Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 33


__ADS_3

" Bagaimana keadaan Bibi, apa masih ada keluhan, Bi?" tanya Mirna. Bi Arsi yang tengah rebahan di tempat tidur berusaha untuk duduk.


" Gak apa-apa Bi, tetap aja rebahannya,"


" Badan Bibi terasa remuk,"


" Mungkin karena benturan itu, Bi. Baru terasa sekarang efeknya," sahut Mirna.


" Apalagi karena Bibi, dikejar- kejar orang itu. Jadi terasa pegal seluruh badan, Bibi,"


" Memangnya mereka itu siapa, Bi? Ada masalah apa Bibi, sama mereka. Hingga Bibi dikejar- kejar mereka?" selidik Mirna.


Bi Arsi memandang ragu ke arah, Mirna. Antara ingin bercerita dengan masa lalunya atau tidak.


" Kenapa, Bi? Bibi mau katakan sesuatu, ya?"


" Egh, sebenarnya Bibi juga gak ngerti. Bibi tidak kenal siapa mereka. Hanya saja,.... Mereka itu muncul setelah Bibi bertemu mantan pacar Bibi."


" Maksud Bibi, Bibi pacaran setelah kita berpisah?"


" Bukan, dia itu mantan pacar Bibi, semasih muda."


" Trus, apa hubungannya ke masa ini, Bi. Kalo Bibi sudah putus hubungan, kenapa dia masih mengejar Bibi?"


" Anu, Non Mirna. Bibi punya masa lalu yang kelam. Bibi pernah melakukan kesalahan yang sampai sekarang selalu menghantui Bibi." Isak tangis Bi Arsi tak dapat ia bendung. Mirna terkejut dengan sikap Bi Arsi menangis tiba- tiba.


" Aduh, Bi. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan, Bibi? Hingga membuat Bibi, sesedih ini,"


" Masa lalu bibi sangat gelap, Non Mirna, Bibi malu untuk bercerita." Isak tangis Bi Arsi makin deras. Bahkan Bi Arsi sampai memukuli dadanya, tak kuasa menahan emosi.

__ADS_1


Mirna berusaha menenangkan Bi Arsi, dengan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Sehingga perlahan-lahan Bi Arsi bisa tenang. Bi Arsi menarik nafas panjang, menghelanya kemudian secara perlahan.


" Maafkan Bibi, Non Mirna. Bibi tak bisa menguasai emosi, Bibi, padahal semua itu sudah lama berlalu,"


" Tidak apa Bi, kalau Bibi mau berbagi cerita silahkan, Bi. Aku akan mendengarkan kisah, Bibi," ujar Mirna.


Bi Arsi, memejamkan matanya sebentar. Seolah hendak mengumpulkan, kekuatan serta ingatannya pada peristiwa tiga puluh tahun lalu.


" Ketika Bibi masih muda dulu, Bibi melakukan kesalahan, hamil di luar nikah. Tapi pacar Bibi tidak mau bertanggung jawab. Orang tua Bibi mengusir Bibi dari rumah dan Bibi pergi kota . Hidup seorang diri di kota tanpa uang dan perkerjaan, membuat Bibi nekad menitipkan bayi Bibi ke Panti Asuhan." Bi Arsi sesegukan saat mengingat kembali peristiwa yang ia lakukan dulu.


Sesuatu hal yang sangat ia sesali di kemudian hari.


" Sampai sekarang, Bibi tidak pernah bertemu lagi anak, Bibi itu. Karena Panti Asuhan itu terbakar dan Bibi tidak tau ke mana pindah.


Lalu, sebulan yang lalu, Bibi bertemu lelaki yang yang mengahamili Bibi dulu. Kami bertemu tak sengaja, saat dia berkampanye. Bibi sangat kaget, ternyata dia adalah salah satu kandidat yang mencalonkan diri mau jadi pemimpin kota ini.


" Hem, siapa mereka Bi? Aku ingin tau orang- orang ini. Yang seenaknya saja menindas orang lemah!" seru Mirna.


" Jangan, Non. Mereka itu orang jahat dan kasar. Bibi tidak ingin Non Mirna, terlibat dengan masalah Bibi," ucap Bi Arsi takut dan cemas.


Bi Arsi kenal sifat Mirna yang keras kalau hendak melakukan sesuatu. Biar saja dia menaggung semua masalah itu. Sebagai silih dosanya di masa lalu. Karena telah membuang anaknya sendiri.


" Tidak apa- apa, Bi. Aku hanya hendak memastikan kalau Bibi akan baik- baik saja. Mereka tidak boleh bertindak semena- mena. Apalagi nantinya mereka akan memimpin di kota ini. Bagaimana jadinya kota ini, kalau pemimpinnya barbar seperti itu." Mirna memegang jemari Bi Arsi, menenangkannya agar tidak takut menghadapi orang yang zholim.


" Non, Bibi tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Bibi mohon jangan turut campur dengan masalah Bibi. Kamu itu masih muda, Bibi tidak ingin masa depanmu jadi susah gara- gara, Bibi. Jadi Bibi, mohon, jangan pedulikan Bibi. Biarlah Bibi pergi jauh saja," ucap Bi Arsi.


" Tidak apa- apa, Bi, jangan takut. Aku tidak akan segegabah itu dalam bertindak. Semua akan aku pikirkan baik- baik. Bibi tenang saja, di rumah ini Bibi akan nyaman terlindung," tatap mata Mirna berusaha menyakinkan Bi Arsi. Bahwa semua akan baik- baik saja.


Entah kenapa, Mirna merasakan ada sesuatu hal yang mengulik hatinya. Tapi tidak ia mengerti. Cerita Bi Arsi tentang masa lalunya, seolah membetot aliran darahnya. Dirinya yang tidak mengetahui seperti apa masa lalunya, merasa simpati dengan masa lalu Bi Arsi.

__ADS_1


Apakah perasaan senasib itu, membawanya terseret pada pusaran sekitar masa lalu Bi Arsi?


Mengapa dia begitu simpati, dan ingin melindungi Bi Arsi. Padahal sebelumnya dia tak pernah sepeduli ini pada Bi Arsi. Selama kerja bersamanya lima tahun lalu. Mirna tak pernah peduli pada Bi Arsi.


Malah dia kerap bertindak dan berkata kasar padanya. Bahkan ia tega mengusir Bi Arsi dulu. Padahal Bi Arsi memohon padanya agar ikut serta, meskipun tidak di gaji.Tapi Mirna bersikeras meningalkannya. Dan Mirna juga sempat menyesali sikapnya itu.


Tapi setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali, dengan cara yang aneh. Insiden kecelakaan itu, telah mempertemukan mereka. Sungguh suatu kebetulan!


Dalam benak ,Mirna berjanji akan menyelidiki siapa sebenarnya lelaki yang di sebutkan, oleh Bi Arsi.


Karena kebetulan pas masa kampaye, pemilihan pemimpin kota ini, akan mudah bagi Mirna mengakses data pribadi salah satu dari kandidat.


Mirna akan melihat sejauh mana sepak terjang, dari lelaki yang tidak bertanggung jawab pada, Bi Mirna itu di masa lalu mereka.


Mirna asyik berselancar di dunia maya, mencari puing- puing masa lalu Pak Daniel. Dari data profil yang banyak menghiasi beranda medsos, Mirna dengan mudah menemukan yang ia cari.


Pak Daniel, seorang pengusaha yang sukses. Seorang pemilik pertambangan swasta yang cukup behasil dan di segani. Dia menikahi putri seorang jenderal yang sudah pensiun. Dikarunia dua orang putra dan putri. Yang keduanya juga sukses sebagai pengusaha. Kedua anak- anaknya telah menikah dan memberinya cucu masing- masing tiga orang.


Sungguh sebuah potret keluarga idaman. Sukses dalam rumah tangga juga dalam karir. Karena itulah Pak Daniel tahun ini mencalonkan dirinya menjadi salah satu kandidat, untuk mempimpin kota ini.


Tapi siapa sangka, Pak Daniel punya masa lalu di masa mudanya dulu. Menjadi seorang pecundang, karena tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.


Tetapi menjadikan "Keluarga yang harmonis dan peduli sesama" sebagai ikon kampanyenya. Tentu dia akan takut sekali, pencalonan dirinya sebagai pemimpin akan kesandung dengan masa lalunya.


Jika kasus ini sampai menguar kehadapan publik, Mirna bisa bayangkan gelombang stunami akan menerjang keluarga itu.


Meluluhlantakan semua kerja keras Pak Daniel. Tidak hanya, karir! Mungkin keluarganya juga akan turut hancur. ****


.

__ADS_1


__ADS_2