
Revan benar- benar pusing sendiri dengan ulah Mirna. Hatinya was-was juga kalau kehamilan Mirna bocor sama istrinya.
Dia tidak ingin menyakiti perasaan istrinya dengancerita ini. Karena ia sudah berjanji untuk melupakan masa lalunya. Dan akan setia menjadi suaminya
Tapi Mirna hamil! Benar atau tidak janin dalam kandungan Mirna adalah hasil dari hubungan mereka? Membuat dirinya kalut juga.
Babgaimana kalau Mirna nekad memberitahu istrinya, soal hubungan dan kehamilannya?
" Ah, sial!" tanpa sadar Revan memaki sendiri di ruangannya.
Kali ini Revan sungguh menyesali pertemuannya kembali dengan Mirna. Yang dengan bodohnya pula mau terseret begitu saja, menjalin affair dengan peremepuan itu. Padahal dia sudah memiliki istri.
Hanya karena kenikmatan sesaat dia harus menerima akibat dari perbuatannya. Terlepas dari siapa yang menggoda dan di goda.
Kini akibat dari perbuatannya telah membuahkan hasil, Mirna hamil dan menuntut tanggung jawabnya.
***
Sore itu, di saat Dara tengah membereskan beberapa peralatan jahitnya. Datang sesorang wanita seusia dirinya. Melihat- lihat koleksi pakaian di butiknya . Daniah asistennya meladeni tamu itu.
Sementara Dara, tetap fokus dengan ruangannya.
Antara ruang kerja Dara dan ruang memajang pakaian hanya di sekat oleh dinding yang di batasi tirai transparan.
Dara sudah melihat kedatangan tamu itu. Tapi karena ada Daniah yang melayani pelanggan.
Dara tetap melanjutkan kerjanya . Mana waktu untuk tutup toko tinggal beberapa menit lagi.
Daniah tampak terlibat tawar menawar yang alot dengan sang tamu. Hingga Daniah harus minta ijin pada Dara apa bisa melepas pakaian yang di tawar pembeli itu.
Mengingat waktu, toko sudah mau tutup, Dara mengiyakan saja. Dan pembeli itu pun berlalu dari toko.
" Nia, apa semuanya sudah beres biar kita tutup tokonya." tanya Dara pada Daniah.
" Sudah bu. Tumben toko cepat tutup, bu? " tanya Daniah. Biasanya mereka tutup pukul tujuh ini baru pukul lima sudah tutup.
" Ibu dan bapak mau ke rumah mertua. Ada acara keluarga." Daniah manggut.
" Jadi ibu mau tunggu bapak di sini, ya bu?" tanya Daniah lagi saat mereka hendak pisah di depan toko.
" Iya Nia, bapak janji mau jemput ibu di sini,"
" Saya duluan bu" ucap Daniah pamit.
Dara mengangguk dan menatap kepergian Daniah. Selang beberapa menit, Revan pun datang menjemput istrinya.
" Adek udah siap mau pergi?" tanya Revan saat melihat istrinya sudah berdiri di depan toko butiknya
__ADS_1
" Iya bang," Revan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
" Kenapa gak tunggu di dalam butik saja,?"
" Biar langsung gegas, bang." kekeh Dara.
" Apa ada lagi yang perlu dek?"
" Gak bang, oleh- oleh tuk ponakan udah ada dalam kardus kok."
" Ok, kita berangkat ya." Revan menyalakan mesin mobil dan menyusuri jalan ke arah tempat tinggal orang tuanya.
Selang satu jam kemudian mereka sampai. Terlambat setengah jam karena macet. Ada
peristiwa kecelakaan mengakibatkan macet.
Kedatangan mereka di sambut para ponakan dengan riang. Dara sampai terpingkal melihat polah lucu mereka. Ada- ada saja tingkah mereka yang membuat Dara merasa terhibur.
Hinnga celetukan salah satu ponakan mereka membuat Dara mau tak mau merasa sedih.
" Bibi kapan punya dedek,?" tanyannya polos.
Dara yang tengah minum air putih hampir saja tersedak mendengar pertanyaan itu. Untunglah Dara segera bisa menguasai dirinya.
" Doakan ya sayang, biar bibi segera punya dedek. " elusnya lembut di kepala ponakannya.Revan yang mendengar celotehan keponakannya tadi juga sempat terkejut.
Tak bisa dia pungkiri, ada sedikit resah di hatinya, karena istrinya belum juga memperlihatkan tanda- tanda kehamilan.
Memang sih, usia pernikahan mereka masih beberapa bulan. Terlalu dini untuk memerpetanyakan itu. Apalagi karena kesibukan mereka, oleh perkerjaan yang menyita waktu dan perhatian.
Sehingga dia dan istrinya tidak pernah membicarakan soal anak.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Dara lebih banyak diam. Entah karena memikirkan ucapan keponakannya. Atau karena pengaruh ngantuk.
Beberapa kali Revan menatap istrinya yang seolah memikirkan sesuatu. Dia menatap jalanan dengan pandangan kosong.
" Mikirin apa sih dek?" tanya Revan mengusim lamunan istrinya.
"Egh, gak papa kok, bang." sahut Dara gelagapan.
" Kepikiran ucapan ponakan kita itu, ya?" selidik Revan.
" Ah, gak kok bang. Aku cuma ngantuk dan lelah," kelit Dara.
" Sabar ya dek. Bentar lagi sampai kok." ucap Revan tetap fokus ke jalanan yang macet. Jarak tempuh rumahnya ke rumah orang tuanya biasanya cuma dua puluhan menit.
Tapi karena pas malam mingguan jadi jalanan begitu ramai.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sudah hampir tengah malam. Dara sudah tertidur. Sebenarnya mereka di tahan supaya menginap saja. Tapi Revan menolak karena ia melihat suasana hati istrinya agak berubah.
Revan tak tega membangunkan istrinya yang masih belum menyadari kalau mereka telah sampai ke rumah.
Dengan hati- hati Revan menggendong istrinya. Dan merebahkannya di tempat tidur.Revan geleng kepala melihat istrinya yang tetap pulas.
Istrinya memang kalau sudah pulas tidur, sangat susah di bangunkan. Tapi kalau bangun tidur dia pula yang paling cepat.
Revan menyelimuti tubuh istrinya. Lalu ia ke kamar mandi untuk cuci muka, dan salin pakaian tidur.
Saat naik ke tempat tidur, Revan memeriksa ponselnya apa ada masuk notifikasi .
Soalnya selama di rumah ibunya tadi, ponselnya ia matikan.
Benar saja ada beberapa masuk pesan ke aplikasi wa. Beberapa dari rekannya. Selebihnya dari Mirna.
Revan langsung menghapus semua chat itu tanpa membacanya lebih dulu. Lalu Revan menon aktifkan ponselnya. Meletakkannya di atas nakas.
Kembali di tatapnya wajah istrinya yang masih pulas. Ditariknya tubuh istrinya dalam pelukannya. Gerakannya malah membuat Dara terjaga.
Dara kaget karena telah mendapati dirinya di atas tempat tidur.
" Astaga, bang! Aku ketiduran ya. "
Revan tersenyum melihat reaksi istrinya.
" Kok bisa aku sudah di sini?"
" Ya bisalah, kan abang gendong. Apa iya jalan sendiri?" goda Revan.
" Aku kok gak di bangunin tadi, malah di gendong kan berat?"
" Kayak yang gampang ajalah bangunin kamu dek. Bisa- bisa tetangga pada bangun, kamu malah masih ngorok" ejeknya.
" Ih, gak gitu kali juga, ah. Abang ngada aja nih." ucap Dara malu lalu menarik selimut hingga menutup kepalanya.
" Apa gak panas woi, sampai nutup muka segala," Revan mengelitik tubuh istrinya. Dara mengelinjang geli gak tahan di gelitik. Akhirnya dia melepas selimut dari wajahnya.
Ternyata tubuh suaminya sudah ada di atasnya.
Revan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
"Ih gak mau, dasar laki mesum," elak Dara menghindar dari tatapan suaminya.
" Sama istri sendiri kok di bilang mesum," Revan langsung menyambar bi***istrinya.
Terdengar erangan halus istrinya yang mulai terangsang oleh cumbuannya. Malam itu pun berakhir dalam kehangatan. ****
__ADS_1