
Dara menutup pintu pagar, setelah mengantar suaminya pergi bekerja. Ia juga bersiap hendak pergi ke butik lebih cepat dari biasanya.
Karena ada langganannya yang hendak mengambil jahitan.
Tapi baru saja dia menutup pintu, tetiba ada seseorang di pintu pagar. Entah siapa tamu itu. Dia berusaha membuka pintu pagar. Tapi karena terkunci dari dalam, dia kesusahan juga dan tak berhasil membukanya.
Akhirnya Dara balik lagi dan membuka pintu pagar.
Betapa kagetnya Dara saat melihat siapa tamunya. Sungguh tamu yang tidak ia harapkan datang mengunjunginya. Bahkan untuk bertemu pun dia enggan.
Tapi dia harus bersikap normal. Seolah tak tau apa- apa.
" Hai, Mirna. Kamu kah itu? Angin apa yang membawamu ke sini?" beliak Dara kaget.
" Aku kebetulan lewat tadi. Dan melihatmu masuk rumah. Kupikir itu bukan kamu. Makanya aku mau memastikan," ucap Mirna.
Tapi yang sebenarnya, Mirna telah merencanakan kedatangannya. Dia sudah mengintip tadi. Melihat Revan berangkat kerja. Karena dia sengaja datang untuk bertemu Dara.
Sementara Dara, yang tidak menduga kedatangan Mirna kerumahnya. Mencoba tetap bersikap tenang. Seolah ia tak pernah tau akan hubungan Mirna dengan suaminya.
" Ayok masuk, Mir," ajak Dara pada Mirna.
" Ah gak usah , nanti malah merepotkan kamu ,Ra."
" Ah, gak papa kok. Yuk! " akhirnya Mirna mengikuti langkah Dara memasuki rumah.
" Mau minum apa, Mirna. Aku buatkan ya?"
" Aduh, gak usah repotlah Ra." Dara tetap pergi ke arah dapur. Dan membawa dua teh botol. Serta beberapa bungkus camilan.
" Maaf ya, cuma ini yang ada."
" Dak nyangka aku bisa bertemu kamu di sini, Ra. Setelah sekian tahun kita tak bertemu."
" Iya, kita sudah lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu , Mir? Kamu sudah menikah, ya?
" Aku belum menikah Ra. Sebenarnya aku itu sudah punya tunangan. Tapi tiba- tiba saja tunanganku itu meninggalkan aku. Dia kini telah menikah." cerita Mirna sambil memasang wajah sedih.
" Aduh, maaf ya Mir. Telah mengingatkan ke sedihanmu."
" Ah, tidak apa- apa Ra. Aku sudah melupakannya kok."
" Oh, itu suami kamu ya?" hunjuk Mirna ke foto pengantin yang ada di ruang tamu. Dara mengangguk.
__ADS_1
" Nasib kamu selalu baik, ya Ra. Terkadang aku iri sama kamu."
Deg!!
Dara sangat kaget mendengar ucapan Mirna. Jadi selama ini Mirna memiliki perasaan iri padanya?
Terjawab sudah prilakunya dulu semasa sekolah.
Dan apakah karena iri juga, makanya dia menggoda suaminya kembali. Padahal dialah yang telah meninggalkan Revan.
"Yuk, di minum tehnya, Mir." ajak Dara untuk meredakan amarahnya yang mulai bergolak.
Dia tak boleh marah dan tersulut emosi.
Dara tau pasti, Mirna sengaja datang ke rumahnya untuk mematainya. Dara harus mampu bermain cantik.Seolah ia belum tau apa- apa antara Mirna dan suaminya.
Agar ia bisa mengetahui sudah sejauh mana hubungan mereka berdua.
" Oh, ya Ra, aku pamit dulu ya. Makasih atas jamuannya." gegas Mirna minta pamit.
" Lho, kok buru- buru amat sih, Mir?"
" Eh, iya . Aku lupa kalau ada janji hari dengan teman ku. Maaf ya."
" Iya, Ra. Dadah.." Dara membalas lambaian tangan Mirna. Sebelum menghilang di kelokan.
Dara, mengira- ngira apa maksud kedatangan Mirna sebenarnya di pagi ini? Apa ia berniat datang supaya bisa ketemu, bang Revankah? Monolog hati Dara mereka- reka.
Sementara Mirna, merasa dongkol sendiri saat bertemu Dara. Dia tak menduga sikap Dara setenang itu mengadapinya. Tadinya dia hendak mengacau. Mempermalukan Dara di komplek perumahannya. Menyebar fitnah, kalau Dara adalah seorang pelakor.
Teman-temannya sudah menunggu di kelokan gang menuju rumahnya. Nantinya merekalah yang akan memprovokasi warga. Dengan skenario yang telah, mereka susun dengan matang.
Sehingga warga akan datang rame- rame ke rumah Dara. Endingnya bisa di tebak nama baik Dara akan tercemar. Dan rumah tangganya akan hancur.
Eh, setelah di tunggu beberapa saat tidak ada tanda- tanda rusuh akan terjadi. Mirna malah asyik ngobrol terbawa suasana. Hingga temannya menelepon. Baru Mirna sadar akan tujuannya semula.Karena itu ia buru- buru minta pamit.
" Kamu gimana sih, Mir. Kok malah keasyikan ngobrol. Gak tau kamu, kita sudah di curigai warga, kenapa berdiri terus di sini." rutuk salah satu dari teman Mirna, Santi.
" Sorry. Aku tadi kehilangan mood. Gak tau mulai dari mana mau ngamuk sama dia." dengus Mirna.
" Lha, kok bisa. Bukannya kamu sendiri yang bilang emosi liat dia. Karena telah merebut tunangan kamu?" sela kawannya yang satu lagi, Desy.
" Iya, sih, Desy. Tapi..."
__ADS_1
" Tapi kenapa? Kamu ini jadi aneh. Kita niat mau bantuin kamu, eh kamu sendiri malah keder. Yuk, ah pulang. Buang- buang waktu gak jelas." cecar Desy kesal.
" Ya, sudah. Kita pulang saja, Mir." timpal Santi. Mau tak mau Mirna nurut. Mengikuti langkah kedua temannya. Yang begitu kesal dengan ulahnya.
Rasa dongkol di hati Mirna makin menjadi. Terus terang tadi, Mirna kena mental saat melihat sikap Dara yang begitu tenang.
Walau ia sempat menangkap sekilas, sikap dingin Dara. Tapi detik berikutnya dia bisa menguasai keadaan. Sehingga Mirna seolah di setir mengikuti alur Dara.
Bukannya bisa memancing emosi Dara. Justru dia malah beramah tamah.
Dalam benaknya tadi, begitu bersitatap dengan dirinya. Dara akan menolak dia bertamu. Karena foto yang ia kirim kemarin ke wa Dara. Adalah poto kemesraannya dengan Revan. Yang nota bene adalah suaminya Dara.
Mustahil Dara tak melihat foto itu! Dan tak terpancing emosinya melihat itu.
Sebegitu percayakah Dara itu dengan Revan? Atau Revan begitu mencintai istrinya, sehingga bisa menyakinkan hati Dara?"
Ufhhh!
Aku tak akan berhenti sampai di sini, Dara! Aku akan lakukan segala cara untuk menghancurkan rumah tanggamu! Dendam kesumat di hati Mirna makin membara!
***
" Hampir saja aku tadi melabrak Mirna saat melihatnya ada di depan pintu pagar. Aku tau dia sengaja datang ke rumah. Mau apa coba! Kalau bukan untuk membuat rusuh.
Sedikit saja aku keseleo tadi ngomong, Mirna pasti langsung tersulut. Untunglah aku tadi cepat menguasai keadaan. Aku seolah tak tau kalau dia adalah kekasih gelap suamiku.
Jangan pikir kamu akan mudah menghancurkan rumah tanggaku. Aku tidak akan semudah itu menyerah. Memberikan suamiku kepada seorang pelakor dengan cuma-cuma." batin Dara. Lamunannya langsung hilang saat mendengar gawainya berdering.
" Iya, ada apa bang?" ternyata yang menelepon adalah Revan suaminya.
" Sudah berangkat ke butik, dek?"
" Belum bang, kenapa?"
" Gak ada dek. Cuma mau nyapa saja. Soalnya kangen ama adek, he..he.." kekeh Revan.
" Ih, gak lucu. Baru juga beberapa menit pergi."
" Ha..ha...udah ya ,say. Dadah..." Dara menatap heran ke gawainya. Sesaat setelah suaminya memutus hubungan telepon.
" Aneh... Gak biasanya, hadeuh!" Dara geleng kepala atas ulah suaminya barusan di ponsel.
Dara melihat jam di gawainya. Dan tersentak karena sudah makin siang. Sementara ia ada janji dengan pelangannya. Mau jemput hasil jahitan.
__ADS_1
Gegara kedatangan Mirna, jadwalnya hari ini berantakan. ***