
Mirna tertunduk lesu. Dalam hati dia merutuk kesal atas perlakuan ibu- ibu kompleks yang telah menghakiminya.
" Sudah, sudah bubar semuanya!" teriak bu Rt, pada ibu-ibu yang masih berkerumun.
" Usir dia dari sini, bu Rt." teriakan koor ibu- ibu kompleks. Yang masih emosi.
" Tenang, ibu- ibu. Jangan ada yang terpicu emosi." lerai ibu Rt kewalahan menghalau ibu- ibu yang dikawal emosi.
Tiba-tiba bi Arsi muncul. Dia kaget bukan main saat melihat orang-orang yang ramai berkerumun di depan rumah majikannya. Mendadak hatinya was-was, apa yang telah terjadi? Mana majikannya tidak di rumah lagi.
Bi Arsi menyeruak kerumunan para tetangganya. Ingin meliha apa yang sedang terjadi. Alangkah kagetnya Bi Arsi, saat melihat majikannya terduduk di sudut teras. Dengan pakaian yang sangat kotor.
" Non, apa yang terjadi? Siapa yang lakukan ini pada non Mirna?" seru Bi Arsi dengan mata berkaca- kaca.
" Dari mana saja, bi! Ayo cepat, buka pintunya. Ngelayap aja terus!" bentak Mirna. Bukannya dia merasa terharu dengan perhatian bi Arsi. Malah mencak- mencak pada pembantunya yang sudah paruh baya itu.
"Huh! Dasar perempuan tak ada sopan sama orang tua. Lihat, perlakuaannya itu sama pembantunya." seru bu Raisa gemas.
" Iya memang. Di depan kita aja dia berani begitu."
sahut ibu yang lain.
" Sudah, ibu- ibu. Pulang sana ke rumah, masing- masing." bu Rt membubarkan kerumunan ibu- ibu kompleks yang masih ngedumel tak tentu arah.
" Bibi dari mana saja tadi? Kalau bibi ada di rumah, mereka itu tak akan memperlakukan aku seperti ini." seru Mirna kesal pada bi Arsi.
" Maaf non, bibi ke pasar belanja. Bibi tidak tau kalau non mau pulang."
" Yah, sudah. Cepatlah masaknya, bi. Aku sudah lapar!" seru Mirna. Karena tadi dia masih makan beberapa suap, saat di cafe. Benar- benar hari yang sial. Dan itu bermula dari ulah, Dara.
"Hem! Lagi- lagi kamu yang bikin masalah. Lagi-lagi karena kamu aku ketiban sial, terus." Mirna bicara sendiri saat di kamar mandi.
Tiba- tiba Mirna merasa perutnya mulas. Melilit, seolah mau BAB. Mirna menghentikan kran shower, karena bermaksud ke toilet. Tapi sesaat , Mirna melihat genangan air berubah warna merah.
Mirna terkejut! Dia mencari sumber warna merah itu. Ternyata merembes dari sela- sela ke dua pahanya.
__ADS_1
" Auw...!" jerit Mirna kaget. Ternyata saat perutnya tadi terasa mulas , dan melilit bukan karena mau BAB. Tapi karena dia pendarahan.
" Bibi....bi...!" jerit Mirna ketakutan. Mirna menyiram darah yang keluar semakin banyak. Karena panik dan takut, Mirna pingsan!.
" Ada apa non. Apa yang terjadi? Bukain pintunya, non!" teriak bi Arsi. Saat dia mendengar jeritan majikannya dari kamar mandi. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Membuat bi Arsi panik dan ketakutan.
Bi Arsi berlari ke luar rumah, menjerit minta tolong pada tetangga. Spontan para tetangga keluar rumah.
" Ada apa bi Arsi?" bu Raisa heran mendengar jeritan bi Arsi.
" Non Mirna! Bu Raisa!" seru bi Arsi panik.
" Iya, kenapa dengan Mirna?"
" Gak tau. Non Mirna tadi teriak di kamar mandi, manggil saya. Tapi saat saya datang, gak ada sahutan lagi. Pintunya terkunci dari dalam, bu."
"Ya udah, ayo kita tengok." bergegas bu Raisa menyusul langkah bi Arsi. Di ikuti dua orang ibu yang lain.
" Mirna....! Ayo buka pintunya." gedor bu Raisa beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan. Akhirnya bu Raisa mendobrak pintu itu, dan terbuka.
Mereka kaget karena melihat Mirna tergeletak di lantai kamar mandi, pingsan.
Bu Raisa menepuk- nepuk wajah Mirna agar segera sadar. Tapi tidak ada respon.
" Sebaiknya kita bawa aja ke Rumah Sakit. Sepertinya Mirna pendarahan." seru bu Raisa.
" Iya, bu. Saya telepon dulu ambulans." sahut ibu yang lain.
" Bi, ambilkan pakaian Mirna, kita harus segera bawa dia ke Rumah Sakit. Apa Mirna hamil ya, bi?" tanya bu Raisa. Bi Arsi hanya menunduk.
" Ya, sudah. Ayo bi, lekas ambilkan pakaian Mirna." bi Arsi bergegas ke kamar majikannya. Mengambil beberapa pakaian Mirna untuk salin di Rumah Sakit.
Tak berapa lama ambulans pun tiba di depan rumah Mirna. Para petugas medis, segera mengangkat tubuh Mirna dan di masukkan ke ambulans. Lalu segera di bawa ke Rumah Sakit.
Bi Arsi ikut mendampingi ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan, isak bi Arsi tiada henti. Walaupun sikap Mirna selalu kasar padanya, tapi bi Arsi tetap setia pada majikannya, Mirna.
__ADS_1
Entahlah , sejak bekerja dengan Mirna kurang lebih dari setahun ini. Bi Arsi selalu merasa ada hal yang seolah mengikatnya dengan Mirna.
Mirna seolah mengingatkannya pada masa lalunya bertahun- tahun yang lampau. Sebuah kesalahan yang dia lakukan di masa mudanya.
Hal yang selalu menjadi penyesalannya selama ini. Saat dia membuang anaknya dua puluh tujuh tahun yang lalu.
Dia tidak pernah bertemu lagi, sejak dia meninggalkan anaknya di sebuah panti asuhan kala itu.
Anak yang seharusnya dia rawat dan cintai, terpaksa dia buang. Karena lelaki yang menjadi ayah dari bayinya tidak mau bertanggung jawab.
Karena takut dan malu dia terpaksa melakukan semua itu.
Ambulans akhirnya tiba di Rumah Sakit. Para petugas medis langsung membawa Mirna ke UGD untuk segera di tangani.
Bi Arsi menunggu dengan gelisah. Dia berdoa untuk keselamatan Mirna. Bi Arsi memang tidak tau kalau Mirna majikannya tengah hamil.
Sekalipun bi Arsi tau kalau Mirna adalah istri simpanan seorang pengusaha. Tapi dia tak pernah mencampuri urusan majikannya.
Entah apa yang terjadi padanya tadi, hingga Mirna bisa mengalami keguguran. Entah apa saja yang telah di lakukan oleh ibu- ibu di kompleks perumahan mereka tadi. Hingga Mirna sampai keguguran.
Mereka benar- benar jahat, karena telah membuat Mirna keguguran. Terlepas dari apa yang telah di perbuat Mirna. Kenyataan Mirna telah keguguran, tidakkah mereka sama saja dengan seorang pembunuh. Karena mereka secara tak langsung, membuat janin di perut Mirna kehilangan nyawanya.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, proses penguretan janin Mirna selesai. Mirna segera di pindahkan ke ruang rawat inap.
Mirna menatap kosong keluar jendela saat bi Arsi masuk ke kamarnya. Mirna sempat histeris tadi , setelah sadar dari pingsannya. Saat mendapati dirinya di Rumah Sakit. Dan mengetahui kalau dirinya telah keguguran.
Itu sama artinya dia tak punya peluang lagi untuk menjerat Revan agar jadi miliknya seutuhnya. Karena janin dalam kandungannya telah gugur,dia tak bisa lagi menuntut tanggung jawab Revan.
Mirna meremas sprei, kuat. Sampai jemarinya sakit karena terpilin. Tapi tak seberapa di banding sakit hatinya karena kehilangan janin dalam kandungannya itu.
Mirna teringat kejadian saat di cafe. Saat orang yang tak di kenalnya menyiram tubuhnya dan mempermalukannya
Lalu ibu- ibu yang tinggal di kompleks perumahannya juga berlaku sama. Mirna sempat mendengar kalau kejadian di cafe telah viral. Sehingga mereka juga melakukan hal yang sama padanya.
Menghakiminya!
__ADS_1
Melihatnya seperti sebuah momok yang menjijikan. Dan perlakuan itu telah kerap dia alami, sejak masih anak- anak dulu.
Menjadi anak yang di buang orang tua di panti asuhan. Mirna telah menjalani hidupnya begitu keras dan penuh perlakuan kasar. ***