
Pandangan Dara ke Mirna masih tajam melekat! Menunggu jawaban, apa yang akan di sebut Mirna atas pernyataannya.
Nyatanya, Mirna berkelit. Membuat emosi Dara makin memuncak.
" Kenapa diam, Mir. Kamu pikir ini adalah permainan petak umpet? Satu sembunyi, satunyan terus mencari? Aku muak dengan sikapmu yang gak konsisten. Selama ini kamu menggoda suamiku dan berusaha menghancurkan rumah tanggaku. Nah, tiba aku mau menyerahkan suamiku padamu. Kamu malah mencuci tanganmu. Jadi apa maumu yang sebernarnya, hah!"
Mirna diam mati kutu. Semua ucapan Dara benar adanya. Yah!, dia cuma mau bermain- main. Membuat kacau rumah tangga Dara, memang tak berniat menjadi istri, Revan. Dia hanya ingin memeras hartanya.
Baginya pepatah, "sambil menyelam minum air," itu sangat nikmat!
Tapi semua langkahnya di jegal Dara. Bagaimana ia bisa membuat mereka duduk berhadapan, dalam sidang segi tiga ini?
Dengan percaya dirinya , dia mengurai kata demi kata. Memukul hancur skenarionya. Apa lagi yang harus dia ucapkan. Semua sudah ia patahkan.
Tapi apa harus menyerah sampai di sini saja? Tunggu dulu! Bukan Mirna namanya kalau harus berhenti sebelum rencananya terrealisir.
Maka, Mirna membalas tatapan tajam Dara. Diangkatnya dengan pongah kepalanya untuk menjatuhkan mental, Dara.
" Baik, aku terima tantanganmu untuk melakukan, test DNA janin, yang aku miliki ini. Tapi tunggu sampai anak ini lahir. Dan kamu Revan, harus bertanggung jawab akan anak dalam kandungan ku ini."
" Kenapa sampai harus menunggu, lahir. Kalau besok bisa di lakukan. Aku bahkan ragu, kamu itu hamil atau tidak. Seandainya benar hamil pun, itu bukan benih suamiku. Aku sungguh jijik sama prilakumu, Mir!"
Duar! Kilat.menyambar di dada, Mirna!
Jantung Mirna berdegup kencang!
" Kenapa Mir? Kaget ya? Gampang saja kan, mau bicara apa saja. Karena lidah memang tak bertulang. Kamu ingin mengulangi ke suksesanmu, menipu orang. Menghancurkan hidup orang, karena kau anggap mereka semua bodoh!
Kamu meninggalkan Revan, untuk hidup yang lebih baik dengan orang lain. Saat kamu melihat nya sudah lebih baik, kamu ingin menghancurkan hidupnya lagi. Tidak, Mirna. Kamu itu sakit, Mir! Sakit!
Aku punya bukti atas perselingkuhanmu dengan bosmu. Yang kamu bilang telah memperkosamu. Nyatanya kamu adalah istri simpanannya kan?"
Duar.....!!! Kilat ke dua kembali menyambar dada Mirna. Kali ini gemanya lebih dahsyat! Membuat Mirna gemetar, karena benar- benar di telanjangi.
Revan juga tak kalah kagetnya, mendengar ucapan istrinya. Menatap ke dua perempuan di depannya dengan bergantian.
" Kenapa memandangiku, bang? Tanya saja Mirna apa aku berbohong." Dara tersenyum mengejek. Ada kepuasan yang luar biasa karena telah membuka kedok, Mirna.
" Betul Mirna? Kamu itu itu telah menipuku? " Mirna tertunduk diam. Tak berani lagi bersitatap dengan Revan. Padahal selama ini dia begitu yakin, telah menguasai hati Revan.
__ADS_1
" Kamu brengsek, Mir. Ternyata selama ini kanu mempermainkan aku?! Bagaimana kamu bisa setega itu? Ayo jawab, Mir. Kenapa diam saja!" hentak Revan geram. Begitu tau kebusukan Mirna selama ini.
"Van, itu fitnah! Aku tulus mencintaimu, selama ini. Istrimu memang pandai bicara. Dan memutar balik fakta.!" Mirna masih berusaha menarik simpati Revan.
Membuat mata Dara melongo!
"Ah, sudahlah Mirna. Ternyata aku salah mengenalmu selama ini. Aku muak dengan semua perbuatanmu!" kibas Revan kasar, saat melihat Mirna mengeluarkan air matanya.
Air mata, yang selalu membuat hati Revan mudah luluh, semarah apa pun dia.
Tapi kali ini, hatinya tidak luluh semudah itu. Revan malah muak dan jijik melihat air mata, Mirna.
" Van, kamu tega seperti ini padaku? Kenapa ,Van!" isak Mirna sesegukan.
"Sudahlah, Mir. Baiknya kamu pulang saja.Tak ada hal lagi yang perlu kita bahas. Karena sudah jelas, selama ini kamu hanya mempermainkan aku." sahut Revan dingin
"Jadi, kamu percaya begitu saja, semua ucapan istri kamu. Juga menolak darah dagingmu ini?" beliak Mirna.
" Aku tidak akan menolak, kalau itu benar- benar murni anakku. Tadinya aku sempat senang, kalau janin dalam perutmu itu, adalah benihku. Itu berarti diagnosa dokter tentang kesuburanku, keliru.
Tapi mengingat, betapa mudahnya kamu memberikan tubuhmu kepada siapapun. Aku meragukan semua ucapan kamu, Mir.
Jika hanya melakukan hubungan badan, sekali dua tiga kali. Akan sulit menghasilkan, keturunan. Buktinya setelah enam bulan menikahi Dara, istrinya tidak kunjung hamil.
Dokter sudah menyarankan untuk mengambil progaram keluarga, untuk memproleh keturunan. Tapi karena jadwal kerjanya yang padat. Revan belum sempat mengatakannya pada istrinya.
Dara terkejut mendengar penuturan suaminya.
Terlebih dengan, Mirna. Ini adalah petir ke tiga berdentam di dadanya.
Tak percaya apa yang di ucapkan, Revan barusan.
Sungguh di luar dugaannya. Semua skenarionya benar- benar ambiyar. Tak ada lagi ruang baginya untuk menjadikan Revan mainannya. Serta menghancurkan hati Dara.
" Tidak, Van. Kamu pasti bohong! Aku yakin ini adalah anakmu."
" Karena itu segeralah lakukan test itu, Mirna. Sehingga semua jelas, dan urusan kita selesai." sahut Revan tegas.
Mirna tak berkutik lagi. Selain gagal dengan rencana yang ia susun. Juga menanggung malu, atas perbuatannya sendiri.
__ADS_1
Entah dari mana Dara mengetahui info tentang dirinya. Semua yang dia katakan dengan gamblang, benar adanya.
Tapi untuk mengakui begitu saja pun, dia gengsi.
" Baikalah. Kita lihat siapa yang benar. Siap- siap sajalah kamu Dara untuk menjadi janda!" ucapnya tak tau malu. Mirna bergegas keluar dari rumah Dara, dengan hati dongkol.
Untuk pertama kalinya ia gagal, benar- benar sial.
Sepeninggal, Mirna.
Kebisuan terasa mencekik di antara Revan dan istrinya.
Dara tak menduga, rencananya untuk menghajar Mirna, sebelum ia pergi dari rumahnya berakhir dengan terbongkarnya kedok, Mirna.
Semalam, saat Dara menerima telepon dari Mirna. Katanya mau datang berkunjung lagi ke rumahnya. Dara menebak, Mirna pasti sedang merencanakan sesuatu.
Apalagi saat dia tau kalau Mirna hamil, akibat perselingkuhan mereka.
Rena, menelepon adik iparnya, dan cerita karena akan masalah keluarganya pada adik iparnya itu.
Di luar dugaannya, Rena malah bercerita kalau Mirna itu memang bukan perempuan baik- baik.
Dia sangat bersyukur kalau abangnya bisa terlepas dari Mirna.
Sejak Dara menanyakan perihal masa lalu, abangnya. Ternyata, Rena menyelidiki tentang siapa sebenarnya Mirna. Mirna meninggalkan abangnya, karena terlibat affair dengan bosnya.
Dan ia menjadi isteri simpananan bosnya. Dan mereka bertemu kembali, saat Revan dinas ke luar kota.
Mungkin karena masih cinta atau merasa bersalah. Atau karena kesepian, Mirna nekad mendatangi Revan di hotel.
Ternyata ada rekan bisnis suami Mirna , yang melihat Mirna malam itu keluar dari hotel. Lalu melaporkannya pada suami Mirna. Sehingga mereka cekcok.
Kemungkinan Mirna hendak menjerat Revan, menghancurkan rumah tangga abangnya.
Jadi bisa saja isu hamil itu, gak benar. Dan kalaupun benar, itu bukan darah daging Revan.
Itu yang di tuturkan Rena malam itu. Sehingga Dara membuat rencana, membuka kedok Mirna.
Tapi meskipun Mirna telah kalah telak, Dara yakin Mirna tidak akan mengalah begitu saja. Mirna itu licik, muka tembok dan tidak tau malu. *****
__ADS_1