Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 20


__ADS_3

" Nes! Tuh siapa sih cowok ganteng dekat bang Andi?" bisik Dara saat memberi ucapan selamat di pernikahan sahabatnya.Saat itulah awal pertemuan Dara dengan Revan suaminya.


" Yang mana?" balik tanya Ines.


" Tuh, yang lagi ngobrol dengan bang Andi,?"


" Oh, adalah, " sahut Ines menggantung ucapannya. Membuat Dara penasaran.


" Ih, dasar pelit. Mau kau buat cadangan,ya? " gurau Dara seraya mencubit lengan, Ines.


" Aduh, sakit Ra! Ini hari bahagiaku lo, masa pengantin di sakiti, sih." rajuk Ines bikin keki Dara.


" Abis kamu juga sih, iseng banget ke aku."


" Sabar sikit kenapa, sih. Gak bisa liat cowok ganteng, ya. Langsung mau main sambar!" kekeh Ines. Senang, ngerjain temannya yang selama ini paling anti ngomongin soal cowok.


Tiba- tiba Ines dapat ide, mencomblangi bang Revan sahabat bang Andi saudaranya. Soalnya bang Revan itu di tinggalin tunangan, sudah hampir setahun.


Sejak itu, bang Revan nampaknya gak pernah lagi dekat dengan cewek. Bucin kali dia itu sama mantan tunangannya.


Bang Andi juga pernah memintanya, buat mengenalkan salah satu teman ceweknya sama bang , Revan.


Timengnya, pas! Batin Ines.


Ketika tiba acara hiburan, tamu undangan yang memberi ucapan selamat, sudah makin sepi.Ines memberi kode, agar datang menghampirinya.


Setelah dekat Ines ngomong sesuatu, sama Dara.


" Ra, mau ku kenalkan gak, sama seseorang" bisik Ines.


" Ofs! Asal orangnya keren, aku sih oke- oke saja." sahut Dara iseng.


" Di jamin kok, Ra. Orangnya, gini nih!" Ines mengangkat ke dua jempolnya. Dara ngakak melihat ulah Ines sahabatnya. Di pesta penikahannyan sendiri, sempat- sempatnya jadi mak comblang.


Dara, meninggalkan Ines, karena temannya ada yang manggil. Mau ngajak foto bersama.


Tanpa Dara sadari, ternyata gerak geriknya menarik perhatian seseorang.

__ADS_1


Orang itu tak lain adalah Revan. Teman kuliahnya Andi, saudara Ines.


" Liatin siapa sih, Van?" tanya Andi mengikuti arah mata, Revan.


" Egh, bukan siapa- siapa, kok." sahut Revan nervous.


" Alah, sama aku aja pake rahasia segala," dengus Andi penasaran.


" Tuh, cewek yang bolak balik nyamperin Ines, kayaknya asyik liatnya." ungkap Revan jujur.


" Oh, yang itu. Asyik di buat apaan sih. Bini atau pacar?" kekeh Andi. " Kalo naksir terus terang saja, sob. Biar gua bantu ngemulusin impian lo."


" Eh, mau comblangi gua nih, sory ya." kekeh Revan menolak. Revan kapok, di comblangi sobatnya ini. Gak pernah jelas, dan selalu bikin naik tensi. Dari semua yang di kenalkan, amit- amit. Pokonya Revan kapok!


" Dasar kamu aja yang bucin sama mantanmu itu.


Mana ada cewek yang mau di miripin sama mantan lo. Eh, gimana udah dapat kabar dia belum? Move on aja deh, Van. Ngapain lo sia- siakan hidup lo sama cewek kayak Mirna."


" Yang ingatin dia kan, kamu juga. Payah lu." tonjok Revan ke bahu, Andi. Andi cengengesan , sambil meraba bahunya yang kena tonjok. Lumayan, sakit juga.


Tiba- tiba Ines datang menghampiri meja Revan dan Andi.


" Sanalah Van! Takut adikku nanti ngambek, pernikahannya batal," kekeh Andi sama Revan.


" Ayo, Ndi. Masak gue sendiri sih?"


" Yang diajak kan kamu. Kalo aku sih nanti ajalah."


terpaksa Revan mengikuti langkah Ines.Dengan gaya ogah- ogahan. Soalnya dari barisan duduk, cewek- cewek pada ngegas. Revan merasa malu juga di kerjain Ines, adik Andi. Teman kuliahnya. Mereka sudah berteman sejak masa SMA. Jadi sudah akrab juga sama Ines.


Ines sudah dengar kalau saat itu suasana hati Revan lagi galau. Karena di tinggalin tunangannya. Andi sempat ngomong sama Ines, biar mengenalkan sahabatnya, sama teman Ines.


Ternyata bukan hanya Revan yang di ajak Ines untuk foto, Dara yang kebetulan tidak jauh duduknya dari Revan, di ajak serta juga.


" Ayo, Ra. Kita foto bareng." sama seperti Revan, Dara juga merasa canggung. Karena yang di ajak Ines cuma dia sama Revan. Yang lain tidak turut serta.


" Ih, kok cuma kami aja Ra?" bisik Dara di telinganya.

__ADS_1


" Nanti, sekarang kamu aja dulu. Ayo, biar aku kenalkan kalian. Bang, kenalin dulu yuk, sama teman aku," ajak Ines.


" Revan," ucap Revan menyalami tangan Dara.


" Dara," sahut Dara menyambut tangan Revan. Eh, tak di duga, keduanya saling tatap sekian menit.


Lupa melepas tangan. Saling mengagumi! Jantung Dara berdegup kencang.


" Eeh, udah dong salamannya. Kita foto yok," Ines mengacau momen itu. Sehingga Revan dan Dara seolah tersadar. Keduanya tersenyum malu.


Karena di komporin Ines terus, sejak itu hubungan mereka jadi matang. Dan lanjut ke pernikahan.


Enam bulan masa pacaran, sudah cukup bagi Dara untuk mengenal Revan. Begitu juga sebalik. Bagi Dara, Revan adalah sosok pria yang ingin ia dampingi selama hidupnya. Menua bersama. Merajut benang kasih, jadi sebuah selimut untuk kehangatan hidupnya.


Tapi siapa sangka, masih di seumuran jagung, badai itu datang menerjang. Masa lalu Revan, datang kembali. Memporak porandakan ikatan suci mereka.


Dara mengusap air bening yang menggenangi iris matanya. Hanya kesalahan satu malam, rumah tangganya terancam hancur.


Tapi jauh di dasar hatinya masih rasa cinta itu. Meski sekarang berselimut luka dan benci.


Tiba- tiba ponsel Dara berdering. Nama adek iparnya terlihat di layar. Buru- buru Dara menjawab telepon itu. Tapi mendadak mati. Firasat buruk langsung menghantui Dara.


Di cobanya menghubungi ulang, berdering tapi tidak di angkat. Beberapa detik Dara menunggu akhirnya tersambung juga.


" Halo kak Dara, bang Revan kecelakaan. Kami sudah di Rumah Sakit Metta, kakak nyusul segera ya.!" Rena langsung memutuskan hubungan setelah menyuruh Dara menuju ke Ruang Gawat Darurat.


" Ya, Tuhan! Bang Revan kecelakaan?" seru batin Dara. Mencemaskan kondisi suaminya. Dara bergegas pergi ke Rumah Sakit yang di sebutkan Rena.


" Bang Revan mana, Ren?" tanya Dara begitu melihat mertua dan saudara iparnya.


" Masih di ruang operasi kak. Kakak yang sabar, ya." sahut Rena memegangi tangan kakak iparnya. Rena tau kalau kakak iparnya pasti sedang tergoncang hatinya. Karena ulah, Mirna di tambah lagi abangnya yang mengalami kecelakaan.


Revan sudah cerita seluruhnya masalah rumah tangganya, ke adiknya semalam. Karena tak ingin Dara pergi dari rumah. Abangnya yang memilih pergi, dan tinggal di rumah ibu.Buat sementara ini.


Menurut Rena, biarlah sementara mereka pisah dulu, agar maasing-masing pikirannya tenang dulu.


Baru bicara lagi. Mencari solusi yang terbaik dari masalah mereka. Tapi Revan mendadak mengalami kecelakaan. Entah bagaimana sebabnya. Kronologi kecelakaan yang di dengar Rena masih simpang siur.

__ADS_1


" Abang Revan harus di operasi, karena ada serpihan kaca di perutnya, kak." jelas Rena soal kondisi Revan kenapa sampai butuh tindakan operasi.


" Kak, kita bicara di sana aja, yuk. Aku tak ingin mama dengar pembicaraan kita." bisik Rena pada kakak iparnya. Dara manggut saja, mengikuti langkah Rena. ****


__ADS_2