Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 15


__ADS_3

Sesampai di butik, pelanggan Dara sudah menungu.


" Aduh, maaf ya bu Alice. Sudah menunggu. Tadi ada tamu mendadak datang ke rumah." ucap Dara memberi alasan keterlambatannya.


" Tidak apa- apa bu Dara. Kebetulan aku juga baru nyampe kok. Udah siap kan bu, baju aku."


" Sudah bu. Ayo ke ryang dalam, fiting dulu bu. Apa sudah pas , gak." Dara membantu bu Alice mengepas baju, lalu membawanyan ke cermin besar yang ada di ruang fiting.


" Bagaimana bu. Ibu udah pas, gak?"


Bu Alice memutar tubuhnya di depan cermin. Sambil tersenyum puas.


" Bu Dara.memang the best. Selalu puas dengan jahitan ibu." bu Alice mengacungkan jempolnya.


" Makasih ya, bu. Semoga jadi langganan."


" Dah pasti, bu. Permisi ya."


Dara menatap kepergian pelanggannya dengan penuh senyum. Karena langganannya merasa puas dengan jahitannya.


Tapi tiba- tiba saja seorang wanita muncul di butik Dara. Tanpa basa- basi dia langsung marah, dan melemparkan sebuah plastik kresek hitam ke hadapan Dara.


Dara kaget dengan ulah ibu itu.


" Ada apa ya bu. Dan apa ini?" Dara memungut kantong kresek itu.


" Saya mau komplein. Ini baju pesanan saya, ternyata tidak sesuai dengan yang saya minta!" ucqp ibu itu penuh kemarahan.


" Ibu yakin beli di sini?" jawab Dara heran. Soalnya dia pasti kenal betul semua hasil jahitannya.


" Iya beli di sini! Saya gak bohong!" sahutnya ketus.


" Masalahnya di mana, bu. Biar kita perbaiki!"


" Perbaiki? Saya minta ganti rugi, karena saya merasa di tipu! Makanya kalau jualan itu yang amanah!" sentak ibu itu, kesal.


" Daniah!" panggil Dara sama asistennya.


" Iya bu, ada apa?"


" Coba periksa buku pembukuan, kapan baju ini kita jual. Soalnya seingat ibu, kita tidak jual produk ini. Mungkin ibu ini salah alamat!" ucap Dara tegas. Seketika wajah ibu itu pucat.

__ADS_1


" Alah, gak usah sok belagu. Aku belinya di sini. Kalo gak mau ganti, ya sudah." sentak ibu itu kesal dan merebut kembali baju itu.


" Tidak bisa bu! Kalau memang ibu beli di sini. Saya akan ganti karena ibu kecewa produk kami. Tapi bila ibu sengaja hendak merusak nama baik butik saya, saya akan laporkan ibu, ke polisi." ancam Dara.


" Eh ..udah tau salah malah banyak bacot. Kalau memang gak mau bayar bilang saja. Jangan sok ngancam. Emang saya takut!"


" Baik! Kalau begitu biarkan kami memeriksa catatan kami dan cctv. Kapan ibu belanja di toko kami. Sehingga semua jadi jelas." ucap Dara tegas. Sehingga mau tak mau, ibu itu malah ketakutan.


Mendadak dia keluar dari butik, dan menghilang entah kemana! Dara, tak habis pikir, apa maunya ibu itu. Apa dia mau menipu atau sengaja mau merusak nama baik butiknya.


" Aneh ya, bu. Ibu yang tadi. Untunglah ibu bisa tegas. Jadinya ketakutan sendiri," kekeh Daniah.


" Iya, Daniah! Masa sekarang orang dengan mudahnya mau menipu. Tapi cara ibu tadi sunghuh gak masuk akal."


" Di kiranya ibu akan nurut begitu saja,"


***


Hari sudah menjelang magrib, ketika Dara pulang ke rumah. Tadi sepulang dari butik, Dara menyempatkan belanja dulu di sebuah mini market. Karena beberapa perlengkapan dapur sudah mau habis.


Dara melihat kalau mobil suaminya sudah ada di garasi. Itu berarti suaminya sudah pulang. Dengan tersenyum lebar Dara membuka pintu yang tidak di kunci.


Baru dua langkah kaki Dara masuk, sayup ia mendengar suara dari arah dapur.


" Aku meminta tanggung jawabmu, Van. Aku hamil!" teriak Mirna tak kalah lantang.


" Jangan macam- macam Mir! Aku tidak percaya.kalau anak yang di rahimmu itu, darah dagingku."


" Kamu tega, Van. Setelah apa yang kita lakukan."


" SiƬiittt! Omong kosong, Mir! Kamu sengaja menjebakku. Pergilah!" Revan mendorong Mirna, agar segera keluar dari rumahnya. Sebelum istrinya pulang.


" Kamu kasar kali, Van!" teriak Mirna kesakitan, karena tubuhnya kena sudut meja. Tapi Revan acuh saja. Pikirannya hanya fokus pada satu hal. Jangan sampai istrinya memergoki keberadaan Mirna di rumah mereka.


Buru- buru Dara keluar sebelum suaminya dan Mirna melihat kedatangannya.


" Pergilah! Jangan coba- coba lagi datang ke rumahku!" usir Revan kasar.


" Dengar ya, Van. Aku tidak akan diam. Sebelum kamu mau bertanggung jawab."


" Pergilah. Besok aku temui kamu di cafe Bulan," akhirnya Revan membuat janji, supaya Mirna segera pergi.

__ADS_1


Setelah Mirna pergi dan Revan, telah masuk ke dalam rumah. Dara keluar dari persembunyiannya


di balik bunga bougenville.


Dara mencoba menahan gemuruh di dadanya. Saat mendengar percakapan Mirna dan Revan suaminya.


Jadi, Mirna telah hamil akibat perselingkuhan mereka itu? Tapi mengapa Bang Revan tak mengaku, anak dalam kandungan Mirna? Benarkah Mirna telah menjebak suaminya?


Jadi kedatangan Mirna kemarin bukan tanpa alasan. Dia memang datang untuk.menemui suaminya. Hanya saja Revan sudah keburu pergi. Kebohongan apa lagi yang kau sembunyikan dariku, bang? Lenguh hati Dara.


Hatinya begitu sakit, dia tidak pernah menyangka kalau pernikahannya akan penuh dengan prahara seperti ini.


Dara mengusap air di sudut matanya. Menghela nafasnya, lalu melangkah masuk ke rumah. Mengucap salam, dan bersikap seperti biasa. Seolah tak ada yang terjadi.


" Abang sudah pulang, ya?" Dara mencium punggung tangan suaminya.


" Kamu barusan belanja ya, dek." mengambil belanjaan dari tangan Dara.


" Kok, gak bilang kalau mau belanja. Biar abang temani tadi."


" Belanjanya cuma sedikit, aja kok." Dara mengikuti langkah suaminya ke dapur.


" Tadi ada tamu ya, bang?" tanya Dara saag melihat ada gelas kotor di wastafel.


" Eh, iya. Tadi aku pulang bersama rekan kerja, abang.Dia mampir sebentar." Revan buru- buru mencuci gelas bekas minum Mirna. Karena ada noda lipstik, di gelas itu.


" Biar aku yang nyucinya nanti, bang,"


" Gak pa-pa dek. Cuma ini aja kok." Dara hanya bisa diam. Suaminya tak ingin dia curiga karena di gelas itu ada noda lipstik.


" Aku mandi dulu ya, bang. Gerah soalnya,"


" Iya dek, segeralah mandi. Biar kita makan malam," Revan menarik nafas panjangnya. Untunglah istrinya tidak memergoki ke datangan Mirna. Kalau iya, entah apa yang akan terjadi tadi.


Revan benar- benar tak ingin istrinya mengetahui keberadaan Mirna. Dia tak ingin hati istrinya tersakiti lebih dalam lagi. Karena kesalahan yang telah dia lakukan.


Makanya dia begitu kaget, saat Mirna datang ke rumahnya. Mirna datang karena dia terus menghindarinya. Dan karena haus, Mirna masuk ke dapur mengambil air minum.


" Enyah apa yang akan Revan lakukan untuk mencegah Mirna bertemu, Dara. Karena tadi Mirna sempat mengancamnya. Akan memberitahu Dara, tentang kehamilannya.


Tentu saja Revan kalang kabut dan tanpa sengaja mendorong tubuh mMirna saat mengusirnya.

__ADS_1


Untunglah Mirna tidak apa- apa. Revan sangat takut tadi, terjadi sesuatu pada Mirna..


"


__ADS_2