
Yudi selalu mengisi waktu luangnya, untuk ikut pementasan seni dari komunitas seni di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka adalah sekumpulan anak muda yang memiliki hobby atau keahlian di bidang seni. Kebanyakan dari mereka, anak-anak yang putus sekolah. Preman- preman kecil yang terpaksa hidup di jalanan. Merrka itu butuh bimbingan serta dukungan agar masa depan mereka lebih terarah.
Sebagai salah satu orang tua asuh untuk komunitas seni itu. Yudi lebih aktif mensponsori setiap pementasan seni dari anak-anak muda dalam mengekspresikan kreatifitas mereka.
Kepedulian Yudi, mewadahi kelompok pemuda, dari berbagai latar itu. Disambut hangat oleh ketua karang teruna tempatnya tinggal. Yudi, juga selalu memberi bimbingan agar kelompok itu semakin terarah dalam berkreasi.
Dengan segala kesibukannya itu, Yudi, merasa terhibur dan menemukan tempat untuk melarikan diri dari dukanya.
Seperti malam itu, Yudi, kembali mendampingi pementasan musik yang di beri nama " Ruang Rasa". Disebut ruang rasa, karena sebagai ruang atau tempat untuk menuangkan segala rasa dari dalam hati. Tempat mengekpresikan gejolak darah muda agar tidak melenceng dari garis yang sebenarnya.
Sesama anggota bisa sharing pengalaman masing-masing. Mengekspresikan bakat seni yang dimiliki anggota. Baik seni peran, musik, atau seni lainnya.
Setelah sekian lama, mengikuti pementasan seni yang dia sponsori. Baru kali inilah Yudi, seolah di seret kembali ke masa lalunya. Masa lalu, yang selalu berusaha dia lupakan. Walaupun tidak seutuhnya, setidaknya tidak membuatnya larut terus dalam duka.
Kehadiran bocah kecil umuran 5 tahun itu, yang berlari riang datang ke arahnya membuat Yudi tersentak kaget. Apalagi saat anak itu telah berdiri di depannya, menggapai-gapai tangannya untuk bisa menyentuhnya. Lalu, dengan girangnya tertawa seolah tiada beban. Sungguh, telah mengingatkan dirinya akan kenangannya dengan putranya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu.
Putranya, Sean, juga sangat menyukai badut. Di saat anak sesusianya banyak yang takut melihat badut. Sean, sebaliknya sangat suka bermain dengan badut. Seandainya Sean masih hidup, dia sudah remaja sekarang. Malam ini, usianya tepat 15 tahun.
Malam ini adalah hari ultahnya Sean. Untuk mengenang putranya itulah Yudi malam ini mengenakan pakaian badut. Tak disangka, jika malam ini, Yudi, akan bertemu Kevin, bocah yang juga sangat suka pada badut. Bocah, yang menyingkap kenangan lamanya akan putranya.
Entah kenapa, wajah dan tingkah Kevin, seolah duplikatnya Sean. Hampir saja, Yudi, lupa kalau Sean telah meninggal. Kalau saja Yudi, tak melihat sosok ibunya Kevin, yang berjalan tergesa mengikuti langkah anaknya.
Yudi, sangat menyesalkan, karena tidak sempat meminta nomor ponsel ibunya, Kevin. Ah, semoga saja kami akan dipertemukan lagi di lain waktu, guman Yudi pada dirinya sendiri.
******
__ADS_1
"Ma, Om badut tadi, lucu ya," ucap Kevin saat dalam perjalanan pulang.
"Kevin senang, ya, jumpa sama om badut?" teriak Dara, menyaingi bisingnya suara kenderaan.
"Iya, Ma. Kevin, suka. Om badutnya juga mau foto sama, Kevin." Kevin mengetatkan pelukannya di pinggang, Dara. Sepertinya dia sudah kedinginan.
"Kevin, kedinginan ya, nak?" seru Dara, seraya meraba tangan mungil Kevin yang melingkar di pinggangnya.
"Iya, Ma."
"Sabar, ya, Nak. Ntar juga kita sampai," Dara menghentikan laju motornya saat lampu merah menyala. Disematkannya jaketnya ke tubuh Kevin. Kevin, merasa lebih hangat. Saat lampu hijau menyala, kenderaan di kedua sisi Dara, mulsi bergerak.
Saat itulah, tanpa sengaja Dara melihat mobil suaminya. Seorang perempuan ada di sisi Revan, tapi Dara tak jelas melihat wajah perempuan itu.
Suara klakson kenderaan di belakang, Dara, menyentakkannya dari lamunan. Buru-buru Dara, melajukan kembali motornya. Berusaha untuk konsentrasi, sekalipun benaknya dipenuhi tanda tanya besar.
Kecurigaan, Dara, bukan tak beralasan. Kesubukan suaminya akhir-akhir ini, sudah sangat meresahkan hatinya. Karena suaminya nyaris tak punya waktu lagi untuk keluarganya.
Alasannya adalah karena banyak tugas dari kantor, pertemuan dengan rekan bisnis, rapat yang mendadak. Hingga kunjungan ke luar kota. Semua kesibukan itu, masih bisa di terima , Dara, sepanjang suaminnya jujur. Dara, akan memberikan kepercayaannya.
Namun, apa yang barusan dia lihat. Meskipun belum jelas kebenarannya, perasaan Dara seolah disentil. Dia harus mengkaji ulang kepercayaannya itu. Setidaknya, harus waspada supaya apa yang pernah terjadi dalam keluarganya dulu, tidak terulang lagi.
Dara, memarkirkan sepeda motornya di teras. Kevin segera turun dari boncengan. Dari wajahnya, tersirat rasa lelah. Namun, bibirnya tetap menyunggingkan seulas senyum. Sisa rasa bahagianya, mungkin karena bertemu badut.
Setelah memutar anak kunci, Dara, masuk di ikuti langkah Kevin. Ruang tamu yang tadinya gelap, kini benderang. Dara, mengajak Kevin mencuci tangan dan muka, lalu salin pakaian.
__ADS_1
"Vin, mama buatkan nasi untuk makan malammu, ya?" seru Dara.
"Iya, Ma," sahut Kevin dari kamar mandi. "Kita gak makan bareng, Papa, ya Ma?" tanya Kevin, setelah keluar dari kamar mandi. Lalu duduk manis di meja makan.
"Ganti bajunya dulu, Nak. Piyamanya sudah mama taruh di atas tempat tidurmu." Kevin beranjak menuju kamarnya tanpa menunggu mamanya bicara dua kali. Selesai ganti pakaian, Kevin kembali ke meja makan. Dara, telah selesai menata makanan di atas meja.
"Ma, kenapa Papa belum pulang juga, ya?" keluh Kevin.
"Mungkin bentar lagi, Nak. Ayo, kita makan aja duluan." Kedua anak beranak itu akhirnya makan malam dalam diam. Mungkin karena lapar, Kevin menikmati saja makanannya tanpa bicara apa-apa. Biasanya dia akan cerita apa saja.
Sedangkan, Dara, juga tak banyak bicara karena masih terpengaruh kejadian saat di lampu merah tadi. Apalagi suaminya belum tiba juga di rumah. Padahal kalau perkiraan waktu, pasti Revanlah yang akan tiba lebih dulu dari mereka di rumah. Saat melihatnya tadi di lampu merah. Namun, hingga jam 10 malam, Revan belum juga pulang.
Telah berkali-kali, Dara, menelepon. Nomor yang dia tuju selalu tidak aktif. Prasangka, Dara, sudah berkelana ke mana-mana.
Apa memang Revan tidak ingat sama sekali janjinya, pada Kevin? Sesibuk apa suaminya bekerja, hingga selarut ini belum juga pulang.
Saat pikiran, Dara, berkecamuk tiba-tiba terdengar suara klakson mobil Revan. Dara, yang sedang di kamar Kevin, mengantar tidurnya segera bergegas membukakan pintu.
Entah, apalagi alasan suaminya kini atas keterlambatannya, pulang. Rasanya, Dara, juga enggan untuk bertanya.
"Klik...!" suara anak kunci diputar terdengar. Seiring ketukan pintu dari, Revan. Dengan wajah sedikit masam, Dara, menyambut kedatangan suaminya. Mengambil alih tas dari tangan Revan.
"Kevin mana, Dek? Sudah tidur, ya?" Tanya Revan seraya melepas dasi dari lehernya. Wajahnya, nampak lelah sekali.
"Sudah, Bang. Abang, mandi dulu atau langsung makan malam?"****
__ADS_1