
, Usai makan malam, Revan permisi keluar rumah. Revan merasa gerah akan sikap Dara padanya. Muka masam, serta sindiran istrinya sungguh membuat perutnya muak.
Kalau bukan karena ada Kevin, Revan sudah menyudahi acara makan malam itu secepatnya. Entah kenapa istrinya suka uring-uringan. Terlambat pulang salah, cepat pulang pun salah terlebih lagi kalau tidak pulang. Padahal dia kerja keras di luar sana, untuk membiayai hidup mereka untuk masa depan keluarga mereka. Daripada memicu keributan, dan stres mending ke luar rumah saja, pikir Revan.
Dasar suami egois, Revan tidak pernah intropeksi diri kalau kelakuannyalah yang telah berubah. Mata hatinya seolah buta kalau dirinyalah yang telah menyiramkan bensin. Tinggal memercikkan api saja, suasana akan berubah menjadi nyala api dalam rumah tangganya.
Revan lupa, pertemuannya kembali dengan Mirna, telah menyebabkan gesekan dalam rumah tangganya. Apalagi sampai membuka kembali lembaran kelam masa lalu itu.
Bisa-bisanya Mirna kembali menjungkir balikkan rumah tangganya. Revan yang memulai berbohong. Menyembunyikan pada istrinya kalau dia telah menjalin kerja sama dengan perusahaan Mirna.
Harusnya dia jujur sejak awal. Bukannya merahasiakannya karena takut melukai istrinya, tapi pada akhirnya malah kecebur lebih dalam. Revan, mengulang kembali masa lalu itu. Larut dalam pesona Mirna, bahkan sudah menikah lagi di bawah tangan.
Entah apa yang merasuki hati dan pikiran Revan. Mirna selalu saja mampu mengeluarkan sisi jahat di hati Revan.
Bahkan tidak cukup dengan Mirna saja. Revan juga sudah mulai bermain api dengan Mutia. Gadis manis, karyawan baru di kantor lamanya. Entah kenapa, Mutia mampu menyedot perhatiannya semudah itu.padahal baru pertama kali jumpa.
Apakah ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pèrtama? Ah, sungguh membingungkan, kelebat hati Revan. Revan mampir di sebuah kafe, memesan secangkir kopi late. Sambil menikmati kopi itu, Revan, berselancar di dunia maya.
Tepatnya pada aplikasi telepon berwarna hijau. Mencari sebuah nomor lantas mengirim pesan.
"Hai, selamat malam," sapa Revan pada Mutia, karyawan baru di kantornya.
Dara mendapat chat di akunnya yang bernama Mutia. Chat dari suaminya sendiri.
"Selamat malam pak. Ada apa ya, tumben bapak menghubungi, Mutia," balas Dara.
"Hem, jangan panggil bapaklah. Inikan bukan urusan kantor."
"Trus, Mutia harus panggil apa dong?"
"Panggil abang kek, atau mas gitu, biar lebih akrab," goda Revan.
__ADS_1
"Hem, abang nakal, ya. Hihihi."
"Nakalnya di mana. Habis adek juga sangat menggoda, membuat hati abang tergoda. Hehehe." Dara merasa geram dengan gombalan Revan suaminya. Benar-benar tak menyangka kalau suaminya bisa berubah seperti itu. Atau memang itu adalah sifat asli suaminya?
"Abang 'kan udah punya istri, ngapain godain Mutia."
"Istri abang itu, mah. Selalu bikin abang naik tensi. Gak betah di rumah karena dicerewetin terus. Ayo, ketemuan, dek."
"Sekarang?"
"Iya, abang dah rindu banget sama adek."
"Duh, gimana ya, bang. Mutia lagi ada acara keluarga. Gak mungkin aku keluar rumah."
"Oh, iyalah dek. Sorry ya."
"Gapapa, bye." Dara meletakkan ponselnya dengan hati dongkol. Jadi, suaminya sekarang sedang jatuh cinta pada Mutia, karyawan baru di perusahaan tempatnya bekerja. Semudah itukah suaminya membagi cintanya.
Dara sangat terkejut, jika Revan suaminya malah jatuh cinta padanya karena mengira orang lain. Alangkah gampangnya suaminya jatuh cinta. Mengapa harus jatuh dua kali kelobang sama. Tidakkah dia belajar pada kesalahan yang lalu.
Jika kesalahanya yang dulu karena khilaf, tidakkah yang kedua atau yang ketiga kali adalah karena pilihan. Seharusnya Revan belajar dari kesalahannya yang dulu. Namun, mengapa terperosok lagi. Bahkan nampak seperti ketagihan. Karena kesalahan itu berulang kembali.
*****
Setelah mengantar Kevin sekolah, Mutia berangkat ke tempat kerjanya. Tentu setelah mengganti penampilannya kembali. Hampir saja Mutia terlambat masuk. Mutia berpapasan denga Revan suaminya di koridor.
Dari jauh Revan sudah tersenyum manis, dan menunggu Mutia hingga langkah mereka sejajar.
"Tumben, telat datang?"
"Biasalah bang, terjebak macet," sahut Mutia tersenyum renyah. Membuat hati Revan selalu deg-degan.
__ADS_1
"Oh, ya, nanti malam kamu punya waktu, gak?"
"Hem, maksud abang?" ucap Mutia sok polos.
"Aku mau ajak makan malam, tapi .... Kalau adek Mutia tidak menolak."
"Sebenarnya, aku ada urusan malam nanti. Mungkin lain waktu," ucap Mutia menolak halus ajakan Revan. Karena dia tidak ingin Revan menganggapnya perempuan gampangan. Mutia ingin Revan semakin terjerat padanya.
"Ok, lain kali. Janji, ya?" ucap Revan agak kecewa. Namun, karena Mutia menjanjikan lain waktu, kekecewaan Revan masih terobati.
"Iya, bang. Kalau abang tidak berubah haluan, " kekeh Mutia.
"Maksudnya?" Revan mengernyitkan keningnya
"Yah, kali aja abang berubah pikiran. Secara banyak yang ngantri," gurau Mutia.
"Baru ngajak adek aja udah ditolak mentah-mentah, bagaimana ada yang lain."
"Masak sih. Gimana dengan yang di rumah."
"Istri aku itu, selalu bikin pusing," keluh Revan dengan wajah memelas.
"Emang, kenapa dengan istri abang?"
"Ssttt, jangan keras-keras. Nanti saja kita ngomongnya," Revan mengalihkan karwna karyawan yang berdatangan sudah makin banyak. "Abang duluan ya," Revan berlalu seraya mengedipkan sebelah matanya.
Kalalu bukan karena merasakan sendiri, Dara tidak akan percaya kalau suaminya telah begitu jauh berubah. Dia yang dulunya selalu setia, atau semua itu hanya topeng untuk mengecoh dirinya.
Dara benar-benar merasa telalh dipecundangi oleh suaminya sendiri. Entah apa yang merasukinya, bermain api sudah menjadi hal lumrah baginya. Belum cukup dengan Mirna, kini dia sudah mencari target baru, Mutia.
Sayangnya dia tidak tau kalau Mutia itu adalah istrinya sendiri. Yang mencoba menjebaknya, untuk membalaskan perselingkuhannya dengan Mirna. Dara ingin merebut suaminya dari Mirna dengan cara menyaru sebagai Mutia.
__ADS_1
Dara menjadi pelakor bagi suaminya sendiri. Untuk membalaskan sakit hatinya. Bila tiba saatnya nanti, dia akan meninggalkan suaminya saat lagi sayang-sayangnya. Biar merasakan seperti apa itu di khianati.*****