
Dara mengantar kepergian Revan, hingga di pintu. Dia mencium punggung tangan suaminya.
" Abang pergi dulu ya, dek. Kalau adek merasa sepi di rumah. Pulang saja ke rumah ibu beberapa hari,"
" Tidak apa- apa bang." sahut Dara datar. Tapi Dara tetap mencoba tersenyum. Walau hatinya masih terasa sakit. Dara buru- buru masuk ke rumah. Ia teringat akan lingerie merah di lemari pakaian suaminya.
Dara membuka lemari suaminya. Mengambil kursi untuk bisa menjangkau rak paling atas.
Tapi lingerie itu sudah tak ada. Dara yakin kalau lingerie merah itu ia kembalikan ke posisi semula.
Tapi kenapa sekarang sudah tak ada lagi ? Apa suaminya telah membuang atau menyimpannya di tempat lain? Ataukah iķut dia bawa, ke luar kota?
Lalu itu untuk siapa. Apa untuk selingkuhannya?
Dan siapa perempuan itu?
Tidak mungkinkan suaminya make lingerie untuk tidur? Lingerie itu jelas- jelas untuk perempuan. Ataukah suaminya suka aneh? Suka berfantasi liar soal seksualitas?
Itu gak mungkin, karena selama pernikahan mereka. Walau itu masih seumuran jagung sikap suaminya wajar saja setiap melakukan hubungan suami istri.
Ataukah lingerie itu pesanan rekan suaminya?
Aduh! Kepala Dara jadi pusing tak karuan memikirkan soal lingerie itu. Untuk bertanya langsung, Dara masih ragu.
Tapi mengingat sikap suaminya yang tetap hangat Dara meragukan kalau suaminya selingkuh.
Terkecuali semalam, tekanan suara Revan, suaminya beda dari hari biasa. Membuat hatinya sedikit curiga.
Dara harus lebih peka, akan perubahan sikap suaminya. Sebelum segalanya terlambat.
Bagaimana pun, Dara mencintai suaminya. Tak ingin terjadi sesuatu pada rumah tangganya.
Tiba- tiba ada sebuah pesan masuk ke aplikasi berlogo telepon warna hijau.
Dara melihat nomor yang tidak ia kenal. Selain tak punya foto profil juga nama pengirim. Sehingga Dara ragu untuk membuka vidio dan foto.
Tapi karena rasa penasaran, Dara membuka juga foto itu.
Hampir saja gawai dalam genggamannya terjatuh, saat melihat foto dalam wa itu. Foto itu adalah foto suaminya dengan seorang wanita.
Mereka sedang bergandeng tangan mesra. Entah siapa yang mengirim foto dan vidio itu. Entah apa maksud dan tujuannya.
Dara menekan tombol play dalam vidio itu. Sama seperti foto, Dara juga tambah kaget melihat vidio tersebut.
__ADS_1
Dara tidak mengerti harus bagaimana. Atau berkata apa melihat foto dan vidio itu. Dalam vidio jelas terlihat kemesraan dari kedua sejoli itu.
Pelukan suaminya pada perempuan itu. Adalah hal yang sama yang di lakukan suaminya padanya.
Dara men zoom foto itu, untuk melihat lebih jelas siapa wanita itu. Sepertinya wajah itu bukan orang asing. Sepertinya ia kenal wajah itu, tapi entah di mana. Ingatannya terasa samar.
Oh, my God! Benarkah?
Itu adalah foto sahabatnya semasa SMA dulu. Kalau gak salah namanya, Murni. Atau Mirna ya?
Huf, namanya Mirna. Iya aku ingat sekarang. Monolog hati Dara menderu. Dan bukankah nama itu yang ia temukan di kontak suaminya. Karena tak ada foto profil, jadi dara tak mengenalnya.
Buru- buru Dara mencari nomor kontak yang ia simpan malam itu. Dan mencocokkannya.
Ternyata benar. Nomor kontak itu sama dengan nomor pengirim foto dan vidio itu.
Hem, jadi perempuan ini benar- benar bermain denganku ya, dengus Dara.
Bagaimana suaminya dan Mirna bisa saling kenal?
Apa mereka sudah lama kenal atau baru- baru ini saja kenal? Kepala Dara semakin berkedut. Oleh berbagai tanya yang satupun belum ada jawabnya.
Apakah ini ada hubungannya dengan insiden di toko kemarin. Yang mengatakan dirinya adalah seorang pelakor.
Jika benar, dia telar menjadi pelakor tanpa sepengetahuannya. Berarti suaminya orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini.
Jika suaminya telah menikah, kenapa melamarnya lagi? Dan lebih anehnya, keluarga suaminya berdiri di belangkang mendukung pernikahan mereka.
Kenapa tak seorangpun yang memberitahu, kalau suaminya udah pernah menikah?
Aku harus cari tau ini segera. Rahasia apa yang sebenanrnya telah di simpan suaminya darinya.
Dara, menyimpapn foto dan vidio itu, untuk jadi bukti baginya kelak, mengungkap rahasia suaminya.
Untuk sementara ini, Dara harus bermain cantik. Harus sabar dan kuat, menghadapi suaminya. Dan tak mudah baginya untuk melepas begitu saja suaminya ke tangan pelakor itu.
Setidaknya dia akan berjuang untuk ke utuhan rumah tangganya.
***
Dara memutuskan untuk ke rumah mertuanya saja. Apa lagi setelah menikah dengan Revan, baru tiga kali mereka mengunjungi mertuanya.
Kini Dara telah berdiri di pintu rumah ibu mertuanya. Jarak antara rumahnya dan rumah ibu mertuanya hanya dua puluh lima menit.
__ADS_1
Dengan menenteng oleh- oleh, berupa jeruk dan apel. Dara mengetuk pintu rumah mertuanya.
Selang beberapa menit, pintu itu akhirnya terbuka. Muncul ibu mertuanya di balik pintu. Dengan pandangan kaget, karena tak menduga tamu yang datang.
" Kamu nak ,Dara!" mata tua ibu mertuanya celingukan mencari seseorang.
" Bang Revan gak ikut, mak. Lagi dinas ke luar kota." Dara menyalami tangan ibu mertuanya, serta mencium punggung tangan perempuan yang telah menjanda lebih dua puluh tahun lalu.
" Oh, mari masuk nak. Adik iparmu lagi ke warung. Sebentar juga pulang."
Dara melangkah masuk. Keluarga mertuanya bukanlah orang berada. Tapi masih termasuk keluarga yang berpengaruh karena dulunya almarhum ayah mertua adalah pensiunan tentara.
Jadi, masih cukup di segani oleh warga. Rumah besar itu dengan arsitektur bangunan peninggalan Belanda. Masih kokoh berdiri dengan ciri khasnya.
Dara menghenyakkan pantatnya di sofa. Menatap beberapa foto hitam putih yang tergantung rapi di dinding.
" Ini oleh- oleh untuk, mak." Dara mengangsurkan oleh- oleh yang di bawanya.
" Kok repot- repot sih nak Dara."
" Gak kok, mak. Dara minta maaf karena gak bisa sering- sering datang ke sini."
Dulu saat baru menikah, ibu mertuanya menyuruh mereka tinggal serumah. Karena rumah besar ini, katanya terlalu besar hanya di huni oleh dia dan putri serta menantunya, juga cucu- cucunya.
Tapi Dara menolak halus permintaan itu, karena alasan pekerjaannya. Jika dia pindah, akan berpengaruh pada pelanggannya.
Dan suaminya Revan juga setuju untuk hidup mandiri saja. Jadilah mereka tinggal terpisah.
Suaminya tiga bersaudara. Revan adalah anak lelaki satu- satunya. Yang sulung adalah kak Dian, tinggal di Kalimantan, bersama suaminya.
Mereka jarang pulang, karena jarak yang terlalu jauh. Hanya untuk hari- hari besar mereka pulang. Itu pun tidak setiap tahun.
Sementara yang bungsu, Rena. Renalah yang mengurus ibu mertuanya selama ini. Rena sudah memiliki tiga orang anak. Ketiganya perempuan yang cantik dan menggemaskan. Usia ketiga keponakannya, yang paling besar sembilan tahun. Yang ke dua lima tahun dan satu tahun.
" Ibu buatkan minum dulu, ya." ibu mertua Dara hendak beranjak dari kursinya. Tapi di tahan oleh Dara.
" Gak usah mak. Nanti Dara ambil sendiri kalau sudah haus."
Dara ingin menyelidiki masa lalu suaminya tapi, dia tidak tau harus memulai dari mana.
Semangatnya yang tadi begitu menggebu, kini melempem seperti kerupuk kena air. Tak tega rasanya menayakan langsung, dengan mengutarakan ke curigaannya.
Sehingga suasana di antara mereka terasa kaku. Ibu mertuanya justru sudah curiga dari awal. Beliau melihat wajah keruh menantunya sejak baru datang. Tapi selalu berusaha di sembunyikan.
__ADS_1
Perempuan tua itu, seolah menerka ada sesuatu yang di sembunyikan menantunya. Tapi beliau tidak mau terlalu mencampuri. Dia menunggu menantunya bicara lebih dulu. ***
.