Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 40


__ADS_3

"Abang, mau mandi saja, Dek. Abang sudah makan di luar, tadi ada relasi Abang yang ngajak makan malam."


"Oh," sahut Dara singkat berlalu begitu saja, menyimpan tas kerja suaminya ke kamar. Sikap Dara yang acuh dan tidak seperti biasanya itu berhasil membuat kerutan di kening, Revan. Rencananya yang hendak rebahan sebentar di sofa, urung dia lakukan. Diikutinya langkah istrinya masuk ke kamar.


"Kamu kenapa, Dek?" ujarnya. Dara, menarik napas panjang, menahan gejolak hatinya. Sudah sepikun inikah suaminya, hingga tak peka pada situasi. Bagaimana suaminya bisa bersikap seolah tak merasa bersalah. Karena telah mengabaikan janjinya pada Kevin.


"Abang, sudah pikun atau hanya berpura-pura?" tanya Dara. Sambil berbalik menatap wajah suaminya. Ekspresi wajah Revan yang keheranan, memicu emosi, Dara.


"Maksud kamu apa sih, Dek. Membuat Abang bingung saja."


"Ah, sudahlah." Kibas Dara, kesal. "Abang, belum terlalu tua, untuk menderita pikun," Dara kesal sekali melihat sikap Revan, yang seolah tak bersalah. Padahal sudah jelas, dia melupakan janjinya pada , Kevin. Mana tidak bisa di hubungi pula, seharian ini. Tahu-tahu pulang tidak ada minta maaf, atau basa-basi sama sekali.


"Ih.... Gondok kali, dada ini terasa, kau buat,Bang," umpat Dara kesal dalam hati. Apalagi tadi Dara sempat melihat mobil suaminya di lampu merah.


Dara yang selama ini tak berpikir macam- macam, terhadap Revan. Menganggap bahwa suaminya jujur bekerja untuk keluarganya, kini meragukan semua usaha dan kinerja suaminya. Hanya, saja dia belum mendapat bukti apapun.


"Dek, kamu ini kenapa sih? Kok tiba-tiba kesal, dan menyambut abang seperti ini?" ucap Revan.


"Bang, aku tidak tau mau omong apa lagi. Sikap kamu, ini sangat menjengkelkan." Hentak Dara kesal dengan nada suara naik dua oktaf dari kebiasaannya bicara.


Revan, terlonjak kaget mendengar jawaban, Dara, yang tidak dia duga sama sekali. Jelas dia melihat kemarahan yang terpendam di wajah, Dara, istrinya. Revan, bingung. Kesalahan apa yang telah dia lakukan, sampai istrinya menahan marah seperti itu.


"Aku tidak tau, apakah Abang memang sudah pikun atau berpura-pura. Bagaimana, Abang, bisa setenang ini, pulang kerumah. Tanpa merasa terbebani oleh sesuatu! Sikap Abang benar-benar membuatku, muak!" jerit Dara. "Abang sudah berjanji, pada Kevin untuk ikut hadir dalam perayaan Natalnya. Namun, Abang ingkari janji Abang itu. Trus, seharian Abang tidak bisa kami hubungi. Karena ponsel Abang tidak aktif. Sebenarnya, abang masih peduli, gak sama kami. Kami masih ada artinya gak dalam hidup, Abang!"


"Astaga! Dek, maafkan Abang, dek. Abang, benar -benar lupa. Tadi, Abang sangat sibuk. Abang lupa mengaktifkan kembali ponsel, Abang setelah selesai rapat." Revan meremas rambutnya. Dia memang lupa mengaktifkan ponselnya yang dia gunakan untuk keluarganya. Ponsel yang aktif seharian ini, adalah ponsel untuk rekanan bisnis dan kolega kantornya.

__ADS_1


Revan memeriksa ponselnya, dan benar saja puluhan notif dan panggilan Dara terlihat di layar belambang telepon hijau itu. Oke, dia boleh saja telah lupa mengaktifkan ponselnya itu. Lalu, haruskah juga lupa janjinya pada, Kevin?


Padahal Kevin sudah wanti-wanti sebelumnya, mengingatkan. Pantaslah, Dara begitu marah. Pasti karena Kevin sudah sangat kecewa karena papanya telah melupakan, janjinya.


"Maafkan, Abang, Dek. Abang, benar-benar lupa," ucap Revan lirih, dia merasa sangat menyesal.


"Ah, Abang, benar-benar membuatku sangat, kecewa," sahut Dara, ketus. Menarik selimutnya hingga sebatas leher. Lalu memunggungi suaminya tidur. Sebernarnya, Dara, lebih kesal karena tidak bisa mengungkapkan apa yang dia lihat di lampu merah, tadi.


Karena tak punya bukti!


Selebihnya, Dara, juga ragu. Karena gerakan yang cukup cepat, dan sudah gelap pula.


*****


Pagi harinya seperti biasa, Dara, menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, Kevin. Wajah Kevin masih nampak kecewa akibat semalam, karena papanya tidak hadir dalam perayaan Natal di sekolahnya. Terbukti, wajah Kevin di tekuk, cemberut. Dia tidak banyak bicara seperti kebiasaannya itu.


Padahal, nasinya belum habis separuh.


"Kevin, benar-benar marah ya, Dek?"


"Gak, mungkin saja masih ngantuk," sahut Dara ketus, menjawab ucapan suaminya. Hati Dara ikutan dongkol dengan ulah suaminya, yang menganggap remeh janjinya pada, Kevin. Seharusnya dia minta maaf, karena telah ingkar janji. Apa sesulit itu minta maaf pada anak sendiri, karena yang bebohong sudah jelas siapa.


Bukannya minta maaf, atau merasa bersalah. Suaminya malah bersikap seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa. Seharusnya dia bujuk, Kevin, pagi-pagi tadi. Saat bangun tidur, malah suaminya sudah sibuk dengan ponsel ditangannya.


Saat Kevin, menghentikan acara makannya, juga tak berusaha membujuk, Kevin. Malah bertanya bodoh, apa Kevin benar marah atau tidak. Dongkol sekali hati, Dara. Seperti bukan suaminya saja, kok tiba-tiba acuh begitu.

__ADS_1


"Kevin gak sekolah, ya, Dek. Kok belum berkemas begitu," ucap Revan heran, saat menyudahi sarapannya.


"Makanya, Bang. Sesibuk apapun, Abang di luar sana, tolong jangan abaikan keluargamu. Apalagi, anakmu cuma, semata wayang. Tapi, kesibukan Abang, sudah keterlaluan sibuknya."


"Lha, Adek kok ngomongnya seperti itusih? Abang capek-capek kerja untuk kalian juga," seru Revan heran.


"Pokoknya Abang itu udah berubah akhir-akhir ini, Abang sudah tidak seperti dulu lagi," sahut Dara ketus.


"Kamu ini, Dek. Jangan mikir yang gak-gaklah sama, Abang. Abang, benar-benar sibuk, sejak menangani proyek baru. Abang dipercayakan mengelolanya."


"Proyek baru? Selama ini, Abang, tidak pernah cerita apapun tentang pekerjaan, Abang. Tiba-tiba saja, Abang, cerita tentang pekerjaan barur, Abang. Apalagi yang, Abang, sembunyikan dari kami?" selidik Dara, kaget. Selama ini suaminya selalu cerita soal pekerjaannya. Permasalahan apapun yang ia hadapi di kantor, akan menjadi bahan cerita mereka menjelang tidur.


Lantas kenapa suaminya tidak pernah cerita, kalau tengah menagani proyek baru? Apa yang coba disembunyikan suaminya dengan pekerjaannya ini?


"Mengapa selama ini, Abang tak pernah cerita?"


"So....Soal itu, Abang pikir, tak perlulah Abang, cerita," ucap Revan gugup.


"Kenapa, Bang?"


"Tidak apa-apa, sebenarnya. Abang, merasa tak perlu saja melibatkanmu, Dek. Abang, tak ingin membebani kamu dengan pekerjaan, Abang."


"Tidak ingin melibatkan kami tapi, Abang, telah mengabaikan kami. Secara tidak langsung kami telah terimbas, oleh ketidak jujuran, Abang. Pola kerja, Abang, yang berubah. Waktu, Abang yang lebih banyak tersita dengan pekerjaannya.Sampai Abang, lalai janji Abang pada Kevin. Abang, sebut itu tidak, apa-apa!" sentak Dara lepas kontrol. Emosinya benar-benar memuncak.


"Lantas maumu, apa sekarang, hah!" sergah Revan terpicu emosi.

__ADS_1


Mata Dara membulat sempurna, mendengar ucapan suaminya. ***


__ADS_2