
Revan teringat pertemuannya yang kebetulan sekali dengan Mirna sebulan lalu. Waktu itu dia bersama rombongan tengah meninjau salah satu kantor cabang mereka di luar kota.
Saat di adakan rapat pertemuan antara beberapa kantor cabang, ternyata Mirna salah satu anggota rapat yang mewakili kantornya.
Awalnya Revan, tak yakin dengan penglihatannya itu. Tapi saat melihat reaksi Mirna yang gelagap
an. Dan selalu menghindari tatapannya, membuat Revan yakin. Bahwa dia itu adalah Mirna, mantan tunangannya yang mendadak menghilang.
Rasa geram dan murka menguasai hati Revan. Tapi mengingat saat itu sedang rapat, Revan menahan amarahnya. Revan harus bersikap profesional.
Banyak hal yang harus dia tanyakan. Terutama kenapa Mirna bisa menghilang dan tak pernah mengontaknya.
Begitu jam istrirahat tiba, Revan langsung mencari sosok Mirna. Menuntut beberapa jawaban atas berbagai pertanyaan.
Revan sadar, seharusnya ia mengabaikan Mirna. Tingkah Mirna selama ini sudah jelas mencampakkan dirinya. Karena selama ini telah meremehkan hubungan mereka.
Belum lagi karena saat ini dia sudah berstatus suami bagi Dara. Revan sempat ragu akan hal itu. Dan mengurungkan niatnya . Tapi saat ia berbalik, sosok Mirna justru telah berdiri di belakangnya.
" Hai mas Revan, apa kabar?" sapanya enteng.
" Hai.." sahut Revan tercekat. Setelah beberapa jenak terdiam. Suasana di antara mereka benar- benar kaku. Revan benci akan sikapnya yang nervous
Tak bisa dia pungkiri, kerinduannya pada Mirna masih membara. Apalagi penampilan Mirna sekarang jauh berbeda dari dulu.
Mirna nampak semakin dewasa. Penampilannya lebih charming dan berkelas. Sungguh suatu pesona yang baru, menggelitik rasa Revan.
Revan tak bisa memungkiri, aura Mirna masih kuat melilitnya. Padahal dia sudah memiliki Dara.
Dara istrinya tak kalah cantik juga! Dari sisi penampilan wajah dan tubuh mereka punya nilai yang sama. Bedanya istrinya bertubuh mungil. Dan selalu enak di peluk. Astaga! Saat ingat istrinya waktu itu, Revan tersadar dan hendak pergi meninggalkan Mirna.
Tapi dia merasa tak enak hati, dan akhirnya perbincangan mereka yang awalnya terasa garing, perlahan jadi hangat.
" Mas Revan...lama tak bertemu," ungkap Mirna seolah menyatakan kerinduannya.
" Aku telah menikah tiga bulan yang lalu," ungkap Revan lugas. Sekilas Revan menangkap kerjap keterkejutan di manik mata Mirna.
" Bagaimana dengan kabarmu. Kurasa kamu juga telah menemukan seseorang yang lebih pantas untukmu," sindir Revan sarkas. Mirna tersenyum pahit.
Susah payah ia menelan salivanya!
" Seperti dugaan ku, mas Revan pasti mudah mendapatkan gantiku." senyum Mirna datar. Melahirkan tiga garis kernyit di dahi Revan.
__ADS_1
" Maksud kamu apa? Jadi kamu menguji aku selama ini ya? Naif sekali kamu, Mir! tatap Revan tajam kearah Mirna. Sepertinya siap hendak mengulitinya!
" Mas jangan emosi dulu," bisik Mirna lirih. Dia tak tak ingin mereka menarik perhatian orang- orang.
" Sebaiknya kita bicara nanti saja,mas. Datanglah ke hotel tempat aku menginap." Mirna menyebut nama sebuah hotel, lalu segera pergi. Tak perduli seperti apa gejolak hati Revan.
Revan merasa seolah di permainkan. Sikap Mirna,menyebalkan sekali. Seolah tak terjadi apa- apa di antara mereka. Mirna sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah padanya.
Hingga rapat pertemuan berakhir, Revan tak begitu fokus menyimak beberapa inti dari hasil rapat.
Perhatiannya lebih banyak tersita oleh Mirna, mantan tunangannya. Berkali - kali Revan melirik ke arah Mirna. Tapi Mirna acuh saja setiap kali tatapan mereka bersirobok.
" Ada apa pak Revan?" rekan kantornya pak Edwin menyenggol lengan ,Revan.
" Sepertinya bapak tak fokus pada materi, rapat. Apa bapak kurang sehat?"
" Kepala saya sedikit pusing , pak. Tapi saya tidak apa- apa kok." sahut Revan seraya memijit keningnya.
" Sebaiknya bapak istirahat saja, biar saya saja yang handel tugas bapak."
" Ah, tidak apa- apa kok. Ntar juga pusingnya hilang." sahut Revan. Lalu berusaha fokus pada rapat.
Terbersit dalam benaknya untuk menemui Mirna. Menuntut jawaban kemana saja dia selama ini. Kenapa dia pergi menghilang dan tak pernah menghubunginya, setelah hampir satu tahun.
Tapi, rasanya tak pantas juga menemui dia. Secara dia telah menikah dan hubungannya dengan Mirna hanyalah sebuah masa lalu.
Tiba- tiba ada ketokan halus di pintu kamar hotelnya, membuat Revan heran. Revan membuka pintu dan terkejut saat melihat Mirna .
"Kamu..? Ngapain datang ke sini. Mana sudah larut!" beliak Revan seraya melihat sepanjang loby.
" Boleh aku masuk mas?" ucap Mirna santai.
Revan tak kuasa menolak. Dan akhirnya menyilahkan Mirna masuk. Mirna duduk di pinggir ranjang.
Revan masih berdiri di balik pintu, yang barusan ia tutup. Sambil bersidekap dada, Revan menatap dingin ke arah Mirna.
Beda dengan sikap Mirna tadi siang. Malam ini wajah Mirna nampak sayu. Sepertinya ada beban yang ia tanggung.
" Maafkan semua kesalahan ku, mas. Aku memang tak pantas mendapatkan maafmu. Tapi aku juga tak tau harus bagaimana waktu itu. Keputusanku untuk pergi, bukan hal yang mudah untuk aku lakukan. Aku terpaksa ,mas." isak Mirna tiba- tiba. Bahunya berguncang hebat, menahan tangisnya.
" Kamu terpaksa karena apa? Kamu yang pergi sendiri. Tanpa pernah memberi penjelasan apa yang telah terjadi!" hardik Revan.
__ADS_1
Tangis Mirna makin pecah, membuat Revan semakin kebingungan.
Revan paling tak tahan melihat perempuan menangis!
Akhirnya Revan ikutan duduk di sisi tempat tidur.
Menunggu Mirna menuntaskan sisa tangisnya.
Setelah beberapa saat, Mirna kembali tenang. Menarik nafas lalu menatap lekat wajah Revan.
Di tatap seperti itu, membuat Revan jengah. Revan mengalihkan pandangnya ke arah lain.
" Mungkin, kalau aku cerita saat itu, aku yakin mas Revan juga akan memalingkan wajah mas dari hadapanku." sebut Mirna parau.
" Kamu selalu berbicara dari sudut pandangmu, Mir. Dan hanya hasil pikiranmu yang benar. Tiga tahun aku kenal kamu, tak sedikitpun kamu percaya padaku. Dan memilih melarikan diri!?"
" Aku terlalu mencintaimu, mas. Aku takut bila mas Revan akan meninggalkan aku. Karena itulah aku lebih baik memilih pergi."
" Lalu kenapa kamu pergi? Apa yang membuat kamu pergi dan meninggalkan aku begitu saja!"
" A..aku hamil mas. Lelaki bajingan itu, telah memperkosa aku. Menghancurkan hidupku dan cinta kita mas," tangis Mirna pilu.
Revan terkejut amat sangat. Tak menduga sama sekali pengakuan Mirna. Mirna di perkosa dan hamil? Siapa yang memperkosanya? Kapan? Dan kenapa baru sekarang Mirna cerita!
" Cukup, Mirna! Sedikit pun aku tak percaya ceritamu. Jika memang benar kejadian itu, kenapa kamu tidk cerita padaku. Kamu malah memilih kabur. Kamu anggap apa aku selama ini. Jika kamu tak percaya padaku.
Untuk berbagi apa yang menimpamu.
Jawab aku Mirna!
Kenapa kamu bicara sekarang, setelah kamu tahu aku telah menikah. Kenapa? " tanpa sadar Revan mengguncang bahu Mirna. Hingga Mirna meringis kesakitan.
" Maafkan aku,mas. Aku memang pengecut. Aku sangat takut kehilangan kamu mas."
" Siapa lelaki itu. Lelaki yang telah tega memperkosa kamu, Mir?" tatap Revan nanar.
Mirna merasakan kemarahan yang dalam dari ucapan Revan. Apakah Revan akan menerima bila ia bercerita sejujurnya. Ah, kenapa tadi aku harus cerita. Kenapa dulu aku bisa menahan semua rahasia itu.
Dan sekarang aku mengumbarnya begitu saja, benar- benar bodoh, maki Mirna pada dirinya penuh sesal. ***
bersambung.
__ADS_1