
Hari yang di jadwalkan untuk presentasi sudah tiba. Hari ini tim Revan dalam perjalanan menuju perusahaan " Mitra Kita". Perusahaan yang bergerak di berbagai bidang bahan pangan.
Jadi mereka butuh rekan bisnis untuk memasarkan produk usaha binaan mereka yang terdiri dari beberapa UKM. Selintas info yang di dengar Revan, pimpinan perusahaan itu baru pindah dari Bali.
" Semangat semuanya, ya. Kita harus bisa memenangkan tender ini. Ingat, lembaran merah sedang melambai ke arah kita," ucap Revan menyemangati timnya.
" Sip!" mereka toas bersama sebelum memasuki ruangan pertemuan. Sepertitnya banyak juga saingan bisnis mereka yang ikut. Terlihat dari banyaknya peserta yang hadiri aula pertemuan.
Bahkan perusahaan yang dikenal sudah punya nama besar pun turut hadir dalam presentasi.
"Oke, semua bahan untuk presentasi sudah, lengkap. Semoga kita berhasil nanti,"
Tim Revan kini telah memasuki ruangan pertemuan, juga peserta lainnya. Pesertanya lumayan banyak juga. Jadi akan banyak pesaing. Melihat banyaknya peserta, Revan dan timnya, merasa nervous juga, untuk turut dalam presentasi ini.
Melihat latar dari beberapa peserta yang turut dalam presentasi ini, membuat hati Revan gentar. Tapi ia dan timnya saling menguatkan satu sama lain. Berbuat yang terbaik, soal hasil biarlah Tuhan, yang memberkati.
Satu persatu peserta telah tampil, semua berusaha melakukan yang terbaik, untuk hasil yang maksimal. Ketika tiba giliran tim Revan untuk tampil, tiba-tiba pintu ruang pertemuan terbuka.
Sesosok tubuh dengan penampilan anggun memasuki ruangan. Semua mata tertuju pada sosok yang baru datang itu.
"Itu pimpinan perusahaan ini, Van. Ayo, berjuang lakukan yang terbaik," bisik rekannya Tino. Tapi Revan mengabaikan bisikan itu. Dia terlalu terkejut melihat siapa yang datang. Matannya seperti susah berkedip, dan jantungnya berdetak tak karuan.
Betapa tidak, sosok itu adalah Mirna! Mantan tunangannya sekaligus mantan istrinya, meski dalam keadaan terpaksa. Menghilang lima tahun yang lalu. Pergi begitu saja, entah ke mana.
Rumor yang sampai ke telinganya, Mirna.pergi ke Bali. Ada juga yang bilang ke luar negeri. Lalu apa kabarnya sekarang. Mengapa tiba-tiba saja bisa berada di sini? Apakah dia salah satu peserta, mewakili perusahaannya tempatnya, bekerja.
Tadi Tino sempat berbisik, bahwa Mirna adalah pimpinan perusahaan, tempat dia dan timnya melakukan presentasi.
Seketika, keringat dingin mengucur di punggung, Revan. Tiba-tiba dia merasa lemas, dan gugup. Terlihat dari telapak tangannya yang basah. Revan menelan salivanya yang terasa sepat.
__ADS_1
"Van, kamu kenapa sih, kok mendadak tegang?" bisik Tino ke telinga Revan. Tino heran melihat perubahan sikap Revan yang mendadak berubah.
"Aku tidak apa-apa," sahut Revan susah payah. Bukan sosok Mirna yang Revan, takuti. Tapi masa lalu di antara mereka. Kalau Mirna bersikap profesional pasti tidak ada masalah. Jika sebaliknya, bayangan kegagalan sudah mendominasi pikiran Revan.
Tapi justru dirinyalah yang ditantang untuk bersikap profesional, untuk berbuat yang terbaik. Tak peduli apapun masa lalu di antara mereka. Gagal dan menang itu, ibarat dua sisi mata uang. Jaraknya dekat sekali. Bahkan nyaris tanpa batas.
Merasa dicambuk, semangat Revan timbul lagi. Terlebih sikap Mirna yang seolah tak mengenalnya. Ekspresinya terlalu datar, untuk menunjukkan bahwa mereka pernah saling kenal di masa lalu.
"Mohon perhatiannya sebentar. Kepada seluruh peserta presentasi, kami dari panitia pelaksana, memperkenalkan dulu.Pimpinan perusahaan "Mitra Kita" yang terhormat, Ibu Mirna Astuti. Beliau akan menilai langsung para peserta presentasi kali ini. Silahkan Bu, jika mau memberi sepatah dua kata," tapi Mirna memberi kode untuk lanjut saja.
" Okeh, presentasinya kita lanjut kembali. Kali ini akan menampilkan dari salah satu peserta, yaitu perusahaan Citra Buana. Pak Revan Aditya, silahkan Pak, presentasi di mulai,"
Revan berdiri dengan rasa percaya diri. Dia mengarahkan pandangannya ke segenap peserta untuk menguasai keadaan. Lalu menjelaskan berbagai ide, materi serta gagasan yang akan mereka lakukan jika di beri kesempatan untuk memenangkan tender. Menjadi mitra usaha yang akan berkontribusi penuh untuk mejalin kerja sama yang valid.
Penjelasan demi penjelasan diuraikan Revan dengan gamblang dan penuh rasa percaya diri.
" Selamat Van, kamu memang tetap yang terbaik, bisik Tino. Rossi juga menyalami Revan.
"Sama-sama, semua ini adalah kerja keras kita semua," ucap Revan. Lalu mereka menyimak dan mendengarkan presentasi dari peserta lainnya.
Kegiatan itu baru berakhir ketika matahari kembali ke peraduannya. Pengumuman soal siapa yang menang akan di keluarkan dua minggu kemudian.
"Akhirnya usai juga, sangat melelahkan." Lenguh Rossi seraya mengerakkan tubuhnya mirip orang senam. Untuk melenturkan ototnya yang terasa kaku.
" Kamu langsung pulang, Van? " tanya Tino.
" Iya, kenapa?"
" Kirain punya waktu ke cafe sebentar,"
__ADS_1
" Lain kali saja, lagian aku takut menganggu kalian." Kerling nakal Revan ke arah Rossi. Revan tau kalau antara Tino dan Rossi sepertinya saling menyukai. Bukan sekali dua kali Revan, memergoki mereka saling menatap mesra.
Mendengar godaan Revan, Tino menyikut perut Revan. Revan pura-pura mengaduh kesakitan. Rossi yang tidak mengetahui kalau dirinya, tengah jadi bahan pembicaraan kedua mahkluk lelaki itu, menatap penuh heran.
"Ada apa, Pak Revan?" tanyanya penuh heran.
"Tidak apa-apa, Ros, cuma perutku mendadak sakit saja. Jadi aku tidak bisa ikut kalian ke cafe. Sampai jumpa besok di kantor. Dah...."
" Memang siapa yang mau ke cafe, Pak?" tanya Rossi bingung.
"Tadi aku iseng ngajak Pak Revan, mampir di cafe. Tapi gak sempat katanya, malah nyuruh aku ngajak kamu. Maunyakan kita bertiga, biar seru,"
"Jadi batal ya, acara ke cafenya?" delik Rossi.
"Gak juga sih, kalau kamu mau ayo, bareng,"
" Asyik, siapa takut." Kekeh Rossi lalu menyampirkan tas ranselnya ke bahu. Tino cuma senyum mesem melihat tingkah Rossi. Wanita rekan kerjanya, yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
Sikapnya yang jinak- jinak merpati, kadang membuat pusing Tino. Tapi dunianya kini seakan teralihkan sejak ia mengenal Rossi. Wanita mandiri, yang yang cerdas, dan memiliki karir gemilang di kantornya. Karena itulah mereka selalu jadi satu tim. Setiap kali ada urusan kantor.
Revan berjalan terburu-buru di lobi. Dia harus bergegas pulang, karena hari ini ulang tahunnya Kevin, yang kelima. Ponselnya tadi sengaja di silent, agar tak mengganggu saat dia presentasi.
Begitu ponsel di aktifkan, puluhan notif sudah masuk ke aplikasi berlambang telepon hijau. Semua dari Kevin. Tak sabar menunggu kepulangannya.
"Aaawwuuh!" jerit tertahan dari seseorang yang tertabrak Revan saat di lobi, karena fokus pada ponselnya.
Revan terkejut, melihat siapa yang sosok di hadapannya.
"Mirna?" seru Revan, kaget. ****
__ADS_1