Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 37


__ADS_3

"Selamat atas kerja keras kalian. Berkat kalian perusahaan kita menjadi salah satu yang menang tender. Semoga kedepannya makin sukses. Dan seperti janji saya dulu, kalian berhak mendapat bonus," Pak Willy memberi selamat kepada tim Revan atas keberhasilan mereka.


"Asyik, bonusnya kapan cair nih, Pak," seru Tino gak sabar.


"Sabar, akan disegerakan," guyon Pak Willy terbahak. "Oh, iya. Sebelum saya.lupa, Pak Revan saya tugaskan di divisi khusus. Semua hal yang berkaitan dengan Mitra Kita, Pak Revan yang bertanggung jawab langsung."


"Saya, Pak?" tunjuk Revan pada dirinya.


"Ya, iya. Kamu, kenapa?" tanya Pak Willy heran.


"Tidak apa-apa pak, tapi saya serahkan pada Pak Tino saja. Kalau gak, Rosni."


"Eh, apa- apaan kamu, Revan. Harusnya kamu senang aku serahin tugas ini, sama kamu. Kok malah dioper?"


"Bukaan begitu, Pak. Saya hanya ingin memberi kesempatan pada yang lain, begitu. Toh, saya masih punya banyak tanggung jawab yang lain. Masak semua saya serobot sih, Pak." Kekeh Revan. Padahal itu cumam alasannya. Siapa pula yang tidak menginginkan karir yang cemerlang, secara finansial itu akan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.


Biarlah, kesempatan itu untuk orang lain saja. Cukup semua itu tertinggal di masa lalu. Jangan lagi mereka terikat apa-apa di masa depan, monolog hati Revan.


Semua itu bukan tanpa alasan, perjuangan Revan selama lima tahun terakhir ini tidak mudah. Karena ulah Mirna, dia harus resign dari perusahaan lama. Dan memulai karir baru di tempat dan suasana yang baru. Meskipun bidang yang dia tekuni masih sama


Revan benar- benar tak ingin terlibat urusan apa pun lagi dengan, Mirna. Kalau saja Revan tau, dari awal kalau Mirna adalah ceo di perusahaan Mitra Kita, Revan akan mundur dari tim.


"Ini sudah keputusan saya Pak Revan, bahwa Pak Revanlah yang bertanggung jawab penuh atas kerja sama perusahaan kita, denga Mitra Kita. Tugas yang lama, biar Pak Tino saja yang tangani


"Siap, Pak," sahut Tino penuh semangat.


"Nah, kamu dengar sendiri 'kan, Pak Tino siap mengantikanmu jika tugas kamu terlalu berat."


Revan, terdiam. Tidak tau harus bicara apa lagi. Tidak mungkin dia mengungkapkan masa lalunya itu. Namun, kembali berinteraksi dengan Mirna, adalah sesuatu hal yang tidak ingin dia hadapi lagi.

__ADS_1


Kemarin saat presentasi, Revan sangat kaget kalau Mirna adalah Ceo perusahaan itu. Tapi dia harus bersikap profesional, karena membawa nama perusahaan tempat dia bekerja. Revan sungguh tak berani berharap bahwa tim mereka akan menjadi salah satu pemenang.


Ketika, Tino memberitahukan hasil presentasi itu Revan hampir tak percaya.


"Kamu kenapa sih, sampai menolak tawaran Pak Willy. Sudah seharusnya kamu, yang menerima jabatan itu. Mengingat kamulah yang paling berusaha keras," ucap Tino.


"Semua itu, berkat kerja keras kita bersama, jadi siapapun berhak menerima jabatan itu," ucap Revan meralat perkataan Tino.


"Kami paham, tapi tetaplah Pak Revan yang terbaik. Buktinya, kita salah satu pemenang mengingat saingan kita bukan orang sembarangan, ya 'kan?" Timpal Rosni. Diangguki gerak refleks dari Tino.


"Memangnya ada masalah apa, dengan jabatan itu, kawan?" selidik Tino.


"Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja, waktu untuk keluarga otomatis berkurang," sahut Revan dengan jawaban absurd.


"Yeah, gak sangka pak Revan romantis juga, nih. Peduli banget sama keluarga. Salut deh, Pak." Rosni mengangkat jempolnya. Disahut, Revan dengan senyum meringis.


Tak ada pilihan, Revan memang harus profesional tidak mencampuri urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.


Sebuah pemikiran yang salah, seharusnya Revan belajar dari kesalahan masa lalunya. Bahwa kejujuran itu sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Seandainya Revan jujur dari awal tentang kerja sama perusahaan mereka dengan perusahaan Mirna. Tentu tidak akan menimbulkan konflik di kemudian hari.


Atas kecerobohannya itulah, telah memberi peluang kembali, Mirna hadir dalam rumah tangganya. Sebuah keputusan yang amat sangat dia sesali di kemudian hari. Karena ketidak jujuran suaminya, Dara merasa telah dikhianati lagi oleh suaminya.


Tujuan Revan yang awalnya hanya untuk menjaga perasaan istrinya, supaya tidak resah karena perusahaan tempatnya bekerja, menjalin kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Mirna.


Seperti saat malam ini, Revan harus lembur lagi. Banyak sekali hal- hal yang harus dibahas dalam rapat bulanan mereka.


Revan harus menyusun laporan untuk ia serahkan besok pada bosnya.


Kesibukannya dalam kerja sama itu, telah banyak menyita waktu dan pikiran Revan. Keluarganya seolah dinomor duakan. Kevin sering protes dan merajuk, karena papanya sudah jarang meluangkan waktu untuk dia dan mamanya.

__ADS_1


"Papa, besok Kevin akan merayakan Natal di sekolah. Papa harus datang ya, soalnya semua orang tua harus datang kata guru, Kevin.


"Iya, sayang. Papa akan datang." Revan mengusap pucuk kepala Kevin.


"Benar? Papa janji, ya? Jangan seperti kemarin, Papa ingkar janji."


"Iya, Papa janji. Acaranya, jam tiga dimulai 'kan?"


"Iya, Pa," sahut Kevin penuh harap.


"Iya, akan Papa usahakan nanti hadir, Nak." Janji Revan, seraya mengelus rambut anaknya.


"Dek, Abang pamit, kalau nanti Abang lupa, tolong ingatkan, ya," bisik Revan pada Dara. Dara mengantar suaminya hingga teras rumah.


"Hati-hati Bang." Lambai Dara, saat Revan melajukan mobilnya keluar dari halaman teras. Revan mengangguk seraya melepas senyum, lalu menghilang di tikungan.


Dara, merasa akhir tahun ini suaminya jauh lebih sibuk dari biasanya. Revan lebih sering pulang larut malam. Revan pernah cerita, kalau suaminya diberi kepercayaan jabatan baru. Kerja sama dengan perusahaan lain.


Di satu sisi, Dara, senang karena karir suaminya semakin bagus. Namun di sisi lain perhatian suaminya berkurang pada keluarga, karena waktunya lebih banyak tersita dengan pekerjaan.


Berkali-kali Kevin protes akan sikap papanya, kakrena waktu liburan pun selalu dihabiskan untuk bekerja.


Dara selalu berusaha menjelaskan sekaligus menghibur putra semata wayangnya. Ada juga terselip rasa bersalah di hati Dara, karena dia juga sibuk dengan butiknya


Untuk tidak menambah kekecewaan Kevin, Dara akhirnya memindahkan butiknya, ke rumah. Supaya dia lebih banyak memiliki waktu bersama Kevin. Bocah lima tahun itu sangat kritis, banyak hal yang selalu ingin dia ketahui.


Terkadang membuat, Dara, kewalahan untuk menjawabnya. Tentang kenapa dia belum punya adik, seperti kawan sekolahnya. Lain hari dia akan tanya, kenapa Papanya bekerja sampai malam. Tidak seperti temannya, kerap kumpul bersama keluarganya.


Dara selalu berusaha memberi penjelasan sesuai pola pikir anak seusia Kevin. Akan tetapi, namanya anak kecil. Berkali-kali pun dijelaskan masih tak juga mengerti .

__ADS_1


Dara, hanya bisa berharap, untuk kali ini suaminya tidak mengecewakan Kevin. Karena, ini adalah perayaan Natal pertama bagi Kevin, setelah masuk sekolah. Kevin sangat berharap papa dan mamanya turut mendampinginya.***


Hai para reader tercinta, maaf ya baru up lagi. Berhubung Autor sakit. Mohon dukungannnya.


__ADS_2