyum kecut, disambut senyuman angkuh dari, Mirna. Mirna memungut kotak susu yang tidak sengaja tersenggol tangannya. Menaruhnya kembali dalam kotak, dan berpaling ke arah, Dara.
"Hai, lama tak jumpa. Tumben kita bersua di sini." Dara tersenyum tipis menyambut sapaan itu.
Lalu mengabaikan Mirna, buat apa pula berbasa-basi dengan perempuan bermuka tembok itu, monolog batinnya.
Diabaikan seperti itu, bukannya membuat Mirna malu, malah merasa ingin tau lebih banyak tentang, Dara.
"Bagaimana khabarmu, mantan kakak madu," ucapnya sok akrab tapi mengintimidasi.
"Bukan urusan kamu. Tak perlu basa- basi." Dara lanjut memilah-milih beberapa camilan.
"Wow! Tak perlu sekasar itu, aku hanya sekedar menyapa. Ternyata, kakak madu masih menyimpan dendam sama aku, ya?" ungkap Mirna dengan gaya yang distel manja.
Kalau saja Dara, tidak tau sifat culas dan licik Mirna, mungkin dia sudah menghajar mulut yang sok ramah itu. Namun, Dara tau kalau Mirna hanya hendak memprovokasi dirinya. Sehingga keributan terjadi dan menjadi tontonan orang banyak.
"Dendam? Merasa juga kamu telah berbuat salah padaku, ya? Apa menurutmu aku peduli dengan apa yang telah kamu perbuat dan yang akan kamu lakukan? Lakukan saja, apa yang hendak kamu lakukan sepuas hatimu, tapi jangan harap kamu bisa menarik perhatianku. Paham?" Dara berlalu, meninggalkan Mirna, bengong sendiri karena belum mengerti apa yang dimaksud, Dara. Untuk bertanya, ternyata langkah Dara sudah jauh berlalu.
Dara berkeliling, mencari-cari sesuai daftar belanjaannya. Dara kembali berhenti di bagian peralatan mandi. Dara, menaruh beberapa sabun, odol, juga shampo kedalam keranjangnya.
Mirna, terus mengikuti dari jauh. Ingin memepetnya terus, karena kesal dengan sikap Dara yang begitu acuh padanya.
Hingga tiba di kasir, mereka kembali bersua. Dara, tetap acuh seolah tidak melihat Mirna. Gayanya yang santai, seolah tidak punya beban. Selesai membayar belanjaannya di kasir, Dara langsung keluar dan menuju tempat parkir.
Ternyata, Mirna juga buru-buru mengejar langkah, Dara. Bukannya tidak tau kalau langkahnya di kejar. Tapi Dara acuh saja menuju area parkir.
__ADS_1
Mirna juga kearah yang sama, tapi seharusnya ke arah mobilnya di parkir, bukan ke arah,Dara, menuju parkiran motor.
"Ada apa, sedari tadi mengikuti aku terus," jegal Dara berbalik arah mengahadap Mirna. Mirna yang tidak menduga Dara, berbalik arah kaget luar biasa.
"Eh, aku juga mau kesana!" unjuk Mirna ke arah, tapi telunjuknya terhenti tidak tau menuju ke arah mama.
"Kesana mungkin," Dars menunjuk ke parkiran mobil dan berada persis di belakang Mirna, "berarti kamu salah arah dong. Kasihan masih muda sudah mulai pikun," ucap Dara datar. Membuat wajah puith Mirna memerah seperti kepiting rebus.
"Eh, oh iya, aku salah arah. Maklum, aku jarang belanja di sekitaran sini, jadi agak bingung juga."
"Pantasan, ternyata kamu punya penyakit pikun, ya. Makanya sering lupa, nyomot sesuatu yang bukan milik sendiri. Celamitan, gitu deh!" Dara melangkah ringan, meninggalkan Mirna yang masih berdiri kaku.
"Eh, tunggu! Maksud omongan kamu, apa?" teriak Mirna sesaat setelah Dara, pergi. Dikejarnya langkah, Dara. Dara yang sudah duduk di atas motornya, mengernyit heran saat Mirna berdiri didepan menghalangai motornya.
"Mau apain di situ. Minggir, kamu menghalangi jalanku."
"Apa maksud kamu aku celamitan, hah!"
"Jelasin dulu apa maksud kata-katamu tadi," sentak Mirna.
"Dasar tidak ada etika! Mau cara gara- gara saja."
"Kamu yang cari gara-gara ngomong tidak jelas."
"Huhk! Dengar ya, Mir. Aku itu tidak ada urusan apa-apa dengan kamu. So, jangan sok akrab sama aku. Sudah jelas sedari tadi kamu yang kebakaran jenggot sama aku. Ada apa? Kamu tidak rutin dapat jatah, ya. Yah, jelas aja, selain kamu, Revan itu juga punya gundik baru. Tapi, kamu itu salah alamat, bila mau cari sekilas info sama aku." cecar Dara panjang kali lebar.
Mendengar kata-kata Dara, Mirna kehilangan kata untuk menjudge, Dara. Mirna yang sengaja hendak memprovokasi, Dara, malah dirinya yang kena mental.
Jadi, selama ini Dara sudah tau kalau dirinya kembali menggoda, Revan. Dari semua kata-kata Dara barusan, mengarah kesana.
__ADS_1
"Baguslah, kalau kamu sudah tau kalau aku dan Revan kembali bersama. Aku tidak perlu lagi repot-repot menjaga rahasia."
"Hahaha.... Kamu sangat lucu, Mirna. Sepertinya duniamu sempit sekali. Kamu selalu jatuh pada lobang yang sama. Sementara dunia ini begitu luasnya. Sircel kehidupan kamu memang memperihatinkan. Segitu bangganya kamu mengakui kebodohanmu!"
"Maksud kamu, apa. Beraninya kamu menghina aku."
"Sudahlah, Mirna! Kamu cerna saja semua kata-kataku saat kamu di rumah. Jangan lupa di temani secangkir kopi, biar kamu tetap bisa menjaga kewarasanmu. Aku, mau pergi!" Dara menyalakan mesin motornya, melaju meninggalkan Mirna, yang masih bengong melihat sikap, Dara.
"Brengsek, apa maksudnya Revan punya gundik baru? Apa, Revan selingkuh? " Mirna menghentakkan kakinya dengan kesal. Semua ucapan Dara barusan, membuat hatinya terbakar emosi.
Mirna mengambil ponsel di dompetnya. Mencari sebuah nomor lalu menghubunginya. Ternyata panggilan tidak terjawab, membuat Mirna makin murka saja.
Menjelang malam, Mirna baru bisa menghubungi nomor Revan setelah seharian panggilannya di abaikan.
Begitu Revan tiba di rumah, Mirna langsung disambut wajah kesal darinya.
"Dari mana saja sih, Bang. Seharian tidak bisa dihubungi," cecar Mirna tanpa memberi Revan kesempatan untuk duduk. Wajah lelahnya mengernyit heran, melihat sikap, Mirna.
"Lha, aku pulang kerja, dari mana lagi?"
"Seharian tidak bisa dihubungi, emangnya ngapaian saja!"
"Kamu ini lagi kenapa, sih. Kamu juga tau, 'kan kalau jadwalku pada hari ini. Habis pertemuan, langsung meni jau ke lapangan. Ponsel sengaja aku silent. Macam orang kesurupan saja, kau." sergah Revan kesal. Pulang kerja bukannya disambut dengan senyum, malah kena semprot.
Revan, segera masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan gerah.
Mirna yang sudah emosian sepanjang hari, makin kesal saja melihat Revan yang seolah tidak ada salah.
Tadi dia telah menerima kiriman foto, kebersamaan Revan dengan seorang wanita di sebuah kafe. Entah siapa pengirimnya. Tadinya, Mirna mengira igu kiriman dari Dara. Tapi setelah melacak nomornya, Mirna yakin itu bukan, Dara. Tapi entahlah kalau dia pake akun lain.
__ADS_1
Wanita itu sangat cantik, jelas membuat Mirna di bakar api cemburu. Jadi kecurigaannya selama ini benar, kalau Revan selingkuh darinya.*****