Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 46


__ADS_3

"Siapa perempuan ini. Siapa perempuan dengan, nama Mutia!" Mirna menghadang langkah Revan, begitu keluar dari kamar mandi.


Begitu mendengar nama, Mutia di sebut, darah Revan langsung tersirap.


Revan, melihat berbagai potonya dengan Mutia, saat makan malam beberapa hari yang lalu.


"Dia itu, rekan kerja aku di kantor lama. Dia karyawan baru, aku ditugaskan membimbingnya."


"Sampai mengajaknya makan malam?"


"Apa salah, itu bagian dari pekerjaanku. Jangan libatkan urusan pribadi dengan bisnis," ucap Revan kesal. Dia mencari pakaiannya dilemari .


"Kamu mau pergi lagi?"


"Iya, aku bosan tiap hari mendengar keluhanmu. Sepertinya tidak ada hal lain yang lebih baik dibicarakan."


"Apa membicarakan perselingkuhanmu, bukan hal yang harus dibicarakan. Kamu, mau berbuat sesukamu, gitu!" nada suara Mirna langsung naikntiga oktaf.


"Hanya karena foto itu kau sebut aku selingkuh? Bukankah kamu layak mendapatkan itu juga?"


"Maksud kamu apa?"


"Bukankah itu karma bagimu juga. Kamu lupa apa yang kamu lakukan pada, Dara. Kamu mengancamku dengan foto yang sengaja kamu ambil. Kamu menjebakku 'kan?"


"Oh, jadi kamu sengaja, ya. Membalasku dengan semua ini."


"Kamu pikir sendiri. Lagian kamu yang memulai masalah. Aku, pergi!" Revan melepas tangan Mirna, yang mencengkram lengannya.


Saat, Revan di pintu kamar, sebuah vas bunga, lebih dulu menghantam pintu. Membuat, Revan kaget dan verbalik ke arah, Mirna.


Vas bunga hancur berserak. Belingnya memenuhi ruang kamar. Mata Mirna melotot setelah tersadar dengan tindakannya. Vas bunga kesayangannya yang dia beli edisi terbatas itu, telah berubah jadi serpihan.


"Kamu gila, ya!" sentak Revan murka. Tanpa sadar, melayangkan sebuah tamparan ke wajah Mirna, saat mereka kembali berhadapan.

__ADS_1


"Beraninya kamu.menamparku?" beliak Mirna kaget. Revan tak kalah kagetnya juga, ditatapnya telapak tangannya dan wajah Mirna bekas tamparannya.


"Maafkan aku,Mir, aku tidak sengaja," ucap Revan serba salah.


"Kamu memang sudah keterlaluan," Mirna keluar dari kamar sambil mengusap pipinya yang terasa panas bekas tamparan, Revan.


Revan mengejar Mirna, tapi terlambat Mirna sudah masuk ke kamar putrinya dan menghempas pintu dengan kuat. Revan mengusap kepalanya dan tengkuknya. Merasakan pelik yang datang bersamaan.


Belum lagi masalah yang datang dalam pekerjaannya tadi siang terselesaikan. Dia sempat ditegur bosnya, karena lalai dalam tugas. Mereka kalah dalam tender karena Revan kurang fokus. Muncul lagi masalah dengan Mirna.


Semua gegara Mutia. Ya, Mutia gadis yang dalam incarannya entah mengapa tiba-tiba menghilang. Semua tentang dirinya menghilang. Mutia sudah tidak masuk kantor dalam seminggu ini.


Dia hanya minta ijin tanpa alasan yang


jelas. Membuat Revan panik tak tentu arah. Setiap kali di telepon tidak pernah aktif. Akun medsosnya juga tiba-tiba menghilang.


Belum juga selesai satu masalah, eh, Mirna malah bertingkah. Cemburu begitu saja tanpa alasan yang masuk akal menuduhnya selingkuh hanya karena dia dikirimi foto dirinya bersama Mutia.


Dirumah, Revan menjumpai Dara dan Kevin tengah bercengkrama. Entah apa ysng menjadi topik pembicaraan mereka, sampai tergelak sebegitu lucunya.


Lalu tawa itu lenyap secara tiba-tiba begitu melihat kehadirannya.


Revan berdiri mematung dibingkai pintu. Menatap bodoh ke arah Kevon dan Dara.


"Papa? Papa sudah pulang?" ucap Kevin kaget. Sementara, Dara melengoskan pandangannya, enggan bersirobok mata dengan Revan.


"Iya, maaf, Papa baru pulang sekarang," ucap Revan seraya melangkah mendekati Kevin. Bersamaan dengan Dara yang berdiri menghindar.


"Mama siapkan makan malam dulu ya, Vin." Revan hanya bisa menatap punggung Dara menuju dapur.


"Papa dari mana aja sih, kenapa makin jarang pulang kerumah?" ucapan Kevin lamat-lamat masih terdengar Dara seirirng langkahnya menuju dapur.


"Maafkan Papa, sayang. Papa sedang banyak pekerjaan."

__ADS_1


"Tapi kemarin itu, aku dan mama melihat Papa di mall. Papa bersama seorang tante dan putrinya. Mereka siapa, Pa." ucap Kevin dengan polos.


"Apa? Kamu pasti salah liat," sahut Revan bingung dan melihat ke arah dapur kalau-kalau Dara muncul mendadak.


"Gak, Kevin liat dengan jelas kok, malah Kevin panggil lagi. Tapi tidak Papa dengar."


"Mama juga melihatnya?"


"Gak, Kevin takut, mama marah. Jadi gak Kevin kasih tau."


"Hem, dia itu bukan siapa-siapa. Hanya teman lama Papa yang kebetulan bertemu di sana," ucap Revan berbohong. Mulutnya terasa kelu telah membohongi anak semata wayangnya.


Papa, ganti baju dulu, ya."


"Abis ganti baju, Papa temani Kevin main monopoli ya, Pa?" tatap Kevin penuh harap. Sudah sejak lama rasanya papanya tidak pernah menemaninya bermain.


"Baiklah, Papa janji."


"Yes!" seru Kevin riang.


Saat makan malam, suasana diantara ketiganya serasa mencekam. Sejak dari tadi Dara selalu menghindari Revan. Saat ditanyapun Dara hanya menjawab seadanya saja. Selebihnya diam bagai patung.


Jelas suasana seperti ini membuat, Revan seolah duduk di atas bara saja. Bahkan saat Revan menemani Kevin main monopoli, Dara malah duluan masuk kamar. Biasanya mereka bertiga akan main bareng.


Ah, betapa Revan rindu akan hari- hari kematin yang penuh kehangatan. Entah pikiran apa yang merasukinya hingga dia terjatuh kembali kepelukan, Mirna.


Sekarang istrinya sudah tidak pernah membicarakan soal Mirna lagi. Dia malah memilih diam dan tidak peduli lagi, apapun yang dia lakukan.


Sementara Revan juga tidak tau bagaimana menarik benang merah dari masalahnya. Apapun yang akan dia lakukan nantinya sepertinya sudah menemui jalan buntu.


Revan membuka pintu kamar, melihat Dara telah terbaring pulas. Sehabis main monopoli, yang cuma setengah jalan karena Kevin keburu ngantuk. Akhirnya permainan disudahi.


Revan naik ke ranjang dengan hati-hati takut mengganggu tidur Dara, yang pulas. Posisi tidur Dara, yang memunggunginya membuat napas Revan sesak. Akhirnya dia juga tidur dengam posisi yang sama, saling memunggungi. *****

__ADS_1


__ADS_2