Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 47


__ADS_3

Siang itu, Dara dan Kevin sedang jalan- jalan di Mall. Sekalian membeli peralatan sekolah Kevin, karena Kevin tahun ini masuk sekolah dasar.


Saat mau pulang, Kevin melihat seorang badut sedang membagi-bagi selebaran.


"Ma, itu ada badut. Kita samperin yuk." Kevin bergegas lari ketika Dara menggangguk tanda setuju. Dari jarak dua puluh langkah, Dara menyusul langkah Kevin. Membiarkan Kevin bercanda dengan sang badut sepuasnya.


Setelah beberapa menit, Kevin mengajak mamanya untuk pulang. Tapi sang badut memanggil nama Kevin. Kevin heran, dan berbalik ke arah badut. Sementara sang badut membuka penutup kepalanya.


"Apa khabar Kevin?" Mata Kevin melotot, kepalanya mendongak kearah sang badut. Mulutnya menganga, seolah terhipnotis. Mereka-reka dimana pernah bertemu dengan sang badut.


"Sudah lupa sama, om, ya?"


"Eh, om Yudi, ya?" beliak Kevin serasa tak percaya.


"Hooh, ternyata masih ingat juga dengan, Om." Yudi mengusap kepala Kevin dengan lembut. Kevin membalas dengan memeluk Om Yudi.


Dara tersenyum dan terharu melihat, betapa Kevin putranya sangat senang bertemu badut itu.


"Halo, selamat siang, Bu," sapa Yudi penuh hormat.


"Selamat siang, juga," sambut Dara ramah.


"Sepertinya, Kevin habis ngeborong, ya?"


"Eh, Iya, Om. Kevin 'kan mau sekolah SD, beli seragam dan sepatu, Kevin."


"Oh, gitu ya. Bagaimana kalau Om traktir, minum di sana?" Om Yudi menunjuk sebuah kafe, di seberang jalan Mall.


Kevin menatap Dara, memohon jawaban dari mamanya. Sejenak, Dara juga bimbang, menerima atau menolak tawaran itu.


Namun saat melihat wajah Kevin, yang sepertinya ingin menerima tawaran itu, membuat Dara mengangguk setuju.


Kevin melonjak girang, saat mamanya memberi ijin. Dengan langkah yang sengaja dia buat panjang, mengikuti langkah Om Yudi. Kevin menyeberang jalan seraya lengannya dipegangi Om Yudi.


Dara, mengikuti dari belakang. Dalam diam dia merasa heran bagaiamana putranya Kevin bisa seakrab itu, pada Om Yudi. Padahal ini masih pertemuan mereka yang kedua. Bisa-bisanya dia masih ingat dengan kejadian di taman beberapa bulan yang lalu.


"Hem, Kevin mau pesan apa? Es krim coklat atau vanila?"


"Kevin mau ice cream coklat, Om!" seru Kevin senang sekali dengan tawaran Om Yudi.


"Oke, Om pesan dulu, ya. Kalau Mamanya Kevin, biasanya suka rasa apa?" bisik Om Yudi pada Kevin, tapi cukup terdengar jelas di telinga, Dara.

__ADS_1


"Sama dengan Kevin, Om. Rasa coklat," jawab Dara, tersenyum lucu. Kevin tertawa mendengar jawaban mamanya.


"Ih, Mama, ikutan Kevin manggil Om, sama Om Yudi," gelaknya lucu.


"Tidak apa-apa, Om malah senang," gelak Om Yudi membuat tawa ketinganya berderai.


Tidak jauh dari tempat duduk Kevin , Revan tengah memandang ketiganya dengan tatapan curiga.


Tanpa sengaja, Revan melihat Kevin dan Dara saat menyeberangi jalan, menuju sebuah kafe, yang menjual ice cream.


Rasa curiga dan penasarannya, membuat dia menguntit anak dan istrinya. Entah siapa lelaki berpakaian badut itu, dan bisa-bisanya bersama anak dan istrinya siang ini.


Seperti ada sebongkah batu menimpa dadanya, saat melihat betapa akrab anak dan istrinya dengan lelaki itu.


Apakah Dara telah selingkuh selama ini dibelakangnya. Dengan lelaki badut itu?


Ingin sekali Revan menghampiri mereka dan menghajar sekalian wajah lelaki yang bersama istrinya itu. Rasa cemburu dihatinya sudah sampai di ubun-ubun.


Namun, saat ingat kelakuannya akhir- akhir ini, yang membuat dingin hubungan dengan istrinya. Membuat Revan, tak memiliki kekuatan.


Belum lagi saat melihat, pandangan Kevin yang begitu bahagia. Sesuatu yang telah lama tidak ia lakukan, berkumpul dengan keluarganya.


BUkankah dia yang telah menghianati pernikahannya? Jatuh pada lobang yang sama dengan orang yang sama pula. Katakanlah kesalahan pertama karena dia khilaf.


Lantas kenapa dia tidak menghindar, saat untuk yang kedua kalinya? Bukankah itu pilihannya? Dia sadar betul saat menentukan pilihannya itu. Dia tau apa yang akan terjadi saat kesalahan itu terulang lagi.


Apapun dalihnya saat itu, itu tidak akan memurnikan namanya. Nyatanya dia sudah berhianat. Bahkan apa yang akan terjadi, seandainya Mutia tidak menghilang?


Mungkin saat ini dia juga pasti tengah berusaha menggoda perempuan itu. Bukankah hatinya saat itu sudah tergoda oleh pepsona seorang Mutia? Tiba-tiba saja perempuan itu menghilang, menghancurkan hubungannya dengan Mirna.


Revan masih saja terus menyaksikan keakraban itu.


Astaga!


Mau-maunya istrinya Dara, menerima suapan dari lelaki badut itu? Kevin putranya malah tetawa bahagia. Apa- apaan itu.


Pikiran waras Revan mendadak hilang. Sekali sentak dia berdiri dari kursinya. Menghampiri meja dimana Dara dan Kevin berada.


"Dara, apa yang kamu lakukan itu?!" sorot mata cemburu jelas terpahat disana. Membuat Dara dan Kevin kaget begitu juga Om Yudi.


"Eh, papa juga disini, ya? Ayo duduk, Pa. Mama menang taruhan jawab teka‐teki!" jelas Kevin polos.

__ADS_1


Om Yudi, memang membuat tebak- tebakan. Awalnya untuk Kevin saja. Tapi karena Kevin tidak bisa menjawab dilemparnya sama mamanya. Meminta bantuan. Hingga akhirnya Dara jadi ikut, bermain dan bisa menebak.


Konyolnya, pemenang taruhan disuapi makan ice cream oleh sang pembuat tebakan. Yakni, Om Yudi sendiri.


Revan merasa wajahnya memerah karena malu, telah menduga yang bukan- bukan. Jelas dia sudah salah paham dengan pikiran kotornya barusan.


"Papa, kok bisa menemukan kami disini?"


"Kebetulan saja, Papa juga mau beli Ice cream untuk, Kevin," bohongnya. Padahal dia tadi tak sengaja melihat mereka menyeberang di jalan.


"Bukannya baru kemarin, Abang ke luar kota. Kok, balik secepat itu, batal ya, bisnisnya?"


"Iya, batal. Pertemuannya diundur," jawab Revan sekenanya.


"Kenalkan, saya Yudi. Teman Kevin." Yudi berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mau tidak mau, Revan mengulurkan tangan itu.


Saat itulah Yudi melihat wajah Revan dengan jelas. Tapi lupa dimana mereka saling jumpa atau cuma dirinya yang pernah melihat Revan di suatu tempat.


"Sepertinya wajah Anda, tidak asing. Tapi saya lupa dimana pernah melihat anda." Wajah Revan juga mendadak pias.Saat melihat dengan jelas siapa orang dihadapannya.


Revan jelas tidak lupa, karena Yudi adalah tetangga Mirna. Lelaki yang pernah hampir dia tabrak, saat memasuki kawasan rumah, Mirna.


Mereka ujungnya berkenalan dan dia mengaku sebagai suaminya, Mirna!


"Oh, saya sudah ingat! Kita pernah bertemu dalam suatu pertemuan. Ah, iya benar, saya sudah ingat!" sindir Yudi. Membuat wajah Revan semakin pucat.


"Papa dan Om Yudi, sudah saling kenal, ya?"


"Eh, Iya, Papa sudah kenal dengan Om Yudi," ucap Revan dengan suara tercekat di leher. Kevin kurangnjelas mendengarnya sehingga dia ulang lagi.


"Maksud Papa, sudah lama kenal Om Yudi, gitukah?" Revan menggangguk.


Apes sekali dia hari ini.


"Ayo, kita pulang, Papa mau ambil pesanan Papa dulu," alih Revan. Padahal dia tidak memesan apa-apa. Hanya hendak mencari ruang untuk bernapas lega sejenak.


Rasanya, paru-parunya bermasalah sejak tadi.


"Kevin gak mau coklat lagi, Pa. Udah kenyang," tolak Kevin halus.


"Ya, udah gakpapa. Papa batalkan saja dulu." Revan melangkah, menjauh. Pura- pura mendekati tempat pemesanan. ***

__ADS_1


__ADS_2